Home / Pemuda / Mimbar Kampus / Transformasi Kader Ala Pohon Pisang

Transformasi Kader Ala Pohon Pisang

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

(sri)
(sri)

dakwatuna.com – Transformasi Kader Ala Pohon Pisang sangat menarik untuk direnungkan bagi organisasi mahasiswa ataupun lembaga dakwah kampus yang mungkin suatu ketika haus akan kader-kader baru. Perlu diketahui sistem perkaderan yang dilakukan oleh pohon pisang adalah sangat kontinuitas dan berkesinambungan. Pohon pisang sebelum mati pasti juga akan meninggalkan sebuah tunas minimal atau bahkan lebih dari satu. Tunas yang mana nanti akan berdiferensiasi menuju ke sebuah pendewasaan yang nantinya akan menggantikan peran pohon pisang di wilayah itu. Akan menggantikan nisia atau peranan dalam sebuah habitat itu. Inilah yang patut diteladani beberapa organisasi-organisasi kita terkait dengan sistem transformasi kader yang sangat brilian yang telah ditunjukkan oleh tanaman Pisang.

Kendala yang dihadapi organisasi-organisasi saat ini adalah salah satunya dalam perkaderan. Terseok-seok bahkan stagnan kaderisasi adalah sebuah hal yang tak langka dihadapi beberapa organisasi di kalangan anak muda khususnya. Bahkan, yang terjadi di dalam tubuh sebuah perkumpulan justru reduksi kader. Semakin lama, kader tumbang satu persatu dan akhirnya hilang semuanya bak ditelan bumi. Mungkin jiwa aktivis di kalangan muda sekarang sudah mati tak se-eksplosif jiwa para pemuda dahulu di masa perjuangan. Pemuda sekarang seolah terbius oleh hedonitas yang mungkin menyilaukan kehidupan mereka. Pemuda sekarang malas dan enggan untuk berorganisasi dan menjadi aktivis.

Inilah yang menjadi tantangan bagi para aktivis saat ini. Bolehlah kita belajar kepada tanaman pisang perihal tentang sistem perkaderan dan reproduksi yang mereka contohkan. Satu buah ambisi yang sering didengungkan adalah sistem transformasi kader “One Man, One Kader!”. Setiap kader yang sudah ada memiliki sebuah kewajiban untuk mencari kader yang baru. Selayaknya pohon pisang tadi meskipun satu saja, pohon pisang selalu memunculkan tunas sebelum ia mati. Ia tahu bahwa generasi penerus merekalah yang mungkin akan menggantikan perannya di sebuah habitat. Inilah yang harus ditanamkan di setiap aktivis ataupun kader. Jika mereka tidak melakukan transformasi kader yang nyata, maka organisasi yang ia geluti suatu saat akan ditelan masa. Namun jika setiap kader mungkin hanya menciptakan kader satu saja. Maka stagnasi pergerakan organisasi tidak akan terjadi. Semoga kita bisa meniru dan meneladani sistem perkaderan pohon pisang. One Man One Kader!!!

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 9,00 out of 5)
Loading...
Phisca Aditya Rosyady
Ketua Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah Korea Selatan Periode 2017-2018. Ketua Indonesian Muslim Student Society in Korea Periode 2016-2017. Lulusan master di Computer Science and Engineering Seoul National University, pernah menjadi Researcher Assistant di Sungkyunkwan University, Korea. Suka traveling, menulis, coding, dan blogging. Memiliki semboyan, beraksilah niscaya Allah akan mereaksikan ikhtiarmu!

Lihat Juga

Ada Dakwah di Dalam Film End Game?

Organization