Home / Berita / Opini / Guru Harus Bisa Menulis

Guru Harus Bisa Menulis

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Guru sebagai seorang intelek harus mampu menulis atau menghasilkan karya tulis. Dengan menulis guru akan leluasa menyampaikan ide, gagasan dan pemikiran pada orang lain. Sungguh, karya tulis merupakan warisan intelektual yang akan tetap hidup dan menghidupkan. Dengan menulis berarti kita telah mewariskan kekayaan intelektual bagi generasi berikutnya.

Sangat ironis seorang guru yang diharapkan professional dalam melaksanakan tugas justru tidak berdaya mengungkapkan kemampuan dan pikirannya itu melalui tulisan. Apalagi dengan kurikulum 2013 yang menuntut dan menuntun para guru untuk menghasilkan karya inovasi seperti membuat karya ilmiah atau karya tulis.

Menulis adalah sebagai persyaratan penilaian kinerja guru yang berimbas pada kenaikan pangkat dan untuk mendapat penghargaan lainnya. Hal ini merupakan tantangan sekaligus peluang bagi guru untuk bangkit mengangkat harga diri sebagai seorang guru profesional yang layak menerima tunjungan sertifikasi.

Fenomena inilah yang banyak terjadi dalam dunia nyata. Guru-guru merasa sudah kalah sebelum berjuang menghasilkan karya. Mereka beranggapan bahwa menulis itu berat dan sulit sehingga mereka malas untuk memulainya. Padahal ketika mereka kuliah sering sekali membuat makalah dalam menyelesaikan tugas kuliah. Bahkan untuk bisa diwisuda harus menulis skripsi dan ternyata mereka bisa kemudian mendapat ijazah.

Kenapa sekarang guru tidak bisa atau tidak mau menulis? Akibatnya, banyak pangkat guru bertahan pada IV a sekalipun telah dinikmati puluhan tahun. Ini merupakan sebuah problema yang berat yang harus dicarikan solusinya dalam mengangkat derajat guru sebagai guru kreaktif dan inovatif.

Memperbaiki Paradigma

Paradigma atau anggapan banyak guru sebagaimana yang diungkapkan di atas harus diperbaiki. Kalau memang guru ingin berprestasi di dunia kerjanya sendiri maka guru harus bisa menulis. Sebenarnya menulis itu mudah dan indah, tinggal keberanian kita untuk memulainnya. Dalam hal ini, Dahlan Iskan mengatakan: “Menjadi seorang penulis tidak sulit. Seseorang hanya perlu terus berlatih dan berlatih seperti menaiki sepeda maka lambat laun akan bisa dan terbiasa. Ia menambahkan, untuk menghasilkan sebuah tulisan yang bagus, seseorang harus terus menulis tanpa menunggu tulisan bagus atau jelek.”

Kemudian Dahlan Iskan menjelaskan manfaat menjadi seorang penulis dan kelebihan penulis dari kebanyakan orang. “Cara berpikir penulis itu tertib, karena harus menulis sesuatu dan dituangkan dalam tulisan. Jika anda menulis ini membantu berpikir secara terstruktur, karena menulis menstrukturkan cara berpikir. Selain itu juga, menulis membantu cara membuat keputusan dan itulah calon pemimpin yang baik. Pemimpin yang baik yang bisa membuat keputusan. Pemimpin yang tidak bisa membuat keputusan, adalah pemimpin yang tidak baik.”

Demikian nasehat yang berharga yang disampaikan Dahlan Iskan pada kita, agar kita mencoba dan terus mencoba menulis. Sebagaimana halnya kita belajar naik sepeda, tentu ada di antara kita yang terjatuh bahkan sampai luka parah namun kita tidak pernah jera untuk mencoba lagi sampai akhirnya kita lancar mengayuh sepeda . Sekarang manfaatnya sangat terasa, kita tidak hanya pandai bersepeda tetapi juga bisa membawa motor, mobil bahkan pesawat sekalipun. Semuanya itu berawal dari kepandaian kita bersepeda.

Begitulah belajar menulis, sekalipun ada kesalahan dan kesulitan namun jangan sampai berhenti berlatih dan teruslah berlatih maka niscaya kita akan dapat menulis dengan lancar dan ide-ide cemerlang akan mengalir bak air mengalir.

Bagi kita para guru, hal ini hendaknya menjadi pelajaran penting dalam mengapai sebuah cita-cita. Ya cita-cita untuk bisa menjadi penulis atau mampu menulis sebuah karya yang menyejarah. Tulisan merupakan warisan intelektual yang berguna bagi generasi berikutnya. Ketahuilah bahwa banyak orang yang terkenal hari ini yang sudah tiada dan sudah berkalang tanah. Namun nama dan jasanya masih terkenang sepanjang masa sampai dunia menutup usia karena dedikasi dan tulisan indah yang terukir dalam lembaran sejarah.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Avatar
Lahir di Batusangkar tanggal 28 September 1967. SD sampai SMA di Batusangkar dan menamatkan S1 pada Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Batusangkar. Tamat April 1993 dan kemudian mengajar di MTSN Batusangkar sebagai tenaga honorer. Tahun 1992-2005 aktif mengelola kegiatan Pendidikan dan Dakwah Islam di bawah naungan Yayasan Pendidikan Dakwah Islam Wihdatul Ummah. Tahun 1995 bersama aktivis dakwah lainnya, mendirikan TK Qurrata Ayun , tahun 2005 mendirikan SDIT dan PAUD. Semenjak tahun 1998 diangkat sebagai guru PNS dan mengajar di SMAN 2 Batusangkar sampai sekarang. Tahun 2012 mendirikan LSM Anak Nagari Cendekia yang bergerak di bidang dakwah sekolah dan pelajar diamanahkan sebagai ketua LSM. Di samping itu sebagai distributor buku Islami dengan nama usaha Baitul Ilmi. Sejak pertengahan Desember 2012 penulis berkecimpung dalam dunia penulisan dan dua buku sudah diterbitkan oleh Hakim Publishing Bandung dengan judul: "Daya Pikat Guru: Menjadi Guru yang Dicinta Sepanjang Masa dan Belajar itu Asyik lho! Agar Belajar Selezat Coklat. Kini tengah menyelesaikan buku ketiga Guru Sang Idola: Guru Idola dari Masa ke Masa. Di samping itu penulis juga menulis artikel yang telah dimuat oleh Koran lokal seperti Padang Ekspress, Koran Singgalang dan Haluan. Nama istri: Riswati guru SDIT Qurrata Ayun Batusangkar. Anak 1 putra dan 2 putri, yang pertama Muthiah Qurrata Aini (kelas 2 SMPIT Insan Cendekia Payakumbuh), kedua Ridwan Zuhdi Ramadhan (kelas V SDIT ) dan Aisyah Luthfiah Izzati (kelas IV SDIT). Alamat rumah Luak Sarunai Malana Batusangkar Sumbar.

Lihat Juga

Program Polisi Pi Ajar Sekolah, Pengabdian Polisi Jadi Guru SD dan TK