Topic
Home / Berita / Nasional / Ada Korupsi Berkedok Umrah, Muhammadiyah: KPK Harus Klarifikasi agar Tidak Terjadi Fitnah

Ada Korupsi Berkedok Umrah, Muhammadiyah: KPK Harus Klarifikasi agar Tidak Terjadi Fitnah

Wakil Ketua KPK Johan Budi. (terasjakarta.com)
Wakil Ketua KPK Johan Budi. (terasjakarta.com)

dakwatuna.com – Jakarta.  Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah Abdul Mu’ti menilai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) perlu memberikan klarifikasi terkait dugaan transaksi korupsi berkedok umrah bersama. Isu ini mencuat setelah Pelaksana Tugas (Plt) Wakil Ketua KPK Johan Budi menyampaikan adanya dugaan tersebut dalam diskusi bersama Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah pada Ahad (28/6) lalu.

“Kalau perlu sebutkan saja inisial pelakunya jika KPK memang memiliki data-datanya,” kata Mu’ti dikutip dari ROL, Rabu (1/7/15). Hal ini, kata Mu’ti, agar pernyataan tersebut tidak menimbulkan fitnah di masyarakat.

Mu’ti sendiri menekankan tindakan korupsi adalah perbuatan dosa. “Mau di tanah air atau di tanah suci yang namanya korupsi tetap dosa,” kata Mu’ti.

Sebelumnya diberitakan kompas.com, Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Johan Budi mengaku mendapatkan informasi soal adanya transaksi korupsi di Tanah Suci, Mekkah. Hal itu dilakukan demi menghindar dari jeratan KPK.

“Ada informasi, mereka transaksi korupsi dengan cara berumrah bersama. Ini true story. Mereka janjian umrah bareng, transaksi di sana, biar apa? Biar enggak ditangkap KPK,” ujar Johan saat menjadi salah satu pembicara di kantor PP Muhammadiyah, Jakarta Pusat, Minggu (28/6/2015)

Namun, Johan tidak menyebut jelas informasi tersebut terkait perkara yang mana. Dia hanya menyatakan bahwa perkara tersebut adalah perkara lama yang diusut KPK.

Tidak hanya itu, masih banyak lagi aksi tindak pidana korupsi dilakukan yang dikaitkan dengan ritual agama. Johan menyebut lagi, ada tersangka korupsi, yakni salah satu hakim di Pengadilan Tinggi Jawa Tengah, yang ditangkap KPK saat malam takbiran. “Malamnya takbiran, kemudian ditangkap. Ada juga yang seperti itu,” kata Johan.

Johan melihat hal itu sebagai fenomena, yakni seseorang memaknai agama hanya sebagai ritual, tanpa memahami sekaligus melaksanakan makna di dalamnya. Dia sangat menyayangkan fenomena tersebut. “Bahkan, orang-orang yang kita dengar kata-katanya terjangkiti korupsi. Ada ustaz, kiai haji, pendeta. Entitas-entitas itu sudah tidak steril lagi. Agama hanya sekadar ritual sehari-hari,” ucap Johan. (sbb/dakwatuna)

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Olah Raga. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Oposisi Israel Ramai-Ramai Desak Benyamin Netanyahu Mundur

Figure
Organization