Home / Berita / Opini / #KamiTidakTakut

#KamiTidakTakut

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Situasi jalan pos polisi Jalan Thamrin Jakarta Pusat, seketika pasca kejadian teror di kawasan tersebut, Kamis (14/1/2016). (twitter.com/bintangcomID)
Situasi jalan pos polisi Jalan Thamrin Jakarta Pusat, seketika pasca kejadian teror di kawasan tersebut, Kamis (14/1/2016). (twitter.com/bintangcomID)

dakwatuna.com – Beberapa hari yang lalu tepatnaya tanggal 14 Januari 2016 telah terjadi suatu peristiwa yang menggemparkan Indonesia khususnya Ibukota Jakarta yaitu peristiwa meledaknya bom dan baku tembak di Jalan Thamrin. Terdapat beberapa bom yang meledak di sekitar kawasan Sarinah dan Starbucks. Bahkan, dari meledaknya bom tersebut sampai menimbulkan beberapa korban baik meninggal dunia maupun korban luka. Baku tembak antara pelaku dan polisipun tidak dapat terhindarkan. Dari baku tembak ini, juga menimbukan beberapa korban jiwa dan luka-luka, baik warga sipil, aparat bahwan WNA.

Bagaimanapun juga, perilaku menghilangkan nyawa orang lain dengan cara tersebut ialah suatu perbuatan yang tidak dapat dibenarkan dengan alasan apapun. Betapa banyaknya korban jiwa dan korban luka yang tidak bersalah akibat tindakan tersebut. Sungguh menciderai nilai-nilai keadilan. Tidak ada satupun agama yang lurus akan menghalalkan pembunuhan yang membabi buta tanpa ada dasar yang jelas. Apalagi jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Oleh karena itu, tidaklah pantas menuduh suatu agama menjadi sumber munculnya tindakan kriminal tersebut, yang harus diakui bahwa agama Islam menjadi agama yang disudutkan atas kasus ini.

Dalam suatu acara TV ternama di Amerika Serikat, Ben Afflect, pemeran film Batman, terlibat perdebatan yang cukup panas dengan Bill Maher, komedian satir asal Amerika. Bill Maher mengatakan “Islam agama yang dijalankan seperti organisasi mafia. Kalau kamu salah omong, menggambar sesuatu yang terlarang, atau menulis buku yang keliru, kamu bakal dihabisi.” Mendengar ungkapan seperti itu, Ben Afflect langsung naik darah dengan mukanya yang memerah dan menjawab, “Kenapa kalian tidak memperhitungkan satu miliar muslim yang tidak fanatik, tidak menyiksa perempuan, ingin bersekolah, dan makan roti isi yang sama seperti kalian makan?” imbuh Affleck dengan nada suara setengah berteriak.

Mungkin memang benar, pelaku teror di Jalan Thamrin ialah beragama Islam. Namun, bukan berarti seluruh umat Islam memiliki pemahaman yang sama dengan mereka. Seperti kata Ben Afflect, terdapat jutaan muslim yang menjalankan ibadahnya dengan baik dan tidak pernah melakukan tindakan-tindakan yang melanggar hukum. Bahkan, betapa banyaknya umat Islam yang justru memberikan hal-hal yang positif di dalam masyarakat. Jikalau ada beberapa orang dari kalangan umat muslim yang melakukan tindakan kriminal, maka hal tersebut tidak bisa dijadikan dasar untuk menilai umat muslim secara keseluruhan. Apakah hanya karena seorang pejabat di suatu instansi melakukan korupsi maka kita dapat mengatakan bahwa instansi tersebut ialah sumber korupsi di negeri ini ? Pun begitu dengan Islam, tidak bisa mengatakan bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan radikalisme hanya gara-gara perilaku segilintir orang saja.

Hastag #KamiTidakTakut menjadi trending topic dalam kasus bom sarinah ini. Hashtag tersebut menjadi kode untuk menunjukkan bahwa rakyat Indonesia, khususnya Jakarta, tidak takut terhadap serangan teroris. Sungguh suatu kegiatan yang sangat mulia karena akan membangkitkan rasa optimis bagi korban dan seluruh rakyat Indonesia. Namun, pada kesempatan kali ini saya juga ingin mengajak bahwa hastag #KamiTidakTakut juga digunakan untuk membangkitkan rasa optimis bahwa tidak semua umat muslim setuju terhadap segala tindakan radikalisme yang jauh dari nilai ketidakadilan. Kami tidak takut menjadi seorang muslim yang taat dan berprestasi karena kami yakin Islam tidak mengajarkan tindakan kekerasan yang tidak berperi-kemanusiaan. Kami tidak takut untuk belajar Islam lebih dalam dan bermanfaat bagi Indonesia karena kami yakin Islam adalah agama yang penuh cinta dan kedamaian.

Mana yang lebih baik antara remaja yang banyak menghabiskan uangnya untuk berfoya-foya menghabiskan uang dari orang tuanya ataukah remaja yang tekun belajar kitab sucinya ? Mana yang lebih baik antara pemuda yang hobi mengunjungi tempat-tempat hiburan malam dengan pemuda yang hobi mengunjungi masjid untuk beribadah dengan baik ? Jangan sampai kejadian bom sarinah ini menjadi legal standing untuk mengajukan gugatan bahwa menjadi seseorang yang taat beragama ialah pintu masuk radikalisme. Kurang bijaksana kiranya menjadikan tragedi teror di Jalan Thamrin sebagai dasar hukum melarang seseorang belajar agama dengan lebih giat lagi.

Memang benar, sebagian pemuda-pemuda yang belajar agama Islam berprilaku buruk terhadap keluarganya sendiri. Memang benar, beberapa orang yang tekun mengikuti pengajian justru memiliki watak yang keras dengan orang-orang yang sekitarnya. Namun juga jangan dilupakan pemuda-pemuda yang tekun beribadah sekaligus dapat menyelesaikan studinya dengan predikat sangat memuaskan disaat teman-teman sepantarannya masih berkutat dengan skripsi serta mencari pencerahannya di diskotik dan club-club malam. Jangan pula tidak dianggap keberadaan orang-orang yang selalu belajar agama serta dengan begitu sabarnya mengurusi orang tuanya dengan penuh kasih sayang di saat orang-orang lain mulai melupakan orang tuanya ketika sudah memiliki penghasilan yang tinggi.

Mempelajari agama dengan baik memang bukanlah perkara yang mudah. Karena memang kenyataannya terdapat beberapa orang yang justru menjadi pribadi yang buruk setelah “mengira” telah belajar agama dengan baik. Namun, solusinya bukanlah melarang seseorang untuk menjadi pribadi yang taat beribadah. Solusinya ialah mengarahkan dan mendampingi orang-orang terdekat kita untuk dapat menjadi pribadi muslim yang baik. Dan hal tersebut tidak dapat dilakukan tanpa terlebih dahulu menjadi pribadi yang baik dalam beragama pula.

Terorisme bukanlah milik suatu agama manapun. Sangat tidak adil jika menyalahkan ajaran suatu agama akibat tragedi bom di Jakarta. Bisa jadi malah terdapat hidden agenda dibalik tragedi ini. Betapa banyaknya muslim yang berbudi pekerti baik serta berpresti, malahan menjadi pemimpin-pemimpin di negeri ini. Memang benar, beberapa oknum umat muslim salah dalam mengaplikasikan ajarannya, namun bukan berarti hal tersebut terjadi di semua umat muslim. Tagar #KamiTidakTakut adalah suatu bentuk rasa optimis yang didengung-dengungkan oleh netizen di Indonesia dalam mengahdapi dampak trauma kasus teror di Jakarta. Hal tersebut adalah suatu tindakan inspiratif yang sangat bermanfaat. Namun, tidak ada salahnya juga menggunakan tagar tersebut untuk menyebarkan rasa optimis bahwa menjadi seorang yang taat beragama bukanlah suatu kesalahan yang perlu dihindari. #KamiTidakTakut untuk menjadi seorang muslim yang taat dan berprestasi. #KamiTidakTakut belajar agama dengan lebih giat dan menjadi pribadi yang bermanfaat bagi masyarakat. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Mahasiswa Master Fakulti Undang-Undang Universiti Kebangsaan Malaysia.

Lihat Juga

Ingat Allah Hatimu Akan Tenang