Topic
Home / Berita / Opini / Muktamar Berjalan Mulus, Sang Surya Dinakhodai Pasutri

Muktamar Berjalan Mulus, Sang Surya Dinakhodai Pasutri

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Haedar Nashir resmi ditetapkan menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 2015-2020. (Aisyiyah.or.id)
Haedar Nashir resmi ditetapkan menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 2015-2020. (Aisyiyah.or.id)

dakwatuna.com – Tanpa keributan dan baku hantam antar peserta muktamirin, Muktamar Muhammadiyah ke 47 di Makasar berjalan mulus. Hasil akhir menunjukkan Bapak Haedar Nashir berada di nomor 1, beliau unggul dari Prof Dr Yunahar Ilyas Lc. Di bawah Pak Haedar dan Prof Yunahar, ada Dr Abdul Mu’ti, Dahlan Rais, Busyro Muqaddas, Prof Muhadjir Efendy, Prof Syafiq A Mughni, Dadang Kahmad, Goodwill Zubir.

Beliau ditetapkan menjadi Ketum PP Muhammadiyah untuk periode 2015-2020. Sementara yang menjadi Sekretaris umumnya adalah Dr Abdul Mu’ti. Ibu saya bertanya, “Siapa yang menang di Makasar?” kujawab, “Pak Haedar Nashir”. “Siapa itu, namanya terasa asing di telinga saya” kata ibu. Harus diakui nama beliau kalah tenar dengan Dr Busyro Muqoddas, Prof Muhajir Effendy dan Dahlan Rais. Ketiga nama inilah yang terekam jelas dalam ingatan ibu saya.

Pak Haedar Nashir bukanlah orang asing bagi saya. Sedikitnya dua kali bertatap muka dengan beliau. Yang jelas bukan di UIN Malang, tetapi di UMM Malang. Terakhir kali ketemu beliau dalam dialog bertema, “Gerakan ISIS di Indonesia” pada 23 Agustus 2014 di aula BAU UMM Malang. Dalam dialog tersebut pak Haedar berpesan, “agar radikalisme berhenti, Pemerintah jangan biarkan bangsa ini jadi Sekuler”.

Pak Haedar ini orangnya kalem, jawani dan humoris juga. Buku-bukunya penuh dengan referensi. Tulisan beliau sering menghiasi media nasional seperti Jawapos, Republika, Suara Muhammadiyah, Gatra, Tempo dan Kompas. Beliau lahir di Bandung, 14 Juli 1963, sehari-hari bekerja sebagai Dosen di Fisipol UMY maupun dosen di UIN Sunan Kalijaga. Lulus tahun 2006 dari S3 Sosiologi UGM dengan Disertasi berjudul “Gerakan Islam Syariat: Reproduksi Salafiyah Ideologis di Indonesia”. Ensiklopedi Muhammadiyah menyatakan, Pak Haedar menjadi anggota Muhammadiyah sejak tahun 1883 dari cabang Muhammadiyah ngampilan, Yogyakarta. Beliau pernah nyantri di Ponpes Cintawana, Tasikmalaya. Oleh karena itulah beliau fasih membaca kitab turats. Karena seorang kader, Pak Haedar dalam memilih calon istri tidak bisa lepas dari Muhammadiyah. Beliau menikah dengan Dra Siti Noordjannah, seorang aktivis IPM. Bu Noor dalam kesehariannya adalah dosen di Fakultas ekonomi UMY.

Menariknya, bu Noor juga berada di urutan nomor 1 dalam voting pemilihan Ketum PP Aisyiyah. Syukurlah, beliau sudah ditetapkan sebagai Ketum PP Aisyiyah periode 2015-2020.  Dengan posisinya sebagai petahana, bu Noor masih mendapat dukungan dari banyak pimpinan wilayah dan pimpinan daerah Aisyiyah.

Perlu diingat, fenomena Muhammadiyah dinakhodai Pasangan suami istri bukanlah hal yang baru. Ini mengulang peristiwa 100 tahun lalu, Saat KH Ahmad Dahlan menakhodai Muhammadiyah bersamaan itu Siti Walidah (Nyai Ahmad Dahlan) memimpin Aisyiyah. Contoh lainnya, di Muhammadiyah NTT hal ini pernah terjadi pada periode 2005-2010, di mana Ketua PW Muhammadiyah NTT Pak Zainudin Achied dan Ketua PW Aisyiyah NTT dipimpin oleh Bu Sukarsini, M.Ag yang keduanya adalah pasutri.

Sebagai seseorang yang dilahirkan dari Rahim ibu yang berlatar belakang Muhammadiyah, kepada Pak Haedar dan bu Noor, saya berharap 3 hal: Pertama, Pengurus pusat hendaknya lebih serius mengembangkan dakwah Muhammadiyah di Bali, NTT, Maluku dan Papua. Contoh di Flores, NTT, salah seorang siswa saya bercerita bahwa lembaga pendidikan Muhammadiyah di sana gedungnya sudah bagus-bagus dan uniknya banyak non Muslim yang bersekolah di Madrasah ibtidaiyyah. Bahkan seiring dengan perjalanan waktu, di antara mereka ada yang memeluk Islam. Ini sebuah contoh nyata bagaimana pengaruh amal usaha Muhammadiyah di daerah minoritas muslim. Kedua, Awal tahun 2016 sudah berlaku Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), idealnya Muhammadiyah memperkuat perekonomian warganya dengan melakukan pendampingan maupun mengadakan pelatihan-pelatihan kewirausahaan. Ketiga, Tidak usah tergiur menjadi Partai politik, cukup mengawal kebijakan pemerintah. Jika kebijakan tersebut merugikan rakyat, segera lakukan jihad Konstitusi.  Wallahu’allam bishowwab.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Fadh Ahmad Arifan
Alumni Jurusan Studi Ilmu Agama Islam di Pascasarjana UIN Malang. Pasca lulus, pada 2013-2015 menjadi Dosen tetap di STAI al-Yasini, Pasuruan. Sejak Februari 2015, menjadi Pengajar Sejarah Kebudayaan Islam di MTs-MA Muhammadiyah 2 kota Malang. Telah mengunggah lebih dari 50 karangan populer dan ilmiah, terutama di bidang Pemikiran Islam, Filsafat, Tasawuf dan Politik. Artikel terbaru berjudul 'Para Penguasa Suriah Dalam Catatan Sejarah' dimuat di Majalah Tabligh bulan April 2018

Lihat Juga

Muktamar IMSA-MISG Tahun 2017 Resmi Dibuka

Figure
Organization