Home / Pemuda / Cerpen / Gidang Melenggang

Gidang Melenggang

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: inet)
Ilustrasi. (Foto: inet)

dakwatuna.com – “O… pak tak sedap ni pakai ini” ujar Gidang padaku sembari menunjuk wajahnya yang sudah blepotan masker wajah.

“Sudahlah pake saja, sebentar lagi tampil ini” jawabku sembari menepuk pundaknya. Mata Gidang masih ragu menatapku, dari tatapannya aku bisa tahu kalau dia merasa malu mengenakan masker putih di antara keramaian saat hendak tampil lomba pantomim.

“Tapi pak, Rani punya sudah habis pak e” sembari menunjuk kawannya yang duduk di ujung bangunan.

“Ah masak?” tanyaku ragu

“Hu um” angguk Gidang sembari mengajaku melihat Rani. Benar saja setelah menghampiri Rani yang malu malu di ujung gedung sekolah tempat O2SN berlangsung di SDN sumber agung.

“Coba lihat Rani maskernya” tegurku sembari berusaha membuka tangannya yang sedari tadi menutup mulutnya sendiri. Dia hanya bergeleng tak jua memberi jawab.

“Pak suko ndak marah, coba liat” bujukku kian lemah

Dia tak memberi jawaban namun membuka tangan kiri yang sedari tadi membungkam mulutnya.

Sontak aku terkejut memandangnya, bagaimana tidak terkejut, separuh masker yang dikenakannya telah hilang dari wajahnya, bagian hidung ke bawah telah pudar warnanya, hilang entah kemana

“Lah ran…kemana maskermu?” aku merunduk menanyainya

“Hilang pak-e” jawabnya sambil menutup kembali bagian masker yang hilang

“Iyaa hilang tapi bagaimana bisa hilang?” aku mulai memaksa meminta penjelasan.

“Tadi buat bersin pak-e” serunya kian menunduk.

“Hmmm….” aku tak kuasa lagi berkata untung saja penampilannya ditunda hingga jam 4 dikarenakan masalah juri yang belum hadir. Aku membawa mereka kembali ke penginapan dan meminta mereka makan dan kemudian beristirahat. Dengan berat hati kembali aku meminta asyanti memberi mereka masker seusai mereka beristirahat nanti. Pukul dua tepat aku meminta asyanti membangunkan gidang yang masih pulas tertidur, aku tak bisa membangunkan anak yang sedang tidur, benar-benar letih tersirat di wajahnya. Aku hanya memperhatikan asyanti membangunkannya .

“Sssttt…bangun gidang” katanya sambil mengusap usap kepala gidang yang masih juga lelap

“Bangun gih…..ssssttt….yuk bangun” ulang asyanti tetap dengan perlahan.

Aku hanya melihatnya dari kejauhan. Kuperhatikan gidang mulai menggeliat dan mengucek matanya. Gidang hanya berkedip kedip seperti orang habis pingsan. Belum sadar sepenuhnya.

Usai bangun gidang, asyanti yang merias gidang dan rekan tandem pantomimnya rani, sementara tugasku mencari motor untuk mengangkut mereka menuju arena.

Ketika kami tiba, belum nampak satupun peserta di arena, aku menjumpai semua panitia yang aku temui dan jawaban mereka sama “tinggal nunggu anak bapak saja”. Setelah aku konfirmasi bahwa kami sudah siap. Perlombaan pantomim dimulai. Gidang dan rani mendapat no urut pertama. Aku siapkan semua perlengkapannya dan aku meminta asyanti untuk mendampingi mereka hingga ke samping panggung.

“Motivasi mereka, kau lebih handal dalam memotivasi anak anak”pesanku kepada asyanti. Asyanti tak memberi jawaban hanya mengangguk sembari berlalu meninggalkanku.

Penampilan gidang dan rani membuatku tersenyum puas, memang masih ada kekurangan di banyak sisi dari pantomimnya, namun aku berharap mereka tetap menjadi yang terbaik. Membawakan tema kebersihan dengan kostum yang apa adanya dibanding yang lainnya membuatku begidik, hanya gidang yang aku bawa dari tanjung harapan. Kalau gidang tidak menang, pupus sudah harapan wakil dari tanjung harapan.

“Bagus, ayo kita beli es”hanya itu kata yang mampu aku ucapkan. Aku tak mampu berkata lebih, aku memilih mengajak mereka ke warung untuk membeli es, aku tak punya kata kata motivasi, aku menjadi kaku, atau lebih tepatnya aku tak mau mengkritiknya yang malah akan membuatnya terluka.

Sembari menikmati es di warung depan sekolah, kami dapat memandang panggung tempat peserta lain menunjukkan penampilannya. Aku masih terus berharap tim kami yang memenangkan kompetisi pantomim tingkat kecamatan ini. Hanya ada satu tiket ke kabupaten, dan itu untuk kami. Hayalku.

“Semua tim offisial, pelatih dan peserta lomba harap berkumpul untuk menyimak hasil keputusan dewan juri” bunyi sound memanggil kami untuk berkumpul. Kami segera berhambur menuju sumber suara. Kami semua cemas menyimak setiap kata dewan juri. Membeku seolah olah ini keputusan yang mematikan.

“Nanti dapat piala pak?” tanya gidang padaku, wajahnya polos menatapku penuh harap

“Iya gidang, kalau kita mampu menang di Kabupaten” jawabku singkat.

Gidang menarik lenganku dan berbisik “Kalau kita kalah di sini pak” eluhnya.

“Kita yang akan menang gidang, bukan yang lain” seruku. Aku mulai jengah ditanya demikian. Pikiranku sedang buram. Dan akan semakin ingin membentak orang jika ada rasa pesimis. Aku menatap gidang lekat lekat. Gidang langsung mengalihkan pandangannya kembali ke panggung. Kami kembali menyimak pemaparan dewan juri.

“….Dengan ini dewan juri memutuskan bahwa….” nafasku tercekat ketika juri membacakan pengumumannya, seolah nafasku terhenti. Kuperhatikan demikian juga dengan asyanti. Tak bergerak seperti patung berdiri tegak. Waktu begitu lambat berlalu.

“ Juara pertama lomba pantomim tingkat kecamatan batu ampar adalah….Inti dua dengan no urut satu…” seru juri dengan intonasi kian meninggi.

Aku terdiam, sesaat aku tak mengerti apa yang barusan aku dengan, aku baru tersadar ketika asyanti meneriakiku “yeeeeiiiiii…..mas suko kita menang…..kita ke kabupaten” serunya berulang ulang.

Aku bernafas lega…”hhmmm….” hanya bisa tersenyum. Lega.

Kami menang pikirku, yah kami menang. Kami yang berhak mewakili kecamatan batu ampar di laga kabupaten april nanti. Lebih dari itu ini satu satunya wakil dari dusun penempatanku. Sekolah penempatanku. Artinya ini akan menjadi bukti kalau SDN 18 Batu Ampar layak diperhitungkan paling tidak ditingkat kecamatan. “Alhamdulillah” bisikku. Di depan menanti kompetisi yang sebenarnya. Dalam pada itu aku bersyukur. Gidang melenggang.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Aktivis Pendidikan. Pendidik di sekolah Guru Indonesia Angkatan 7.

Lihat Juga

Rumah Zakat Gelar Indonesia Mewarnai ke-2 di Pulau Kelapa