Home / Narasi Islam / Ekonomi / Ekonomi Islam Menjadi Tren Dunia

Ekonomi Islam Menjadi Tren Dunia

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (dainikpurbokone.net)
Ilustrasi. (dainikpurbokone.net)

dakwatuna.com – Sistem ekonomi Islam dilandasi oleh aqidah Islam yang sempurna. Di mana sistem ekonomi Islam berasal dari Allah SWT, yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Aqidah Islam sendiri adalah aqidah yang menyeluruh, memuaskan akal, menentramkan jiwa dan sesuai dengan fitrah manusia. Karena itu pada hakikatnya peraturan yang terpancar dari aqidah Islam seperti sistem ekonomi Islam memiliki karakter yang khas dan manusiawi.

Menurut Yusuf Qardhawi, ekonomi Islam memiliki tiga prinsip dasar yaitu tauhid, akhlak, dan keseimbangan. Inilah yang membuat ekonomi Islam dilirik oleh dunia, baik negara muslim maupun negara non muslim. Pertama melihat dari segi prinsip sudah dijelaskan di atas bahwa ekonomi Islam berasal dari Allah SWT yang telah tertulis dalam Alquran. Yang mana aqidah di sini bukan hanya sekedar pelengkap atau nama saja melainkan benar untuk menyejahterakan manusia. Kemudian akhlak, dalam ekonomi Islam tentu seluruh peraturan dan kebijakan harus melihat dari segi aspek akhlak Islam seperti melarang adanya kecurangan, spekulasi dan akhlak-akhlak individualis yang hanya mementingkan diri pribadi dan mengabaikan etika ekonomi sehat yang menyejahterakan rakyat.

Contohnya prinsip kehati-hatian dalam Islam yang melarang segala bentuk investasi pada hal-hal yang bersifat spekulatif dan tidak jelas, mengingatkan investor kepada prinsip ethical investing. Adapun larangan Islam untuk memakan riba telah mengembalikan hakikat investasi pada konsep risk sharing, bukan risk transfer.

Selanjutnya bisa kita lihat sukuk, salah satu instrumen ekonomi Islam yang sedang mendunia saat ini dan menjadi pilihan bagi negara-negara manapun di seluruh dunia. Sukuk dipandang telah mengembalikan keseimbangan (financial balance), yakni nilai uang yang sungguh merefleksikan nilai aset riil. Ini sesuai dengan QS Al-Baqarah: 275 di mana dijelaskan bahwa ekonomi Islam adalah perekonomian yang berbasis sektor riil. Berbeda dengan ekonomi kapitalis yang menjadikan sektor moneter sebagai tulang punggung perekonomian yang padahal di sinilah terjadi banyak spekulasi-spekulasi hingga terjadi kecurangan dan ketidakseimbangan perekonomian.

Dalam ekonomi Islam kepemilikan individu dibatasi oleh kepemilikan negara dan kepemilikan umum. Individu tidak diperbolehkan memiliki harta yang terkategori kepemilikan negara dan umum. Tanpa aturan kepemilikan dalam Islam, pertumbuhan disektor riil sendiri tidak akan memiliki dampak positif terhadap kesejahteraan masyarakat secara adil. Ini disebabkan hasil-hasil ekonomi dan sumber daya terfokus kepada pemilik modal. Sebaliknya semakin didorong pertumbuhan ekonomi, eksploitasi terhadap masyarakat dan sumber daya alam semakin besar.

Ketimpangan dan masalah distribusi kekayaan merupakan penyakit kronis ekonomi kapitalis. Menurut Human Development report, 20% penduduk paling kaya menghasilkan ¾ kekayaan dunia, sedangkan 40% penduduk paling miskin hanya menghasilkan 5% pendapatan dunia. Dalam laporan FAO menyebutkan bahwa sekitar enam juta anak meninggal setiap tahunnya dikarenakan kelaparan. Hal ini diakibatkan dari kurangnya pemerataan distribusi kekayaan dan tidak diaturnya hak kepemilikan yang menyebabkan Negara menjadi mandul. Permasalahan kelaparan, kematian dan kesenjangan sosial semakin meningkat terutama bagi negara-negara berkembang. Diperkirakan kematian terbanyak dialami daerah Pasifik Barat (264 ribu jiwa), Cina (248 ribu jiwa), dan India (136 ribu jiwa).

Pergerakan sektor riil saat ini masih dikuasai segelintir orang saja khususnya Multinasional Corporation. Multinational Corporation memonopoli perekonomian di seluruh dunia dari hulu ke hilir hingga asetnya melebihi PDB sebuah negara. Dengan mendorong sektor riil dunia berdasarkan prinsip ekonomi Islam maka akan mencapai keadilan karena setiap pertumbuhan sektor riil diimbangi dengan distribusi kepemilikan yang adil sehingga masyarakat memiliki kebebasan untuk mendapatkan hak-haknya sebagai warga negara dalam bidang ekonomi.

Hal yang paling menonjol dalam ekonomi Islam adalah di mana ekonomi Islam menjunjung tinggi harakat dan martabat manusia dan mengutamakan keadilan. Sekarang dan ke depannya saya yakin ekonomi Islam akan menjadi dan terus menjadi tren dunia. Dikarenakan manusia sudah lelah dan bosan akan ekonomi kapitalis yang sebenarnya banyak merugikan dan mementingkan diri sendiri. Manusia akan kembali kepada fitrahnya sebagai makhluk sosial dan tidak akan merasakan kepuasan dengan hanya terus menumpuk harta karena tidak ada unsur keberkahan di sana.

Contoh kecil ekonomi Islam menjadi tren dunia saat ini salah satunya dari sukuk. Dilansir dari opini Dian Handayani, Saat ini negara-negara dunia terkecuali negara non-Muslim, saling berlomba untuk menjadi Islamic Financial hub di wilayah regional masing-masing. Salah satunya adalah Inggris yang memang sejak lama telah memperlihatkan dukungan nyata bagi perkembangan ekonomi Islam dinegaranya, secara tegas menyatakan bahwa penerbitan sukuk perdana yang dilakukan 2014 silam merupakan bagian dari rencana jangka panjang mereka dibidang ekonomi untuk menjadikan Inggris sebagai pusat sistem keuangan dunia serta pusat keuangan Islam barat. Begitupun dengan negara-negara lainnya seperti Singapura, Hong Kong dan negara lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa ekonomi Islam semakin diminati dan menjadi tren dunia.

Namun, tujuan dari ekonomi Islam sendiri bukan hanya sekedar menjadi tren dunia saja, lebih dari itu melihat fenomena hari ini lebih dari 26.000 setiap harinya masyarakat dunia mengalami kelaparan yang berujung pada kematian. Kelaparan dan kematian ini bukan disebabkan karena ketidakcukupan sumber daya alam, melainkan dikarenakan sistem ekonomi yang eksploitatif dan serakah yang menyebabkan timpangnya distribusi kepemilikan. Dan ekonomi Islam hadir bukan hanya menjadi solusi untuk ketimpangan ini, namun ekonomi Islam hadir dan menjadi sebuah pilihan untuk keadilan dan kesejahteraan dunia. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Manusia sederhana yang lahir di Brebes 16 Desember 1995. sekarang menempuh kuliah di STEI SEBI Semester 6. Ingin tetap menulis hingga akhir hayat.

Lihat Juga

Rekonsiliasi Tidak Gratis, Israel Jamin Keamanan Arab Terhadap Ancaman Iran

Figure
Organization