Topic
Home / Pemuda / Cerpen / Tentangmu, Al-Faruq

Tentangmu, Al-Faruq

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com

7 Juli 2013

Sahabat? bukan kita tidak pernah bersahabat. Teman? Rasanya juga bukan karena kau kukenal hanya melalui namamu, titik. Itu saja. Mungkin, sekeping iman yang masih bertahta di hati kita yang membuat kita saling percaya. Bukan, mungkin hanya aku yang memberi kepercayaan untukmu, tidak denganmu terhadapku.

Pertemuan kita terlalu singkat untuk mengenalmu. Bahkan sampai sekarang jika kita bersua aku tidak akan bisa mengenalimu. Malam ini tanpa sengaja, aku mendengar percakapan mereka tentangmu. Mengetahui engkau terbaring lemah atas sakit yang sedang menggerogoti hatimu membuatku terluka. Aneh bukan? Aku bahkan tidak pernah berbincang denganmu secara langsung. Namun hati ini benar-benar terasa sakit, hingga keran air kuputar sekuat-kuatnya untuk mengelabui tangisku yang pecah.

17 Juli 2013

“Assalamualaikum semuanya…”,

Puluhan comment pun langsung membanjari kalimat singkat yang barusan kau post di group kita. Group yang menjadi jembatan perkenalan kita, yang membuat kita terasa bersaudara, dekat. Diskusi kita selalu tentang kata, kalimat, hingga paragraf. Kecintaan kita sama, pilihan kita pun sama. Kita sama sama memilih ‘merangkai kata’ sebagai jembatan untuk lebih dekat dengan Rabb kita, menulis.

Tahukah kau, mengetahui kondisimu yang membaik, senyumku tidak bisa lepas dari wajah sederhana pemberian Allah ini. Aku turut lega ^^.

27 Juli 2013

Hampir setahun kita saling kenal, hampir tiap minggu selalu ada yang kita diskusikan bersama dalam group Pena Ilahi yang kita huni. Tapi ternyata aku benar benar semakin tidak mengenalimu. ‘Aliranmu’ selalu melawan arah, katamu kau menikmati sakit di kala menulis sedangkan kami selalu bahagia dengan menulis. Aku belum bisa mengerti, apakah itu karena masa lalumu? Masa lalu yang selalu kau jadikan sebagai ide cerita, sehingga setiap menulis kau harus menguras air mata kepedihanmu. Bagiku masa lalumu telah merenggut senyum masa depanmu. Tahukah kau, atas sikapmu ini aku pun merasa sangat terluka.

Masa lalu, tema tulisanmu selalu tentang itu. Aku tidak tahu, seindah apa atau sepedih apa masa lalu yang tidak bisa kau lupakan itu atau hanya untuk mengesampingkannya barang sesaat saja. Tahu kah kau? Kau telah mendzalimi orang-orang yang mencintaimu sekarang dan di masa depan dengan mengacuhkan mereka hanya karena engkau masih saja selalu melihat ke belakang.

Tahukah kau? Dalam berkendara pun kita tidak boleh selalu melihat ke belakang, karena bisa jadi kita akan jatuh atau bahkan menabrak sesuatu di depan, maka berlaku wajarlah karena memang kita tetap perlu melihat kebelakang sesekali, hanya sesekali melalui kaca spion. Tahukah kau? Aku membenci sikapmu ini.

17 Agustus 2013

***

Akh Faruq, Juni…”, kata kata itu membuat jari jemariku bergetar hebat. Jantungku seolah berhenti memompa, hingga hampir saja tubuh kurusku terjatuh ke lantai jika tidak cepat ditopang oleh mbak Aira. Mbak Aira pembina Group Pena Ilahi duduk berdampingan tepat di hadapanku bersama mbak Rosyi, murobbiyahku setahun terakhir ini.

“Bagaimana bisa mbak?”, ucapku lirih.

Bukan, bukan karena aku ingin menolak. Tapi keindahan akhlaknya, militansi dakwahnya, kelihaiannya dalam menulis, ukhuwahnya, cintanya kepada para ikhwah, ilmunya, semua yang ia miliki terlalu istimewa untukku. Dan satu lagi aku tidak siap dimadu oleh masa lalunya.

“Ini pilihan jama’ah untuk kalian, Juni. Begitu juga dengan Faruq, jama’ah ini memilih kamu untuknya. Dan ia setuju. Ini hanya ikhtiar, kamu berhak membuat pilihan, menerima atau menolaknya, istikharahlah terlebih dahulu. Akh Faruq memberi waktu dua minggu sebelum lamaran, itupun jika kamu menerima ini”, jelas mbak Rosyi sambil menyodorkan beberapa lembar kertas.

“Dua minggu mbak? Secepat itukah?”

“Iya Juni, untuk ini pun sebenarnya kami sudah berusaha meminta waktu lebih tapi Akh Faruq sendiri yang meminta seperti itu. Katanya dia sudah mantap sehingga tidak perlu mengulur-ulur waktu lagi. Dua minggu setelah lamaran akad nikah pun akan dilaksanakan. Ia sampaikan bahwa ia akan mempersiapkan semuanya, Juni hanya tinggal mengkondisikan keluarga saja. Itu pesannya untuk Juni”, kali ini mb Aira yang angkat bicara.

Aku tidak meragukan kemampuannya, toh ia juga memiliki banyak kenalan dalam banyak hal, mudah baginya untuk mempersiakan rangkaian acara sederhana walimatul ursy. Tapi bukan itu yang memberatkanku. Masih jelas dalam ingatanku statementnya yang membuat gempar penghuni Group Pena Ilahi, ia hanya akan menikah di surga dengan ia yang berada di masa lalu, lantas posisiku di mana? Apakah aku hanya sebagai syarat penyempurna separuh diennya? Apakah aku hanya akan sebagai batu loncatan baginya untuk menggapai bidadari masa lalunya itu?

Dan mbak Aira membenarkan hal itu walau dengan kalimat penutup, “itukan Faruq yang dulu Juni, sekarang ia sudah bisa membuka hatinya kembali, percayalah”. Aku belum yakin dengan ucapan mbak Aira bahkan pertanyaan-pertanyaan sentimen lainnya masih terus bergelayutan di kepalaku, karena sebagai wanita aku ingin diterima seutuhnya.

21 Agustus 2013

Tapi kenapa harus aku? Pertanyaan itu masih saja berputar-putar di kepalaku. Karena aku pun tidak bisa menemukan jawaban untuk ini. Aku terlalu sederhana untuk ia yang istimewa setidaknya menurutku. Aku juga tidak memiliki banyak keahlian seperti yang ia miliki. Aku juga tidak terlalu cantik untuk ia yang rupawan. Lantas kenapa ia menerimaku? Demi dakwah kah? Bukannya di luar sana masih banyak akhwat shalihah yang memiliki militansi yang jauh lebih tinggi dariku. Dan masa lalu itu masihkah ia letakkan di hadapannya?

27 Agustus 2013

“InsyaAllah saya terima dan saya siap”, keluarga dari kedua belah pihak tersenyum bahagia. Mbak Rosyi dan mbak Aira yang rela datang jauh-jauh ke kampung halamanku hanya ingin memastikan lamaran ini berjalan lancar juga terlihat mengambil nafas panjang pertanda kelegaan yang luar biasa.

Akh Faruq yang selama ini kukenal dari dunia maya sekarang menjelma nyata di hadapanku. Semua orang tersenyum lepas kecuali dia. Mata kami bertemu sesaat, namun cepat kualihkan pandangan, bagaimana pun juga belum ada halal antara kami sehingga aku juga dia tetap harus menjaga rambu-rambu syariah.

Ya tekadku bulat, keyakinanku kuat. Selama sandaranku kepada Sang Pemilik hati, aku yakin bisa membantu akh Faruq terlepas dari masa lalunya atau mungkin lebih tepatnya dari bidadari masa lalunya yang sedang menunggu di surga. Karena sebagai wanita, aku ingin menjadi bidadari suamiku seutuhnya, di dunia hatta di akhirat.

7 Oktober 2013

Siang nanti biiznillah, aku akan menjadi seorang istri dari saudara M. Ayyas Al Faruq. Ba’da shalat jum’at beberapa tamu sudah memenuhi masjid Baitul Quds, beberapa teman dekatku pun sudah mengambil posisi strategis untuk mengabadikan momen bersejarah pada dua insan ini. Mereka tampak antusias. Aku dari ruangan kecil milik marbot masjid ditemani masih dengan mbak Rosyi mencoba untuk terus berdzikir menenangkan gemuruh hati sembari terus memperbaiki niat hingga tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara setengah teriakan dari ruang utama masjid ini. “Sah? sah….!!!”.

Entah apa yang merasukiku, tiba-tiba saja aku menangis sesenggukan seperti anak kehilangan orang tua, aku memeluk mbak Rosyi kuat, lama hingga tanpa kusadari Akh Faruq sudah berdiri tepat di sampingku, mengulurkan tangannya, menuntunku keluar menuju meja yang menjadi saksi bisu akad yang diucapkan oleh akh Faruq, akad yang akupun tidak sempat mendengarnya kecuali kata sah.

9 Oktober 2013

“Aku mencintaimu dik, aku benar benar mencintaimu karena Allah, bantu aku untuk berjuang di jalan ini dik, jalan yang mempertemukan kita”, suara itu lembut sekali membelai telingaku. Akhirnya kau mengatakan kata yang kutunggu-tunggu setelah akad kita, Mas.

Tahukah kau duhai Al Faruq, hari ini menjadi hari terindah sepanjang 1/4 abad nafasku di dunia ini. Tak ada kata yang bisa kuucap saat ini kecuali air mata yang terus menerus berlarian. Al Faruq, terima kasih atas cinta yang kau sisakan untukku.

17 Juni 2014

Sudah lama, diary ini pun sudah terlihat usang karena jarang terjamah oleh pemiliknya. Mas Faruq menjadi imam yang baik buatku, layaknya pasangan muda, cinta kami masih tetap hangat setidaknya sampai sebelum catatan itu kutemukan di antara file-file yang berserakan di laptop Mas Faruq.

Faruq dan Adia. Itulah yang terjadi sebelum Mas Faruq menikahiku. Sosok bidadari yang selalu menjadi inspirasi tulisannya. Tapi aku tetap menerima seorang lelaki yang hidup di masa lalunya dengan harapan ia bisa terlepas dari masa lalu itu secara perlahan. Dan selanjutnya melihatku sebagai masa depannya. Ya, sekali lagi sebelum catatan itu kutemukan. Adia, bidadari masa lalu mas Faruq ternyata masih tersimpan rapi di bilik hatinya bahkan setelah Allah meniupkan Ruh ke dalam rahimku, catatan-catatan tentang Adia masih ia goreskan.

Mungkin ini salah satu resiko yang harus kuterima karena berani menikah dengan seorang lelaki yang hatinya sudah menikahi bidadari lain terlebih dahulu, jauh mungkin sebelum aku mengenal Mas Faruq. Aku harus siap berbagi dengan bayang-bayang itu.

Mas Faruq tahukah engkau? Atas sikapmu ini, aku dan hatiku teramat terluka. Tidak tersisakah sedikit ruangan di hatimu untukku? Juga untuk Ruh yang sedang singgah di rahimku ini? Yah, mulai detik ini aku akan lebih sering menepuk-nepuk dadaku sendiri, berusaha agar sabar yang bertengger di hati tetap terjaga karena aku khawatir, sewaktu-waktu ia akan meledak. Mas kumohon bantulah aku untuk tetap berbakti padamu. Mas, hari ini aku benar-benar lelah karena menangisimu seharian di kamar kecil kita ini.

19 Juni 2014

Duhai Faruq, tahukah engkau? Mbak Aisy sering bercerita tentang ia juga tentang wanita kedua di rumahnya. Cemburu. Inilah makanan sehari-hari mbak Aisy, tapi setidaknya mbak Dela juga merasakan hal yang sama. Cemburu. Hingga akhirnya kedua wanita shalihah itu saling menguatkan, saling menyayangi walau cemburu sesekali masih saja menyapa relung hati terdalam dua bidadari itu.

Duhai Faruq, tahukah engkau?

Aku adalah wanitamu satu-satunya. Kau selalu bilang bahwa dalam hidupmu hanya akan ada satu bidadari, yaitu aku. Yah, kau seperti yang kukenal memiliki integritas tinggi yang akan menjaga apa yang sudah kau ucap. Tapi Adia, kau menyakitiku melalui nama itu. Kilahmu itu hanya tokoh rekaan dalam beberapa tulisanmu, tapi kenapa harus Adia? Bukankah jutaan nama bisa terlahir dari 26 huruf alphabet itu? Tapi kenapa harus Adia? Bukankah nama itu sudah terlalu banyak menghiasi catatan pribadimu? Berhentilah bersandiwara.

Sekarang, aku mengerti maksud ucapanmu mas, aku hanya akan menjadi bidadari duniamu tapi tidak untuk akhiratmu, karena Adia sudah mengambil tempat itu terlebih dahulu, sebagai bidadari surgamu.

27 Juli 2014

Mas Faruq, hingga detik ini ternyata aku masih juga tetap mencintaimu. Bagaimana bisa aku membenci jundi-Nya yang mengerahkan seluruh kemampuannya untuk dakwah ini, yang mengorbankan hartanya untuk kemajuan Islam, yang mengorbankan banyak waktu istirahatnya untuk mendekati Rabbnya walau tetap terkadang sakit itu masih saja menusuk-nusuk ketika catatan-catatan baru kutemukan kembali.

Doaku pada Rabb kita agar kita tidak pernah disatukan di surga-Nya kelak agar inginmu terwujud bisa bersatu dengan bidadari masa lalumu. Mas Faruq, maafkan aku. Aku tetap akan menjadi istri yang baik untukmu, aku akan tetap berusaha menjadi ibu terbaik untuk anak anakmu kelak. Hingga Allah memisahkan kita.

Mas Faruq, kutahu sekarang setiap kali bertanya tentang doa yang kau panjatkan pada shalat malammu yang panjang, kau selalu menjawab, “yang terbaik untuk kita dik”, sambil tersenyum dan membelai kepalaku. Aku selalu memburumu dengan pertanyaan-pertanyaan beranak cucu, berharap mendapatkan kata detail dari doamu, berharap kau akan mengatakan “Mas berdoa agar kelak di surga-Nya kita disatukan seperti Allah menyatukan kita di dunia ini”, tapi sampai sekarang kata-kata itu tidak pernah keluar dari mulutmu.

Engkau selalu berusaha mengelak dengan langsung menagih setoran hapalanku yang sering sekali tidak mencapai target. Beberapa kali aku sempat curiga, tapi kubuang jauh-jauh. Karena saat itu kuyakin bisa membawamu perlahan melihat masa depan.

Mas Faruq, aku janji mulai hari ini aku tidak akan pernah bertanya tentang doa-doa panjangmu lagi, aku tidak ingin membuatmu serba salah untuk menjawab tanya sederhanaku. Aku tidak ingin menciptakan dosa dengan memaksamu berbohong, karena sekarang kutahu, dalam doa panjang itu selalu ada nama Adia di dalamnya. Mas Faruq terima kasih telah menjadi bagian episode hidupku. Mari saling membantu dalam menjalankan peran kita masing-masing dalam skenario Allah di dunia yang singkat ini.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Avatar
Alumni Psikologi UMA. Aktivis KAMMI. Bercita-cita jadi Psikolog Anak. Pecinta dunia Traveling, photography, tulis menulis and ODOJers 63.

Lihat Juga

Pantaskah untuk Menyakitinya?

Figure
Organization