Home / Pemuda / Cerpen / Jodoh

Jodoh

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (arinarizkia.wordpress.com)
Ilustrasi. (arinarizkia.wordpress.com)

dakwatuna.com – Jika kepergiannya menambah kesedihan ibu di rumah, bukankah lebih baik ia tetap di sini saja?

Namaku Safira Annida, panggil saja Fira. Dua hari lalu, aku tepat berusia 23 tahun. Setahun lalu, aku meninggalkan pekerjaanku sebagai karyawan di sebuah perusahaan percetakan tempatku bekerja semenjak lulus SMK. Kini tak ada aktivitas lain selain menjaga ibu yang sakit-sakitan, mengajar anak-anak mengaji di langgar belakang rumah sehabis ashar, dan membuat kue kering pesanan tetangga, itupun jika ada pesanan.

Hari ini aku mengantar kakakku, satu-satunya saudaraku, ke bandara. Sabrina Putri. Mbak Ina aku memanggilnya. Ia mendapat beasiswa belajar di Jepang selama 3 tahun untuk mendapat gelas S2. Aku tidak mengerti bagaimana jalan pikir Mbak Ina dengan usianya 35 tahun. Apakah beasiswanya terlalu berharga untuk ditukar dengan lamaran Mas Rahman? Lelaki shalih tetangga desa kami yang kutahu sejak dulu menyimpan perasaannya pada Mbak Ina. Kurang apa coba Mas Rahman? Memang sih usianya 5 tahun lebih muda dari kakakku, tapi itu bukan sebuah masalah kan? Apakah sosok Mas Rahman kurang dewasa? Ah, beliau teramat pantas untuk dipersandingkan dengan kakakku. Ustadz Rahman, seorang ustadz di pesantren Al Ikhlas, pondok modern terbesar di kota kami. Wajahnya tak kalah dengan Dude Harlino. Hafalan Qurannya? Beliau hafidz sejak lulus SMP. Oh Mbak Ina, apakah belajar di Jepang tak bisa ditunda dulu hingga ibu bisa bernafas lega dengan hadirnya seorang menantu? Apa ia tak mengerti bagaimana rindunya ibu untuk menimang cucu, apalagi semenjak bapak meninggal 5 tahun lalu. Menyebalkan.

Ibu masih terbaring lemas di kasurnya. Ia sering mengigau memanggil nama Mbak Ina. Badannya semakin kurus saja.

“Bu, ibu makan dulu ya? Fira masak sup jamur kesukaan Ibu lho.”

“Nggak mau, Fir. Ibu inginnya Mbak Ina yang suapi ibu. Kapan mbakmu pulang?”

Oh ibu, tak jarang aku juga merasa iri mendengar ibu menyebut nama Mbak Ina setiap waktu. Dengan segala kelebihannya, Mbak Ina memang jauh lebih pantas untuk disebut-sebut namanya daripada aku.

“Eeemm… Mbak Ina sebentar lagi pulang kok, Bu. Ibu yang sabar ya,” hiburku.

Tepat hari ini, tiga tahun sudah Mbak Ina di Jepang. Hari ini pula, ia berulang tahun yang ke-38. Baru sekali ia pulang, itupun lebaran tahun lalu. Selama tiga minggu di rumah, Mbak Ina didatangi tiga pria dalam waktu yang berbeda hendak melamarnya. Dan masih terbayang jelas raut wajah kecewa para pria itu. Tak satu pria pun menarik simpati Mbak Ina.

Apa sih yang kurang dari mbak Ina. Memang usianya 38 tahun. Posturnya tinggi semampai tertutup oleh jilbab lebarnya. Wajahnya bak titisan Cleopatra. Ah, mungkin aku terlalu berlebihan. Namun memang demikian. Mbak Ina cantik sekali. Beda nian denganku dengan jerawat berbaris rapi di wajah, kulitku cokelat macam sawo saja, dan pendidikanku pun hanya lulus SMK. Aku tak serajin Mbak Ina yang mencari beasiswa ke mana-mana demi pendidikannya. Malangnya, tak seorangpun pria pernah mendekatiku. Aku tak ingin menyalahkan takdir, tapi wanita mana yang tak ingin bertemu dengan lelaki yang menjadi takdirnya. Sebenarnya, sehabis aku lulus SMK, seorang lelaki datang ke rumahku. Ia hendak menjadikanku istri mudanya, dengan demikian maka hutang keluarga kami akan lunas. Rezeki Allah Maha Luas. Mbak Ina mendapat penghargaan sebagai 10 arsitek muda terbaik nasional. Hadiah yang diterimanya bisa melunasi hutang kami. Lagi-lagi Mbak Ina memang teramat beruntung dengan segudang prestasinya.

Tak kupungkiri, selama ini aku juga menaruh cemburu pada Mbak Ina. Aku menanti datangnya seorang yang kelak akan menjadi imam untukku. Kini usiaku 26 tahun. Bukankah sudah waktunya aku menikah? Oh Allah, kapan datang jodohku? Bahkan, akhir-akhir ini murid-murid TPA di langgar kerap kali meledekku. Kapan nih Mbak Fira nikah? Masa sih Mbak Fira nggak punya pacar? Galak siiiih. Oke, aku tak bisa berbuat apapun sebelum Mbak Ina menemukan jodohnya. Itu pesan Ibu. Rabbi, semoga hamba bisa tetap bersabar.

Tiga tahun Mbak Ina di Jepang. Ia sudah menyelesaikan kuliahnya, juga sudah diwisuda. Masih ada berkas-berkas yang harus diurus sebelum pulang ke tanah air.

“Ibu, Fira punya kabar bahagia buat Ibu.” Aku teramat tak sabar untuk menyampaikan pesan ini.

“Apa Fira?”

“Seminggu lagi Mbak Ina pulang, Bu.” Aku genggam erat tangannya yang mulai keriput. Tangis haru ibu pecah. Ini pasti kabar yang sudah sejak lama dinantikannya.

Seminggu ini ibu menjadi periang sekali. Ia menyiapkan berbagai kue kering untuk menyambut putri sulungnya. Meja makanan penuh dengan menu masakan kesukaan Mbak Ina. Dan setelah seminggu ke depan, kujamin akan ada lagi pria yang datang melamar kakakku. Bersiaplah hai para lelaki malang jika kakakku tetap betah menjomblo.

Mbak Ina tidak memnintaku menjemputnya, tak biasanya. Saat ia pulang dua tahun lalu, ia memintaku menjemput menggunakan taksi langganan kami.

“Halo Fira, mbak sudah di bandara. Jangan beritahu ibu dulu yaaa, biar surprise.”

“Mbak, ibu udah nggak sabar. Ayo cepet pulang Mbak.”

“Oya Fir, Mbak Ina bawa dua teman. Bilang saja pada Ibu kalau Mbak tidak pulang sendirian.”

“Okey kakak cantik.”

Kehadiran Mbak Ina mendapat sambutan hangat. Para tetangga juga turut menyambutnya. Ada dua teman Mbak Ina yang juga datang ke rumah kami, satu perempuan dan satu lelaki. Hanya berselang sehari, akhirnya aku tahu maksud kedatangan mereka. Si lelaki itu melamar Mbak Ina. Beliau kawan Mbak Ina semasa di rohis kampus saat S1, namanya Mas Ardian. Rupanya sudah sejak lama mereka saling memendam perasaan, namun malu-malu tak berani menyatakannya. Dan si perempuan itu, ia adik ‘mas’ itu yang juga sahabat Mbak Ina dalam halaqah. Mereka satu binaan.

“Maafkan Ina, Ibu, Fira. Selama ini bukan berarti Ina tidak ingin menikah, justru sebaliknya Ina sangat rindu untuk menjadi seorang istri sekaligus ibu bagi anak-anak Ina kelak. Jujur sudah sangat lama Ina berharap Allah akan mengabulkan doa Ina agar Mas Ardi yang menjadi imam keluarga Ina. Dengan keshalihannya, semoga Mas Ardi dapat mengantar Ina kepada keridhoan Allah sebagai seorang istri.”

***

Dan hari ini, seminggu berselang setelah lamaran Mas Ardi itu. Aku pun merasa menjadi orang paling beruntung sedunia. Aku dan Mbak Ina duduk dalam satu resepsi pernikahan sederhana. Ustadz Rahman melamarku, sehari setelah lamaran Mas Ardi kepada Mbak Ina. Rupanya dulu Mbak Ina sengaja menolak Mas Rahman karena tahu aku memendam rasa padanya. Hari ini, aku melihat senyum terindah dari wajah Ibu. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang pantas kamu dustakan?

 

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Mahasiswi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

Lihat Juga

Manisnya Ramadhan

Organization