Home / Berita / Opini / Manisnya Ramadhan

Manisnya Ramadhan

Ilustrasi. (justxsilent.deviantart.com)

dakwatuna.com – Ada tiga kegiatan utama yang bisa optimalkan dalam amal i’tikaf kita , atau secara umum di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

Pertama adalah memperbanyak shalat sunnah

Kedua mengakrabi Alquran

Dan yang ketiga memperbanyak, membasahi lisan kita dengan dzikir.

Shalat secara bahasa bermakna doa. Saat shalat adalah saat seorang mukmin curhat menumpahkan seluruh permasalahan hidupnya kepada Allah swt. Dzat yang maha segalanya. Dzat yang maha mendengar, tak pernah lupa tak pernah tidur. Selalu menjawab doa siapa pun yang meminta.

Permasalahan hidup di dunia memang kompleks, tapi bagi seorang mukmin, tidal akan menguras waktu dan tenaga untuk memikirkan sesuatu yang sudah jelas dijamin oleh Allah swt. Misalnya masalah rezki. Adapun tugas kita adalah ikhtiar menjemputnya, tanpa mengabaikan kewajiban ibadah.

Kebanyakan manusia, dilalaikan dalam memikirkan dan mengurus sesuatu yang sudah jelas dijamin Allah swt. Wal hasil bukanlah ketenteraman yang didapatkan, melainkan hati yang selalu galau, gelisah dan sedih.

Saat seorang sahabat terlihat sedih, rasul menegur dan menanyakan apa sebab kesedihannya. Ketika ternyata dia memiliki banyak utang, Rasul saw mengajarkan doa, “Allahumma inni a’udzubika minal hammi wal hazan ..dst.

Hammi adalah kesedihan oleh sebab memikirkan hal-hal yang akan datang

Misal sedih memikirkan bagaimana nanti biaya sekolah anak-anak. Bagaimana jodoh dan lain-lain.

Selain dengan berdoa, leburkan semua rasa sedih gelisah dengan melaksanakan shalat shalat sunah. Tumpahkan segala hanya pada-Nya. Apalagi di saat sepuluh hari terakhir Ramadhan. Para ulama memperbanyak melaksanakan shalat sunnah di malam hari Ramadhan.

Bahkan dikisahkan, imam Ahmad bin Hanbal di bulan Ramadhan, melaksanakan 300 rakaat sunnah per malam. Memperbanyak sujud. Sebagaimana Rasul menganjurkan agar kita memperbanyak sujud. Jadi berapa jumlah rakaat shalat taraweh di suatu masjid, tak perlu menjadi bahan perdebatan.

عَلَيْكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ لِلَّهِ فَإِنَّكَ لاَ تَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلاَّ رَفَعَكَ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً

‘Hendaklah engkau memperbanyak sujud (perbanyak shalat) kepada Allah. Karena tidaklah engkau memperbanyak sujud karena Allah melainkan Allah akan meninggikan derajatmu dan menghapuskan dosamu’.” Lalu Ma’dan berkata, “Aku pun pernah bertemu Abu Darda’ dan bertanya hal yang sama. Lalu sahabat Abu Darda’ menjawab sebagaimana yang dijawab oleh Tsauban padaku.” (HR. Muslim no. 488)

Amal lainnya adalah membasahi lisan kita dengan dzikir. Rasul mengajarkan kita untuk meminta kepada Allah agar lisan kita selalu basah dengan dzikir. Banyak keutamaan berdzikir .

Di dalam Al-Qur’an, Allah Taala berfirman;

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُواْ لِي وَلاَ تَكْفُرُون

“Ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu (Al-Baqarah:152)

Tsabit Al-Banani berkata, “Saya tahu kapan Allah mengingatku.” Orang-orang pun merasa khawatir dengan ucapannya sehingga mereka pun bertanya, “Bagaimana kamu mengetahuinya?” Tsabit menjawab, “Saat aku mengingat–Nya, maka Dia mengingatku.”

Orang yang mencintai sesuatu, pasti akan banyak menyebut nyebut. Demikian juga, seseorang yang sering menyebut sesuatu, pasti dia mencintai. Buktikan cinta kita pada Allah dengan banyak menyebut-Nya (dzikir). (neni/dakwatuna.com)

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Sri Kusnaeni, S.TP. ME.I
Konsultan Ketahanan Keluarga RKI (Rumah Keluarga Indonesia). Tenaga Ahli Fraksi Bidang Kesra, Mitra Komisi viii, ix, x. Ibu dari 7 putra-putri penghapal Alquran. Lulusan S1 Jurusan Teknologi Pertanian IPB, dan S2 di Universitas Ibnu Khaldun Bogor.

Lihat Juga

Manisnya Iman Semanis Kurma Ketika Berbuka

Organization