Topic
Home / Berita / Opini / Adu Domba Tangan Tak Terlihat

Adu Domba Tangan Tak Terlihat

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (pgcabs.deviantart.com)
Ilustrasi. (pgcabs.deviantart.com)

dakwatuna.com – Tanggal 14 Januari 2016 awal bulan di tahun ini, kembali tanah air kita lewat Ibu Kota negara Republik Indonesia mengalami sebuah peristiwa yang tak terduga kejadiannya. Penyebab kekacauan tersebut tak lain dan tak bukan dikarenakan adanya ledakan bom yang mengguncang sebuah pos polisi dan pusat perbelanjaan di jalan protokol kota Jakarta.

Serentak arus media sosial pun semakin liar lalu lalang informasi seputar pemberitaan kronologis hingga siaran real time kejadian pasca kehancuran dari media cetak, elektronik, hingga siaran televisi. Tak hanya sampai di situ pemberitaan yang gencar pun selaras dengan adu argumentatif tentang mekanisme kronologis maupun motif kejadian dari para analisator dadakan. Dengan bermodalkan link yang di share mereka mantab dan pasti saling hujat sesama saudara sebangsa.

Mungkin adu argumentatif tersebut tak jua salah seluruhnya, dikarenakan pada tanggal tersebut, 14 Januari pun bertepatan dengan sebuah peristiwa penting lainnya yaitu divestasi saham perusahaan multinasional raksasa asal negeri paman Sam PT. Freeport Indonesia. Berdasarkan aturan, Freeport diharuskan untuk melakukan divestasi saham sesuai dengan peraturan pemerintah (PP) Nomor 77 tahun 2014 tentang kegiatan usaha pertambangan mineral dan batu bara. Freeport wajib untuk melepas 30 persen sahamnya hingga tahun 2019. Dan pada tanggal 14 tersebut adalah batas akhir penawaran divestasi saham kepada pemerintah republik Indonesia (viva.co.id).

Jika dicermati memang kebetulan permasalahan yang dihadapi oleh pemerintah Indonesia dengan perusahaan ini memang selalu saja menimbulkan beragam polemik yang berdampak luas hingga merambah ke kancah arena sosial, ekonomi hingga politik Indonesia. Tak lekang di ingatan kita bahwa isu Freeport kembali sukses mengadu domba antara elit politik yang mencuat lewat “papa minta saham”, adu komentar sesama bangsa di sosial media, hingga gonjang-ganjing kegelisahan investor di pasar saham.

Bak jodoh yang kembali CLBK (cinta lama bersemi kembali) peristiwa adu domba di dalam negeri ini kembali terjadi dan kali ini momen itu bertepatan waktunya Bom Sarinah, dan divestasi saham. Saling kait mengait peristiwa pun lancar jaya menebar ke segala penjuru negeri melalui berita konvensional hingga ganasnya informasi yang tersebar di media sosial.

Saling menyalahkan lewat postingan pun tak dapat terhindarkan, di satu pihak orang menaruh simpati dan mengaitkan kepada jaringan teroris yang selalu saja dituduhkan kepada para orang alim yang taat, dan di lain pihak sekelompok orang memberikan himbauan untuk tidak terpancing oleh pengalihan isu divestasi saham Freeport.

Melihat hal ini tentu menjadi catatan suram negeri ini karena, kita telah berhasil di adu domba lewat peristiwa. Dan lagi-lagi media menjadi corong “santetnya”. Namun dibalik hebohnya berita yang wara-wiri beradu update tentu ada tangan-tangan tak terlihat ikut campur mengadu domba sesama bangsa Indonesia. Menjadi sasaran empuk tentu saja adalah umat Islam penduduk mayoritas negeri kita Indonesia dan bangsa Indonesia pada umumnya.

Hari ini penjajah pun memiliki strategi terampuh guna menghancurkan bangsa Indonesia melalui strategi adu domba lewat peristiwa. Secara real mungkin benar, bahwa jatuhnya korban nyawa tak terhindarkan di satu pihak nuansa asing pun kental menebar cengkeramannya lewat beberapa skema. Tarik ulur perjanjian beberapa perusahaan binaan asing, gerak cepat simpati hingga menawarkan bantuan untuk memberantas para ‘terduga” teroris yang tentu saja tak gratis menjadi sebuah dinamika bumbu penyedap adu domba tersebut.

Sejarah telah mencatatkan bahwa pemberontakan yang terjadi di beberapa negara-negara Asia seperti konfrontasi duo Korea, perang saudara di Vietnam, pergolakan di semenanjung arab, hingga pemberontakan yang ada di dalam negeri seluruhnya bermula dari adu domba bangsa penjajah yang mayoritas berasal dari barat. Hal ini bukanlah isapan jempol semata muncul sosok mantan mata-mata Amerika Serikat Edward Snowden yang membocorkan informasi rahasia melalui Wikileaks, tentang spionase dunia yang dilakukan oleh negeri paman sam tersebut di seluruh dunia. Bahkan kepanjangan tangan negeri tersebut di wilayah Asia tenggara juga kentara lewat negeri tetangga “kanguru” yang ikut melakukan aksi mata-mata terhadap pemimpin bangsa Indonesia.

Manakala bangsa kita tetap terlena dan masih sibuk untuk saling salah menyalahkan hingga adu hujat yang masih merajalela niscaya negeri ini tinggal menunggu detik-detik kehancuran. Saling sikut di antara dalam beradu informasi hingga adu jotos dikarenakan tak sepaham pemahaman berita yang simpang siur perlu untuk ditransformasikan kepada saling crosschek dan berbaik sangka terhadap sesama warga negara.

Karena tanpa adanya persatuan yang mengakar dan ikhlas tentu fondasi kemandirian bangsa tidak akan terwujud. Menyelamatkan bangsa tidaklah melulu bergantung kepada tendensi militer, namun semangat untuk saling menahan diri dari saling olok dan hujat di media sosial menanggapi informasi yang ada juga merupakan bagian dari perjuangan kita mempersatukan bangsa ini.

Apabila persatuan dan saling percaya di antara sesama warga negara Indonesia telah terpupuk niscaya bangsa ini akan lebih tangguh menghadapi gejolak apa pun dari luar. Gejolak politik, hukum, keamanan, ataupun ekonomi tak sulit untuk dilewati selama persatuan itu ada secara nyata. Karena persatuan dalam keragaman adalah Bhineka Tunggal Ika. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Mungkin tulisan hanya kan menjadi pajangan, namun dengan tulisan kita mampu mengekspresikan keresahan dan harapan. melalui tulisan pun kita mampu menciptakan perubahan yang akan terekam dalam keabadian. Seorang biasa yang berusaha untuk terus belajar dan melengkapi kekurangan

Lihat Juga

Bom Teror, DPR: Negara Harus Melindung Keselamatan Rakyatnya

Figure
Organization