Topic
Home / Pemuda / Cerpen / Perjuangan Hidup Janitra

Perjuangan Hidup Janitra

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (salamstock.com)
Ilustrasi. (salamstock.com)

dakwatuna.com – Suara sakaratul maut itu masih terbayang jelas dalam ingatanku, sekarang aku telah menjadi anak piatu. Sudah hampir sebulan kepergiannya, kepergian seorang yang sangat aku cintai, seorang yang selalu menyayangi dan menjagaku sedari aku dilahirkan ke dunia. Ibu.

“Ibu, aku rindu engkau.. kaulah yang selalu menemani di setiap jejak langkahku menuntun ilmu ke sekolah, namun sekarang aku hanya seorang diri menelusuri lebatnya pepohonan hutan ini” bisikku kepada dedaunan yang bergantian jatuh di depan mataku. Nampaknya matahari sudah menampakkan wajahnya, dengan begitu gagah ia menyinari hamparan dataran dunia yang amat luas.

Aku bergegas mempercepat setiap langkah kakiku supaya tidak telat mengikuti upacara pagi hari ini, itulah kelebihanku, aku kuat berjalan sejauh apapun jaraknya yang penting masih ada energi yang tersimpan dalam tubuhku. Jarum jam tepat menunjukkan pukul 06.45, mataku tertuju pada jam dinding yang berada di depan gerbang sekolah SMA tervaforit di desa kadukandel, desa yang penuh dengan warna-warni hasil pertanian. Sampailah aku pada barisan upacara paling akhir, karena postur tubuhku yang pendek, itulah sebabnya mengapa sejak aku sekolah di SD hingga SMA saat ini, posisi barisanku selalu berada di akhir.

Proses belajar tak ada yang membuatku antusias untuk mengikutinya, entah virus apa yang menyerang semangatku. Bapak dan ibu guru silih berganti masuk dan keluar kelas, menyampaikan berbagai materi persiapan ujian nasional tahun ini. Mataku sayup-sayup seolah kefokusaku sudah berada di ambang batas. “Brekkk!!!” kepalaku menatap bangku, sontak seisi kelas menertawaiku. Aku malu bukan main, segera aku izin bu guru untuk pergi ke kamar mandi, sekadar mencuci muka agar terasa lebih segar.

Di luar kelas semilir angin terasa sangat nikmat, seolah hembusannya menghilangkan beban pikiran yang tertabung dalam pikiranku. Belum sampai di kamar mandi, tiba-tiba langkahku terhenti. Lagi-lagi aku membayangkan ibu, kalau saja ia masih ada pasti sekarang ibu sedang melambaikan tangannya seraya memberikan semangat kepadaku dari gubuk yang berada di pojok halaman sekolah. Gubuk lusuh itu merupakan tempat di mana ia bisa menjual berbagai jajanannya.

Tak terasa wajahku basah karena tetes mata yang tiba-tiba turun dari kedua bola mataku. “Kunaon maneh tra?, kok nangis” ucap seorang teman yang tiba-tiba menegurku di dalam lamunan yang amat dalam. Sontak aku mengusap wajahku dengan kerudung seraya menjawab “oh teu nanaon eis” sambil memalingkan diri menuju pintu kamar mandi.

Tangisanku pun pecah di dalam kamar mandi, hatiku berkecamuk kepada tuhan mengapa aku tidak pernah merasakan kebahagian seperti teman-temanku. Seoalah tak ada beban yang harus mereka pikul, berbeda dengan diriku yang harus memegang peranan ibu yang sudah tiada lagi. Mengapa di masa muda ku, masa yang seharusnya aku habiskan dengan penuh rasa kebahagian layaknya anak muda lainnya justru aku harus menghabiskannya dengan berbagai lembaran penderitaan yang silih berganti. Kalau aku bisa memilih, mungkin aku memilih untuk mati bersama ibu. Aku tak sanggup menahan semua penderitaan ini.

Sepulang sekolah selalu ku sempatkan diri untuk mengunjungi tempat bapak bekerja, panasnya terik matahari dan pekatnya polusi udara di siang hari ini tak menyurutkan semangat bapak untuk menawarkan berbagai makanan dan minuman dingin kepada para pengguna jalan. “Bapak!!!” panggilku dari kejauhan, kemudian ia menoleh seraya memberikan lambaian tangan dan senyuman tulusnya. Lantas ia segera mendekatiku, wajahnya penuh dengan keringat, sesekali ia mengusap wajahnya dengan handuk kecil yang sengaja ia taruh di pundaknya. “Gimana nak tadi sekolahnya?, lancar?” tanya bapak kepadaku. “La..la..lanncar pak” jawabku terbata-bata. “Alhamdulillah, Janitra mah anak bapak anu paling pinter pokokna mah” senyumnya merekah memandangi wajahku yang sebenarnya aku tidak bisa serius belajar selama di sekolah tadi. Aku tersenyum balik memandangi wajahnya kemudian memeluknya dengan dekapan yang amat kuat karena hanya ia satu satunya malaikat yang aku miliki di dunia ini, tak ada seorang pun yang bisa menggantikan perhatian dan kasih sayangnya kepadaku.

Seperti hari-hari biasanya bapak memberikanku sebagian uang hasil jualannya kepadaku, uang ini nantinya akan aku belikan lauk dan sayur untuk makan siang dan makan malam kami. Bapak merogohkan tangannya ke saku kaosnya dan memberiku uang sebesar 35.000 rupiah. “Alhamdulillah… laris ya pak hari ini?” tanyaku kepada bapak. “Ia nak, alhamdulillah semua ini berkat doa anak-anak bapak” jawabnya. Aku tersenyum memandangi bola mata wajahnya yang penuh dengan sinar ketulusan seorang bapak. Aku mencintaimu pak, desir hatiku menatap wajahnya. Panasnya terik matahari sudah semakin menyiksa kulit wajahku, rasa laparpun mulai terasa. Bergegas aku pamit pulang ke rumah kepada bapak, ia tidak bisa pulang ke rumah dahulu karena masih harus menjajakan dagangannya hingga matahari hampir terbenam. Uang 35.000 yang telah diberikan bapak, aku belanjakan sayur-sayuran serta lauk pauk di warung sebelah rumah. Untung saja masih ada beras yang tersisa di rumah, setidaknya cukup untuk kami sekeluarga makan siang dan makan malam hari ini.

Sesampainya di rumah, ternyata ke empat adikku telah menungguku sedari tadi. Mereka mengeluh “teh lapar..” ucap adikku yang paling kecil. “Ia habis ini teteh masakin, sabar dulu ya tiar” ucapku. Mempunyai empat adik yang semuanya cowok merupakan tantangan tersendiri bagiku. Tiar yang masih berumur lima tahun terkadang membuatku kesal oleh segala tingkahnya. Jika aku dan ketiga adikku sekolah dan bapak bekerja, selalu aku titipkan dia kepada tetangga dekat rumah yang sudah aku anggap sebagai keluarga sendiri.

Makan malam pun berjalan sangat menyenangkan, ketiga adik-adikku yaitu Qorib, Sabil, Afan mencairkan suasana malam ini. Mereka berulang kali saut menyaut menceritakan kejadian lucu selama di sekolah tadi pagi. Kamipun tertawa mendengarkan kebanyolan cerita mereka masing-masing. “Si saepul diem-diem di pojokan kelas, aku kira dia lagi sakit ehh.. ternyata dia berak di celana hahaaa” cerita Sabil adikku yang sedang duduk di bangku sekolah dasar kelas lima. Tawa kamipun segera menggelegar memenuhi ruang sempit berbentuk kubus beratapkan rotan bambu ini. Bapak, yang hanya tersenyum mendengarkan perbincangan kami, matanya yang telah tua memandangi lamat-lamat anaknya satu persatu.

“Janitra, kemari nak” ucap bapak kepadaku yang sedang serius mempelajari berbagai materi ujian nasional karena seminggu lagi akan dilaksanakan. “Iya, pak” jawabku seraya mendekatinya yang sedang duduk seorang diri di luar rumah ditengah sunyinya malam desa kadukandel. “Nak, jadi orang yang benar ya.. kejar cita-citamu setinggi mungkin, kau memiliki bakat menulis lanjutkan itu. Jadilah orang yang memliki derajat tinggi di mata Allah dan orang lain sesuai dengan arti namamu, jagalah adik-adikmu jika bapak tak sanggup lagi menyekolahkan anak-anak bapak hingga SMA. “Iya pak.. nitra akan belajar dengan sungguh-sungguh agar impian-impian yang telah lama bergelantungan itu, segera berada dalam genggaman Nitra, bapak jangan lupa untuk mendoakan nitra ya, supaya diberikan kelancaran ketika ujian nasional.” Jawabku kepada bapak. Seketika itu bapak memelukku erat-erat, seoalah matanya meneteskan air mata di balik punggungku tetapi ia berusaha menutupi tangisan itu, hanya satu kata yang terucap dari mulutnya selama memelukku. “iya” ucap bapak, satu kata yang berarti amat dalam bagiku.

Aku senang akhirnya tinggal tersisa satu hari lagi pelaksanaan ujian nasional, tetesan air mata turut menemani di setiap sujudku. Sejak pukul dua dini hari, aku sengaja ingin lebih dekat lagi memelukNya. Suara pancuran air di kamar mandi silih berganti, aku bersyukur memiliki keluarga yang taat beribadah. Hanya dengan doalah segala usaha keras yang telah kita lakukan menjadi tidak sia-sia, membuka sekat ketidakmungkinan di hati para manusia.

Goresan pensil yang aku sematkan dalam khusyuknya ujian nasional pagi ini, tiba tiba terhenti ketika ada salah satu pengawas yang mendekatiku. Entah apa yang dilihatnya, padahal sedari tadi aku tidak melakukan kecurangan. Kemudian pengawas itu membisikkan sesuatu kepadaku, “Nanti kalau sudah selesai langsung dikumpulkan saja ya Janitra” bisiknya kepadaku. Aku hanya mengangguk kebingungan, mengapa hanya aku saja yang diperintah seperti itu. Lima belas menit berlalu, semua soal sudah aku kerjakan secara tuntas sesekali aku koreksi kembali dari awal hingga akhir jawabanku. Kurasa aku sudah yakin dengan semua jawaban ini, segera aku kumpulkan soal serta lembar jawaban kepada bapak pengawas tadi. Tiba-tiba semua mata di kelas tertuju padaku, “tenang anak-anak semuanya, silahkan kerjakan lagi soal ujian nasionalnya tidak boleh ada yang keluar kelas sebelum bel berbunyi terkecuali Janitra.” Ucap sang bapak pengawas kepada teman-temanku yang kebingungan melihat begitu cepatnya aku mengerjakkan soal.

Kakiku mulai menginjakkan lantai luar kelas, sepertinya ada seseorang yang aku kenal di depan gerbang sana. Tiba-tiba dari balik tubuhku, dua tangan yang lembut membelai pundakku dan ia mengucapkan “sabar Janitra, ibu turut berduka cita.” Hatiku seakan terkena hantaman batu besar mendengar perkataan Bu Indah yang merupakan kepala sekolah SMA ini. “Sisiiapa yang meninggal ibu..?” aku teriak tak terkendali dengan tangisan yang sontak meledak dalam keheningan Ujian Nasional hari ini.

Bu Indah tak segera menjawab pertanyaanku, ia malah memintaku untuk menemui seseorang yang berada di depan gerbang sekolah. Seorang yang sebelumnya sudah melambaikan tangan kepadaku dari kejauhan ketika aku keluar dari kelas. Langkahku layu tak kuat menahan berita duka ini, gerbang yang biasanya aku tempuh hanya dengan hitungan detik kini seoalah amat sangat jauh dalam pandanganku. Bu Indah yang masih memegang serta mengelus-elus pundakku ikut mengantarkan aku hingga depan gerbang. Pandangan dan pikiranku kosong seakan kaki ini tak menapak dunia lagi, cobaan apalagi ini Ya Allah bisikku dalam hati. Pak Ali yang sudah menantiku sedari tadi, memintaku untuk segera menaiki sepeda motornya. Sebelum aku beranjak pergi, kucium tangan Bu Indah hingga tanpa sadar tangannya basah karena tetesan air mataku. Ia memelukku dengan erat, “sabar ya Nitra kamu anak yang kuat, ibu percaya kamu bisa melewati semua ini.” Ucap Bu Indah dengan suara sedikit serak dan bergetar. Aku hanya menganggukkan kepala, dan segera ku naiki motor Pak Ali yang sudah menyalakan mesin motor dan siap untuk memboncengku.

Selama perjalanan berbagai pertanyaan menggelayuti pikiran ini, ada apa ini sebenarnya. Satu kata pun tak terucap dari mulutku, hanya doa yang aku panjatkan beriringan dengan bunyi derungan mesin sepeda motor. Pak Ali tiba-tiba memintaku untuk turun, kupandangi sekeliling tempat ini. “Kita mau ngapain pak ke rumah sakit?” tanyaku kepada Pak Ali. Tanpa menjawab pertanyaanku Pak Ali langsung menggandeng tanganku dan menuntunku menelusuri lorong-lorong rumah sakit hingga sampailah pada suatu ruang. Di dalam ruangan tersebut terlihat keempat adik-adikku dan beberapa teman bapak serta tetangga sekitar rumah. Seketika itu aku langsung berlari untuk mendekati ranjang tidur yang sedang dikerumungi oleh mereka. Tampak seorang yang sangat aku cintai, malaikatku. “Bapaakkk…….” suaraku menggelegar disusul dengan tangisanku yang pecah memenuhi ruangan ini. Aku goyang-goyang kan badan bapak tetapi ia tidak juga bangun, beberapa orang di sekitarku segera merangkul dan menahan gerakan tubuhku.

Seminggu berlalu atas meninggalnya bapak, rumah seakan tak berwarna walau keempat adikku sudah berulang kali menghiburku. Mereka lebih tegar ketimbang kakaknya ini. “Assalamu’alaikum…” tok..tokk.. suara ketukan pintu dari depan rumah seolah memecah keheningan pagi ini. Qorib yang sedang berada di ruang tamu segera membukakan pintu rumah. Aku masih tak beranjak dari sandaran kasur dengan mukenah yang masih terpasang sejak shubuh tadi. Tiba-tiba dari balik pintu kamar ada seseorang yang mengucapakan salam, “Assalamu’alaikum Janitra.” “Waalaikumsalam” jawabku dengan suara lemas dan serak. Siapa orang itu, sepertinya aku mengenalnya bisikku dalam hati. Ku pandangi lamat-lamat wajahnya yang terpoles rapi oleh make up.”Bi Lia!!!” kataku, ia mengangguk dan aku segera memeluknya dengan air mata mengucur tanpa sadar. Bia Lia adalah adik kandung bapak yang sejak 10 tahun silam pergi mencari nafkah ke beberapa negara alias menjadi TKI beserta suaminya. Mereka telah berhasil membangun bisnis di negara India. Sesekali ia mengirimkan uang kepada keluagaku yang kekurangan ini.

“Jadi maksud Bi Lia datang ke Indonesia selain ingin ziarah ke pusara bapak Janitra, bibi juga bermaksud ingin mengajak dua di antara kalian.” Matanya memandangiku amat dalam seolah menunggu jawaban dariku.

“Maksud bibi apa?” tanyaku balik.

“Bapak berwasiat kepada bibi untuk bisa mengurus kalian hingga jadi orang sukses, tapi saat ini Bi Lia hanya sanggup membawa dua di antara kalian dahulu” jawab Bi Lia dengan sangat lembut.

“Jadi bibi ingin mengambil adik-adik Janitra gitu? Nggak bisa bi! Nitra sanggup kok ngerawat dan ngejaga adik-adik semua”. Jawabku dengan penuh keyakinan.

“Kamu sanggup membiayai sekolah adik-adikmu? Memberi mereka makan tiga kali sehari?” Bi Lia menimpali ucapanku.

Aku hanya terdiam menyadari jika aku tidak punya pekerjaan yang bisa membiayai adik-adikku melanjutkan sekolahnya. Akhirnya aku mengiyakan permintaan Bi Lia untuk mengajak dua adikku paling kecil yaitu Tiar dan Sabil. Sedangkan Qorib dan Afan tetap tinggal bersamaku.

Bi Lia telah kembali ke India dengan membawa Sabil dan Tiar, rasanya berat melepas kedua adikku tersebut. Tapi semua ini demi masa depan mereka, aku yakin itu. Hari-hari kulalui seperti biasanya, tak ada masalah dengan dengan uang makan karena banyak tetangga sekitar yang memberiku makan dan uang jajan kepada aku dan adik-adikku. Ditambah lagi dengan uang jajan yang diberikan Bi Lia yang teramat besar jumlahnya bagiku.

Pengumuman kelulusan ujian nasional pun tiba, kami seluruh siswa akhir bersorak gembira akan kelulusan yang kita raih. Semua anak angkatanku lulus tanpa terkecuali. Sujud syukur dan tetesan air mata tak henti-hentinya dilakukan oleh teman-temanku seperjuangan serta guru-guru tercinta.

Hari-hari pun berlalu setelah pengumuman kelulusan ujian nasional, banyak teman-temanku yang bertekad ingin melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi tapi tak jarang pula yang berhenti sampai disini karena mereka memilih untuk bekerja bahkan ada pula yang langsung menikah. Sesuai dengan rencanaku, di satu tahun ini aku akan bekerja dan sebagian gajinya akan aku tabung untuk bekalku kuliah di tahun depan.

Akhir-akhir ini aku sudah memulai mengajar ngaji anak-anak kecil di masjid Desa Kadukandel. Suara mereka ketika mengaji membuat aku gemas karena harus mengeja dan mengulang-ulangi kembali huruf hijaiyah dan ayat Alquran yang benar seperti apa. Tetapi aku merasakan kesejukan hati tersendiri ketika ilmuku yang masih dangkal ini ternyata bisa bermanfaat untuk mereka.

Dalam lebatnya hujan dan kencangnya angin aku berusaha untuk melawan kemalasanku. Terpaan angin yang amat kencang seolah menggoyangkan niatku untuk mengajar ngaji sore ini. Kilatan petir yang berulang kali melintasi mataku seolah tak ingin menyudahi kelihaiannya kepadaku.

“Assalamu’alaikum.. ustadzah”

“Wa’alaikumsalam wr.wb” sambil kutolehkan kepalaku ke belakang.

“Mari bareng saja ustadzah, saya juga mau ke masjid nganterin didi ngaji” ucap seorang lelaki yang tidak aku kenal. Namun aku tahu anak kecil yang diboncengnya di depan jok motor, ia didi salah satu murid mengajiku.“Mari ustadzah, ga usah malu-malu.. hujannya semakin lebat” ajak lelaki tersebut sambil menggerak-gerakan mantel di belakang pundaknya.

“Baik, terima kasih banyak atas tumpangannya.” Segera aku naiki motor besar yang dikendarainya. Ucapan terima kasih aku haturkan kembali setelah sampai di depan masjid kepada lelaki tersebut. Proses mengajar ngaji pun berjalan seperti biasa, hanya saja jumlah murid yang datang lebih sedikit dari hari biasanya. Mungkin karena hujan lebat yang mengurungkan niat anak-anak untuk pergi mengaji ke masjid batinku.

Dedaunan bekas hujan kemarin berserakan memenuhi halaman rumah, membuatku risih ingin menyapunya hingga nampak bersih seperti biasanya, seperti saat ibu masih ada. Afan dan Qorib jarang pulang ke rumah, mereka lebih sering menghabiskan waktunya di pondok milik pemuka agama desa kami. Mereka dapat belajar agama dan makan gratis di sana serta dapat menambah teman dari berbagai daerah.

“Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikumsalam” jawabku yang masih memegang gagang sapu lidi dengan keringat yang bercururan. Aku tersentak kaget melihat lelaki yang pernah memboncengku kemarin tiba-tiba berada di hadapan mataku saat ini. Bukan lelaki itu saja yang membuatku mengerenyitkan kening, namun orang-orang yang berada di belakangnya.

“Nuhun, aya naon iye?” tanyaku kepada lelaki tersebut.

“Abdi nuju ngalamar anjeun neng”

Keheningan pun tiba-tiba datang menyelimuti ruang tamu pada sore hari itu. Aku tak percaya ada seorang lelaki yang belum pernah aku kenal datang melamar gadis yatim piatu seperti aku ini. Hatiku berdebar tak karuan ketika lelaki itu mulai membuka mulutnya dan mengawali pembicaraan yang amat serius dalam sejarah hidupku. “Perkenalkan Janitra, nama saya Faaz Ramdhan. Mungkin sekarang hatimu merasa kacau tak menentu, mengapa tiba-tiba ada seorang lelaki yang belum kau kenal datang melamarmu.” Ucap lelaki itu dengan penuh ketenangan.“Mengapa secepat ini?, kau belum mengetahui sifatku dan aku pula belum sama sekali mengenalmu bahkan namamu saja aku baru tahu.” Jawabku kepadanya. “Ssstt.. kau akan mengetahui semua jawabannya dalam surat ini, silahkan kamu baca surat ini. Aku akan selalu siap menanti jawaban darimu Janitra” sambil memberikan amplop berisi surat kepadaku.

Suara adzan maghrib seolah memecah perbincangan dalam ruang tamu ini. Lelaki beserta rombongan keluarganya bergegas pergi meninggalkan rumahku untuk menunaikan kewajiban shalat magrib. Aku yang hanya terdiam setelah menerima surat dari tangan lelaki tersebut seolah tak percaya akan kejadian ini.

“Janitra” panggil seorang ibu-ibu kepadaku. Tiba-tiba memecahkan lamunan yang sedang menghinggapi jiwaku.

“Iya bu” kakiku langsung melangkah mendekati ibu tersebut, dari wajahnya aku sudah menebak pasti ibu ini adalah orang tua Faaz Ramdhan bisikku dalam hati.

“Faaz anak yang baik nak, ia amat shalih dan sudah pantas menjadi imam keluarga saat ini.” Ucap ibu yang sangat dalam memandangi bulatan hitam mataku seakan ingin memindahkan sesuatu dari dalam bola matanya kepadaku. Aku hanya tersenyum menganggukan kepala dan mencium mesra kedua telapak tangan ibu tersebut.

Hari pernikahan pun berlangsung, hari yang amat sakral bagiku. Di hari ini pula aku melaksanakan wasiat ibu lewat surat yang sengaja ia titipkan kepada Faaz sebelum ajal menjemputnya. Ternyata ibu sudah sejak lama menceritakan tentangku kepada lelaki yang saat ini sedang duduk bersanding denganku. Faaz adalah salah satu murid mengaji ibu ketika di masjid, empat tahun sudah ia menamatkan kuliahnya dan sekarang ia sedang bekerja di suatu perusahaan ternama di Jakarta. Aku tak sanggup menolak keinginan ibu, biarlah kebahagian lajangku terhempas sampai di sini. Semua ini demi membahagiakan ibu, setidaknya aku bisa membuatnya tersenyum walau aku sendiri belum tentu tersenyum atas takdir ini.

Lima bulan berlalu. Faaz membawaku ke Jakarta, perlu waktu yang lumayan lama untukku beradaptasi dengan kota metropolitan ini. Tak lupa Qorib dan Afan yang juga turut hijrah ke Jakarta tetapi mereka berdua dipondokkan oleh Faaz ke suatu pondok tahfidz Alquran di daerah Tangerang. Hari demi hari aku habiskan dengan hanya mengurus suamiku yang sangat mencintai dan menyayangiku sepenuh hati. Kemesraan kami seolah seperti anak muda yang baru pertama kali pacaran, pantas saja ibu sudah jatuh hati kepada Faaz sejak mengajarkannya mengaji di masjid. Siraman kesetiaan dan perhatian Faaz yang diberikan di setiap hembusan nafasnya untukku, semakin membuat seorang Janitra yakin jika hanya Faaz lah cinta sejatinya.

Aku mulai merasa bosan hidup seorang diri tanpa rutinitas berarti di rumah yang lumayan luas ini, aku ingin membuka jendela baru dalam kehidupanku sekarang.

“Aa, aku ingin kuliah” ucapku kepada Faaz.

“Kuliah?, tidak sayang, biarlah aa saja yang lelah mencari nafkah untuk keluarga kita”

“Tetttetetapi, aku bosan a di rumah saja”

Kemudian Faaz mendekatiku dan memegang perutku yang sudah nampak membesar. “Seorang wanita tidak dituntut untuk bekerja, toh aa yakin setelah kamu lulus kuliah pasti kamu meminta izin aa untuk lanjut bekerja.” Aku hanya tertunduk setelah Faaz berkata seperti itu. Alasan klasik!!! Wanita tidak diperbolehkan untuk bekerja dalam batinku.

Tak terasa anakku kini telah berusia lima tahun. Selama itu juga aku telah berhasil bekerja tanpa sepengetahuan suamiku yaitu sebagai editor pada suatu redaksi majalah islami. Aku sangat menikmati pekerjaan ini, bukan uang yang kucari namun pengalaman serta ilmu yang amat berharga bagiku. Namun hari ini semua rahasia itu hancur tak bersisa, suamiku Faaz telah mengetahui jika aku bekerja sebagai editor majalah islami. Ia memarahiku habis-habisan, menunjukkan bagian halaman majalah yang tertulis jelas namaku.

“Sudah dibilangin gausah kerja! Istri itu cukup merawat anak dan suami!” bentak Faaz di depan wajahku. Tangannya seakan ingin menamparku, namun ia tak sanggup dan menurunkan tangannya kembali. Wajahnya seakan teringat suatu wasiat ibu, agar dapat membahagiakanku dan jangan sampai menyakiti jiwa dan perasaanku.

“Aku memiliki hak sebagai wanita, a! Seorang istri tak melulu harus berdiam di rumah! Aku bekerja tapi aku tak lupa melaksanakan kewajibanku sebagai seorang ibu!” jawabku dengan tegas.

“Ahhh!!! Terserah kamu! Selalu melawan dengan suami!” bentak Faaz sambil menutup pintu kamar dengan amat keras.

Setelah kejadian itu, aku dan anakku pergi meninggalkan rumah menuju tempat tinggal salah satu sahabatku. Tiga hari sudah aku tak memberi kabar kepada suamiku. Tiba-tiba ada panggilan masuk dari aa, ku terima telpon tersebut dengan suara bergetar, “Assalamu’alaikum”. “Janitra, kamu di mana sayang? Pulanglah ke rumah, ada yang harus diselesaikan.” Ucap suamiku. Selang dua detik telpon pun langsung diputus olehnya. Bergegas aku dan anakku pulang kerumah setelah berpamitan dengan sahabatku.

Sesampainya di rumah, aku sangat kaget melihat semua baju dan barang-barang kami berada di luar rumah. Beberapa polisi mondar mandir tak karuan. Segera kutemui suamiku yang sedang berbicara amat serius dengan seseorang. “Ada apa ini a?” tanyaku dengan tangan menggendong anak yang tak henti-hentinya menangis sejak tadi. “Maaf istriku, kita harus pindah dari rumah ini karena kegagalan saham yang aku tanam pada suatu perusahaan dan rumah ini.. rumah ini.. aku jadikan jaminannya.” Ucap suamiku dengan nada menyesal. “Berapa banyak uang yang diperlukan untuk mengembalikan saham itu a?” tanyaku. “Sekitar 400 juta sayangku.” “Aku sanggup melunasi semuanya a” jawabku dengan penuh keyakinan.

Kini, suamiku telah mengerti akan arti emansipasi wanita, memahami betul bahwa wanita pula memiliki hak yang sederajat dengan lelaki. Setelah aku memberikan seluruh uang hasil jerih payahku sebagai editor dan penulis buku selama lima tahun terakhir ini untuk melunasi hutang suami terhadap perusahaan. Dalam buku-buku yang telah aku terbitkan tak satu pun tertulis namaku, hanya satu huruf yaitu “J” yang amat membingungkan para pembaca. Semua ini demi merahasiakannya kepada suamiku. Namun saat ini aku tidak hidup dengan belenggu harus merahasiakan pekerjaanku lagi dari suami. Sekarang dia sangat mendukung karir dan pekerjaanku. Aku berhasil menggapai impian-impianku yang telah lama bergelantungan, seandainya bapak masih ada mungkin ia akan tersenyum bahagia melihat kekuatanku sebagai perempuan dalam melewati episode kehidupan ini.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Mahasiswi Jurusan Farmasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Anggota FLP cabang Ciputat, Alumni MBI Amanatul Ummah Pacet-Mojokerto, Alumni MI, Mts Perguruan Muallimat Cukir-Jombang.

Lihat Juga

Kemuliaan Wanita, Sang Pengukir Peradaban

Figure
Organization