Topic
Home / Pemuda / Mimbar Kampus / Perpeloncoan Terselubung dalam Pembangunan Karakter Mahasiswa Baru Di Ranah Pengkaderan Lembaga Kampus

Perpeloncoan Terselubung dalam Pembangunan Karakter Mahasiswa Baru Di Ranah Pengkaderan Lembaga Kampus

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (majalahouch.com)
Ilustrasi. (majalahouch.com)

dakwatuna.com – Berbicara tentang mahasiswa, tentunya tak akan lepas dengan yang namanya acara penyambutan yang dikemas dalam bentuk acara “Percepatan Adaptasi Mahasiswa Baru” atau yang dikenal dengan ospek maupun pengkaderan. Baik tataran Universitas, Fakultas, hingga Jurusan pun silih berganti secara estafet menyelenggarakan acara tersebut. Baik sifatnya legal maupun non legal tanpa mendapat bersetujuan birokrat kampus, praktik kegiatan percepatan adaptasi tetap berjalan demi sebuah tradisi turun temurun.

Acara ini diadakan karena siswa yang telah menjadi mahasiswa memasuki sebuah fase peralihan dan diperlukan sebuah skema miniatur nyata, di mana kita akan dilatih untuk mengenal berbagai hal, terutama dalam hal menyesuaikan diri pada lingkungan pendidikan yang baru. Di acara ini juga tak sedikit muatan nilai yang bermanfaat bagi para mahasiswa baru seperti nilai kedewasaan pemikiran, Tanggung jawab, kekompakan angkatan dan berbagai faktor lain yang memang dikhususkan untuk menjadikan kita Lebih dalam arti (Kempampuan, Ilmu, Pemikiran, Kedewasaan, tanggung jawab, dll).

Sebuah kegiatan yang dikonsep dan bertujuan baik ini tentunya memiliki celah negatif apabila tidak didukung dengan konsistensi niat baik para pelakunya. Jika celah ini tak dibarengi dengan niat yang baik maka akan mengakibatkan hal-hal yang negatif hingga berujung pada kondisi tak layak muncul dalam dunia pendidikan.

Tak jarang sebuah ospek penyambutan mahasiswa baru yang telah dibuat dengan baik oleh para panitia acara, akan kacau balau manakala datang sebuah ujian yang bernama mahasiswa senior tersebut “turun gunung” melibatkan diri di hari H acara berlangsung tanpa mengerti mekanisme acara. Gaduh tak terkondisi bisa saja terjadi tanpa mampu dihandel oleh para panitia yang notabenya hanya mahasiswa selevel tingkat 2, jika tak adanya backup birokrat kampus.

Bahkan aroma senioritas yang terkandung dalam ospek ataupun acara “Percepatan Adaptasi Mahasiswa Baru” di tataran fakultas hingga jurusan yang mengatasnamakan pengkaderan sering dijumpai atribut-atribut aneh yang dikenakan para mahasiswa baru. Rambut yang seharusnya cukup untuk dicukur rapi akan dibotak jika bentuk rambut tersebut tidak mengandung “kesenangan” para seniornya. Sedangkan bagi yang perempuan rambut wajib diikat menggunakan pita berwarna-warni macam sayur capcay sesuka hati panitia dalam hal ini senior.

Tak cukup sampai di situ dimulainya acara pun tak lengkap rasanya tanpa adanya bentakan dan teriakan ala preman terminal para seniornya. Sedangkan mahasiswa baru hanya bisa tertunduk penuh penantangan yang dipendam dalam hati, tanpa adanya perlawanan meskipun ada satu dua orang berusaha untuk melakukan perlawanan dengan mempertanyakan rasionalisasi apa yang mereka kerjakan.

Bentuk-bentuk perpeloncoan terselubung hari ini kerap disamarkan dengan kemasan berbentuk pendidikan karakter yang arogan. Pendidikan karakter yang katanya untuk membangun mental mahasiswa baru menjadi calon intelektual muda rasanya tak memiliki relevansinya akurat dengan bentuk bentakan kasar, atribut konyol, dan penyematan karakter imajiner pada mahasiswa baru. Bahkan praktik perpeloncoan terselubung ini menjangkiti pula pada jurusan pendidikan, saintis, dan kesehatan yang tak ada hubungannya dengan atribut dan penyematan karakter tak masuk akal pada maba (mahasiswa baru) tersebut.

Ditilik dalam tinjauan psikologi, perlakuan tak mendidik yang dialamatkan pada mahasiswa baru dalam perlakuan kasar, bentakan, penghinaan, atribut konyol, hingga karakter imajiner tak masuk akal hanya akan menambah rasa tertekan, sakit hati, dan dendam yang akan dilampiaskan pada mahasiswa baru selanjutnya. Hal ini pula akan membentuk persepsi wajar tanpa masalah pada junior apabila senior memperlakukan mahasiswa baru dengan semena-mena bahkan untuk urusan pelecehan seksual sekalipun apabila dibiarkan berlanjut.

Maka jangan heran apabila mahasiswa baru yang sehat dan sudah sarapan di rumah akan pingsan secara estafet ketika acara baru saja berlangsung beberapa waktu. Hal tersebut mungkin dikarenakan oleh banyak faktor seperti riwayat kesehatan sebelum berangkat, kondisi fisik tak prima hingga tekanan psikologis, salah satunya adanya rasa stres karena tertekan situasi riuh kampus oleh bentakan para senior yang menggema.

Mencekam adalah kata terbaik yang bisa dilukiskan bagi calon agent of change ketika mengikuti serangkaian acara penyambutan hingga akhir. Tekanan psikologis bertopeng pembinaan mental dari para seniornya, sukses menumbangkan para junior baru.

Mungkin acara penyambutan maupun pengkaderan dalam setiap lembaga kampus perlu diadakan guna mempersiapkan kualitas calon kaderisasi intelektual. Namun kembali lagi perlu adanya perbaikan sebuah sistem penyambutan maupun pengkaderan terhadap mahasiswa baru agar tujuan awal dalam adaptasi maupun tujuan untuk meng-upgrade kualitas kader lembaga kemahasiswaan tercapai. Jangan sampai acara yang seharusnya menjadi ajang perkenalan justru berujung rasa saling dendam di antara senior dan juniornya.

Jangan sampai karakter bangsa indonesia yang terkenal ramah tamah pada setiap orang hilang secara perlahan diakibatkan pembiasaan pembangunan mental kasar ala penyambutan mahasiswa baru dengan bentuk ospek, dan pengkaderan tak mendidik. Karena mahasiswa adalah kaum strata tengah yang mampu menyambungkan lidah aspirasi kalangan masyarakat bawah dengan kalangan strata elit pemerintahan. Dia menjadi sosok panutan yang dipersiapkan untuk memimpin bangsa indonesia kedepan. Apabila hari ini acara penyambutan disemarakkan dengan perilaku perpeloncoan yang tak berprikemanusiaan, maka bangsa indoensia akan mengalami krisis kepemimpinan yang santun dan beretika di masa yang akan datang.

Meninggikan nada suara untuk mempertegas wibawa wajar dilakukan selama tak ada unsur arogansi dan pelecehan di dalamnya. Menahan diri dari segala bentuk kesewenangan senior wajib dilakukan guna membina mental keberanian menyuarakan kebenaran dengan cara yang tepat. Membuat rasa nyaman pada setiap mahasiswa yang datang adalah point penting dalam setiap penyambutan atau bahkan pengkaderan. Karena segala bentuk kebaikan akan lengkap apabila ditumbuhkan dengan cara yang benar dan tetap menjunjung tinggi pendidikan yang berbasis memanusiakan manusia.

Manusia tidak cukup untuk berkata benar. Namun manusia diciptakan untuk mampu mengelola kebenaran dan ketepatan dalam bersikap. Kebenaran yang disampaikan dengan tepat dan adil mampu mendorong manusia lain untuk beranjak dari kejahilian yang tak di sadari dan seluruh semesta siap memberikan andil terbaiknya.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5,00 out of 5)
Loading...
Avatar
Mungkin tulisan hanya kan menjadi pajangan, namun dengan tulisan kita mampu mengekspresikan keresahan dan harapan. melalui tulisan pun kita mampu menciptakan perubahan yang akan terekam dalam keabadian.Seorang biasa yang berusaha untuk terus belajar dan melengkapi kekurangan

Lihat Juga

ICMI Rusia Gelar Workshop Penulisan Bersama Asma Nadia

Figure
Organization