Home / Konsultasi / Konsultasi Keluarga / Orang Tua Ingin Bercerai, Apa yang Harus Saya Lakukan Agar Mereka Kembali Bersatu?

Orang Tua Ingin Bercerai, Apa yang Harus Saya Lakukan Agar Mereka Kembali Bersatu?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (twitter.com)
Ilustrasi. (twitter.com)
Pertanyaan:

Yth: Bapak Dr. Muhammad Iqbal, Tim Psikologi Rumah Konseling

Maaf saya mau curhat. Saya seorang remaja kelas 3 SMA, usia 16 tahun. Kedua orang tua saya baru sore hari ini bertengkar dan ibu saya menginginkan cerai karena ayah saya seorang polisi dan ketahuan selingkuh. Dan ini sudah ke 3 kalinya ayah ketahuan selingkuh. Ibu saya sekarang sedang sakit lemah jantung, tetapi ayah saya selalu membohongi ibu saya. Sebelum hal ini terjadi mereka akur sekali, bahkan ayah sangat sayang dengan keluarga. Bagaimana cara agar ayah dan ibu saya bisa kembali bersatu? Terima kasih.

Dipa, Jakarta

Jawaban:

dakwatuna.com – Terima kasih Dipa atas pertanyaan yang diajukan. Saya bisa memahami betapa beratnya masalah ini bagi kamu, karena di usia remaja yang masih memerlukan bimbingan dari orang tua, Dipa menghadapi persoalan keluarga yang cukup berat.

Dipa yang di Rahmati Allah SWT. Dengan usia Dipa yang masih remaja tidak mudah memahami konflik pernikahan orang tua saat ini. Ada banyak alasan dan penyebab mengapa pasangan akhirnya memutuskan untuk berpisah, khususnya masalah Ayah yang selingkuh sangat berat bagi Ibu untuk menerima kenyataan ini. Ibu pasti mengalami perasaan kecewa, marah dan sakit hati karena merasa dikhianati.

Dipa sebagai anak tidak bisa bertanggung jawab atas konflik kedua orang tua karena persoalan ini terjadi bukan karena perbuatan Dipa. Begitu juga usaha menyatukan kedua orang tua adalah sesuatu yang tidak mudah, orang dewasa sudah selayaknya tahu yang terbaik untuk mereka, namun Dipa bisa membantu mengurangi tekanan dan konflik yang sedang dihadapi kedua orang tua. Saat ini kedua orang tua Dipa pasti sedang berada dalam suasana hati yang penuh emosi. Seseorang yang kondisi emosi yang tidak stabil mudah mengambil keputusan yang salah. Dipa bisa membantu mendampingi ibu mengurangi tekanan tersebut. Apalagi dari cerita Dipa ibu mengalami lemah jantung sehingga konflik yang dihadapi berisiko bagi kesehatan beliau. Cobalah temani ibu selalu, berikan perhatian, tunjukan perasaan empati dan dengarkan ceritanya.

Meskipun ini pasti terasa sulit karena Dipa harus dituntut lebih dewasa dari usia saat ini. Perasaan yang nyaman dan merasa disayangi oleh anak akan membantu ibu lebih tenang menghadapi persoalannya dan bisa mengambil keputusan lebih jernih dan rasional. Bangunlah komunikasi dengan ayah, tunjukan rasa kasih sayang kepada Ayah dan sampaikan dengan baik perasaan dan kekhawatiran Dipa atas masalah yang terjadi, dengan mengajak berbicara dari hati, Insya Allah mereka akan mendengarkan.

Dipa sebagai anak tentu tidak bisa memilih antara kedua orang tua, tapi Dipa bisa tunjukkan bahwa Dipa sayang mereka. Jikapun keduanya akhirnya tetap mengambil keputusan bercerai, hal itu sudah di luar tanggung jawab Dipa, dan Dipa sebagai anak tetap berhak mendapatkan perhatian dari orang tua. Wajar jika saat ini Dipa merasa marah, bingung, sedih dan kecewa dengan orang tua. Menjadi murung dan sedih sesaat tidaklah buruk, namun kita tidak boleh terbuai lama dengan kesedihan, berdoa adalah cara terbaik menenangkan diri, setelah merasa cukup baik, silakan menemani ibu dan Ayah dan mendengarkan keluh kesahnya. Dengan merasa didengarkan akan membuat seseorang lebih baik dan dapat mengambil keputusan yang tepat.

Ada baiknya juga Dipa meminta bantuan pihak ketiga, misalnya keluarga atau tokoh yang di hormati dan dituakan oleh orang tua Dipa, minta dia sebagai mediasi atas persoalan ini. Semoga Dipa dan keluarga diberi kekuatan untuk melewati masa sulit ini, kita harus bangkit dan menatap masa depan, ambil hikmah dari peristiwa ini. Wallahu’alam.

Salam Cinta dari kami.

Untuk pertanyaan dan konsultasi psikologi dapat kirimkan langsung melalui email: [email protected]

banner-konten-bersponsor-rumah-konseling

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5,00 out of 5)
Loading...
Dr. H. Muhammad Iqbal, M.SocSc (Psy)
Sarjana Psikologi dari Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta. Kemudian melanjutkan S2 Program Magister Profesi Psikologi Konseling dan S3 Psikologi dari School of Psychology and Human Development Faculty Social Science and Humanities Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Alumni ILO Labour Migration Academy ILO Training Center Turin Italy dan Asian Graduate Students Fellowship National University of Singapore (NUS) dan Lulus Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA-54) Lemhannas RI. Saat ini menjabat Dekan Fakultas Psikologi Universitas Mercubuana Jakarta dan Direktur Rumah Konseling (PT.Namary Insan Solusi), bergerak dalam bidang Konsultan Psikologi SDM dan Keluarga. Mendirikan Praktik layanan psikologi, Rumah Konseling di Jl. Saidin No. 17 Bambu Apus, Pamulang, Tangerang Selatan. Layanan pelatihan (Life Skill), konseling dan asesmen psikologi melalui temu janji dengan psikologi terlebih dahulu melalui Tlp : 082272187182/081218953316 Pertanyaan dan konsultasi psikologi dapat dikirim ke: [email protected] Jawaban Rubrik Konsultasi Psikologi

Lihat Juga

Pembicaraan Kecil Tentang 8 Pilar Sukses Mendidik Anak

Organization