Home / Berita / Opini / Ketaqwaan Semu di Bulan Ramadhan

Ketaqwaan Semu di Bulan Ramadhan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (banat.ma7room.com)

dakwatuna.com – Kita ketahui bahwa Allah SWT menegaskan bahwa pada bulan Ramadhan Al-Qur’an yang Mulia diturunkan. Dan pada malam Ramadhan ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan yang Kita sebut Lailatul Qadr.

Di bulan ini pula berlipat gandanya pahala dari yang terhitung bahkan sampai tidak terhitung besarannya.

Selayaknya tamu Agung, Muslim yang cerdas pastinya tidak akan melewatkannya dengan sia-sia, bahkan menjadi mengherankan ketika Ramadhan hanya disambut seperti biasa, dan demikian juga kepergiannya akan mengundang haru dan air mata karena setahun lagi untuk bisa datang ke tengah-tengah Kita.

Namun, Ramadhan kali ini Kita lewati dengan banyak persoalan. Dari persoalan Ekonomi, Pendidikan, Politik, Pemerintahan dan lainnya dan itu semua merampas kebahagiaan dan kegembiraan Kita dalam menjalani ibadah Ramadhan.

Di bidang Ekonomi, Rakyat dibebani dengan naiknya harga kebutuhan pokok, beras impor berdatangan sehingga petani yang sedang panen raya menangis. Buruknya tata niaga, harga rupiah anjlok terhadap dollar hingga tembus menjadi 14.000 Rupiah per dolar. Semua ini adalah fakta dari kegagalan Pemerintah dalam mengelola negara ini. Kenaikan BBM dengan diam-diam dan di tengah malam, tanpa pemberitahuan. Lalu harga tarif dasar listrik, dan kenaikan hal lainnya.

Di bidang Pendidikan tak kalah menyakitkan, Pemerintah mengawasi Kampus bak sebagai sarang teroris, Handphone Dosen dan Mahasiswa diawasi, bahkan setiap mahasiswa baru harus menyetorkan account media sosialnya, belum lagi beberapa kejadian mengenaskan demo di berbagai kampus menentang uang pangkal masuk perguruan tinggi yang melambung tinggi.

Data rusaknya pendidikan hasil kunjungan Penulis ke berbagai daerah ditemukan hampir 60 Persen Bangsa Indonesia belum bisa mengenyam pendidikan tinggi atau hanya sebagai Pendidikan Menengah atas, Ratusan Ribu Lulusan SMK menjadi pengangguran dan jika pun bekerja hanya bekerja magang dan sebagai tenaga outsourcing sedangkan pekerjaan Formal yang harusnya dinikmati anak bangsa menjadi milik Tenaga Kerja Asing (TKA) dari Tiongkok.

Di bidang Politik, Korupsi kepala-kepala daerah masih mewarnai berita-berita media Kita, lebih parahnya diisi oleh kader-kader Partai Penguasa di Republik ini. Bahkan ide “gila” dari Pemerintah untuk tetap mencalonkan mantan narapidana koruptor mengisi kursi legislatif, hal ini sudah jelas-jelas menentang hati nurani dan sudah ditolak oleh KPU sebagai penyelenggara Pemilu.

Belum lagi, DPR dan Pemerintah akan segera mengesahkan Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (R-KUHP) pada 17 Agustus 2018 mendatang dan terdapat subtansi di dalamnya yang dapat mengancam eksistensi KPK maupun upaya pemberantasan korupsi di Indonesia.

Jika RUU ini menjadi UU adalah Jika Rancangan KUHP disahkan maka KPK tidak lagi memiliki kewenangan dalam melakukan penyelidikan, penyidikan dan penuntutan. Kewenangan KPK tercantum dalam UU KPK yang secara spesifik menyebutkan bahwa KPK berwenang menindak tindak pidana korupsi yang diatur dalam UU Tipikor (dan bukan dalam KUHP).

Jika delik korupsi dimasukkan dalam KUHP, maka hanya Kejaksaan dan Kepolisian yang dapat menangani kasus korupsi. Pada akhirnya KPK hanya akan menjadi Komisi Pencegahan Korupsi. Aturan ini sekaligus menjadi kontra produktif dengan kinerja KPK yang telah teruji selama ini. KPK telah berhasil menangkap pelaku korupsi kelas kakap mulai dari Ketua DPR, Ketua DPD, sampai Ketua Mahkamah Konstitusi.

Harusnya persoalan-persoalan di atas menjadi tidak ada ketika setiap Kita termasuk dalam hal ini pemegang kekuasaan menjadi hamba Allah Swt yang benar, berpuasa yang benar, beribadah dengan benar dengan rasa takut yang tinggi kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian Puasa Kita melahirkan Taqwa, Taqwa yang sebenar-benarnya taqwa, menjalankan seluruh perintah Allah Swt dan menjauhi semua larangan-Nya.

Faktanya Ramadhan tidak mengubah apapun pada pejabat di Negeri ini, dari bidang Pendidikan, Ekonomi, Politik hingga sosial, hanya menjadikan Ramadhan sebagai Isu Politik mempertahankan kekuasaan dan jabatan, tidak lebih dari itu. Maka inilah yang disebut “Ketaqwaan Semu”, Ketaqwaan yang tak bermakna. Bukan salah Tuhan dan bukan juga salah Ramadhan, tetapi salah manusia yang tetap memperturutkan hawa nafsu syetan. Nauzubillahi min dzalik. (adi/dakwatuna.com)

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
HR Manager PT Hitachi Power Systems Indonesia, Tinggal Di DKI Jakarta kelahiran Kota Ketapang, Kalimantan Barat. A Speaker, Motivation Trainer, Thinker and a Writer on culture, humanity, education, politics, peace, Islam, Palestinian, Israel, America, Interfaith, transnational, interstate, Management, Motivation and Cohesion at workplace. Committed to building a Cohesive Indonesia, Cohesive Industrial relation, Cohesion at workplace and offer Islamic solutions to the problems that inside. Lulus dari Fakultas Dakwah STAI Al-Haudl Ketapang, Kalbar, Melanjutkan S-2 Manajemen di Universitas Winaya Mukti Bandung, Jawa Barat.

Lihat Juga

Program Polisi Pi Ajar Sekolah, Pengabdian Polisi Jadi Guru SD dan TK

Organization