Home / Berita / Opini / Gelorakan Semangat Kepahlawanan untuk Indonesia yang Lebih Baik dan Bermartabat

Gelorakan Semangat Kepahlawanan untuk Indonesia yang Lebih Baik dan Bermartabat

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (reportaseoriginal.blogspot.com)
Ilustrasi. (reportaseoriginal.blogspot.com)

dakwatuna.com – Hari Pahlawan selalu diperingati oleh bangsa Indonesia setiap tanggal 10 November. Setiap 10 November pula kita selalu mendengar slogan “Merdeka atau Mati” yang digaungkan di seantero negeri. Pidato Bung Tomo yang berjudul “Resolusi Jihad” itu berangkat dari intimidasi serdadu Inggris yang meminta warga Surabaya untuk menyerahkan senjata-senjata yang berhasil dilucuti dari Jepang. Intimidasi tersebut disampaikan melalui pamflet-pamflet yang diterjunkan melalui pesawat-pesawat perang Inggris ke tanah Surabaya.

Dalam pidatonya, Bung Tomo mengatakan bahwa Inggris meminta warga Surabaya untuk menyerahkan senjata-senjata yang dimiliki dan datang dengan bendera putih sebagai pertanda menyerah. Meskipun di bawah ancaman gempuran serdadu Inggris, Bung Tomo menyambut intimidasi tersebut dengan sebuah kalimat, “Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membikin secarik kain putih merah-putih, tidak akan kita menyerah pada siapapun juga!” Jadilah serangkaian momen ini dimaknai oleh kita sekalian bangsa Indonesia sebagai Hari Pahlawan.

Ketika berbicara tentang Pahlawan, akan selalu ada konteks sosial yang menyertai. Seseorang yang dianggap pahlawan bagi kelompok masyarakat tertentu tidak selalu dianggap pahlawan bagi kelompok masyarakat yang lain. Bung Tomo bagi rakyat Indonesia tentu akan dianggap sebagai pahlawan atas keberaniannya menantang serdadu Inggris dan atas kelihaiannya mengobarkan semangat perlawanan warga Surabaya. Namun, bagi Inggris tentu pula Bung Tomo adalah sosok pemberontak yang berbahaya. Kita juga bisa mengambil hikmah dari Bung Karno dan Tan Malaka, yang mana keduanya mendapatkan pendidikan secara cuma-cuma dari pemerintah kolonial Belanda.

Seiring waktu berjalan, keduanya justru menjadi orang-orang yang paling dikekang pergerakan perjuangannya oleh pemerintah kolonial Belanda. Pada satu sisi, kita akan memahami kedua sosok tersebut sebagai pahlawan sekaligus pengkhianat pada sisi yang lain. Atau, kita dapat pula mengambil pelajaran dari protes keras pemerintah Singapura atas penamaan KRI Usman-Harun pada awal tahun 2014 lalu. Dari serangkaian kisah di atas, kita bersama sepakat bahwa konteks sosial akan selalu menyertai kepahlawanan. Melalui cara berpikir yang lebih radikal, kita dapat menemukan sebuah pesan yang lebih umum bahwa untuk kita perlu berani untuk tidak bisa menyenangkan semua orang, kita perlu untuk mengambil risiko sekaligus tantangan tersebut.

Menyongsong Indonesia yang Lebih Baik dan Bermartabat

Melalui kisah-kisah kepahlawanan sebelumnya, kita dapat menangkap sebuah pesan bahwa kita perlu berani untuk tidak membuat semua orang senang. Tentu jamak dari kita akan bertanya, “Mengapa mereka seberani itu untuk mengambil jalan yang berbeda dari kebanyakan orang pada masanya?” Namun, sejatinya kisah Bung Tomo dalam pidato “Resolusi Jihad” telah menyiratkan sebuah makna tentang kekuatan visi yang tercermin dari sebuah slogan: “Merdeka atau Mati”. Kekuatan untuk melihat pada inti persoalan. Pada masa itu, hal yang dipahami sebagai masalah inti adalah ketidakmerdekaan Indonesia yang akan melahirkan ketertindasan rakyat Indonesia.

Dengan demikian, mereka mempunyai sebuah gambar besar di dalam kepala mereka tentang apa yang mereka perjuangkan dan apa tujuan dari perjuangan mereka, yakni tentang sebuah bangsa Indonesia yang bebas dari ketertindasan. Sehingga, jalan perjuangan yang mereka tempuh, sebuah jalan yang sungguh berbeda dari kebanyakan orang pada masa itu, menjadi harga yang pantas bagi cita-cita luhur mereka.

Ke depannya, Indonesia akan berhadapan dengan tantangan-tantangan nasioanal, regional, dan global: Masyarakat Ekonomi Asean 2015, China-ASEAN Free Trade Agreement, Krisis Energi Global, Bonus Demografi 2045, dan sebagainya. Kelak, para pemuda Indonesia hari inilah yang akan mengambil tongkat estafet pembangunan bangsa di masa depan. Pemuda Indonesia hari ini sudah sepatutnya meneladani keteladanan kisah-kisah pahlawan masa lalu, mengambil semangat masanya untuk membangun masa depan.

Melalui kisah-kisah masa lalu kita dapat belajar banyak hal. Kita dapat belajar tentang pengorbanan dari Panglima Besar Jenderal Soedirman yang menenteng-nenteng tuberculosis (TBC) di paru-parunya sejak masa gerilya. Kita dapat belajar tentang keberanian dari Bung Tomo yang ‘menyambut’ perintah Inggris kepada warga Surabaya untuk menyerahkan diri dengan pekik takbir. Kita dapat belajar pula ketulusan dari Sjafrudin Prawiranegara yang tak protes kala tak dianggap sebagai presiden Republik Indonesia yang ke-2 meski faktanya beliaulah yang menyelamatkan kedaulatan Republik Indonesia ke Payakumbuh sebagai Presiden Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI). Masih-masih banyak kisah-kisah serupa yang patut kita maknai lebih dalam. Dan, sejatinya hal-hal semacam itulah yang bangsa ini butuhkan guna menyongsong kegemilangan di masa depan.

Bangsa ini akan membutuhkan pemuda-pemuda yang berani menyuarakan kebenaran dan keadilan di tengah hiruk pikuk sandiwara para elit politik yang haus kuasa. Bangsa ini akan membutuhkan pemuda-pemuda yang tulus bergerak dan berkontribusi meski tanpa sorot lampu kamera dan jauh dari hingar-bingar publisitas. Bangsa ini akan membutuhkan pemuda-pemuda yang rela membaktikan hidup dan kehidupannya bagi mereka-mereka yang membutuhkan uluran tangan meskipun dirinya sendiri belum berkecukupan.

Oleh karenanya, kesemua hal itu hanya mungkin terjadi bila di pikiran, hati, dan jiwa para pemuda Indonesia telah terhujam secara mendalam sebuah cita-cita besar, yang diyakini bersama oleh seluruhnya tanpa terkecuali, tentang sebuah Indonesia yang lebih baik dan bermartabat, yang bebas dari tindas-menindas, yang seutuhnya menjadi milik bersama bangsa Indonesia.

Pada akhirnya, takdir akan memanggil kaum tua dan kaum muda seketika menjadi generasi yang paling bertanggung jawab untuk menentukan arah gerak bangsa di masa depan. Karenanya, kesadaran pemuda untuk menyadari peran dan posisi strategisnya merupakan hal yang mendesak. Kesadaran akan peran dan posisinya akan menuntun pemuda untuk lebih cermat menata kehidupannya karena dia paham betul bahwa setiap pilihan hidupnya akan pula menentukan nasib bangsanya. Kesadaran bisa didapat salah satunya dengan meneladani kisah-kisah kepahlawanan dalam sejarah, menyerap api semangat para pejuang yang telah mengorbankan jiwa dan raganya untuk sesuatu yang mungkin tak bisa mereka nikmati hasilnya.

Melalui kisah-kisah kepahlawanan masa lalu, kita bisa memahami arti ketulusan, keberanian, dan pengorbanan. Melalui kisah-kisah tersebut pula kita belajar tentang pentingnya mempunyai cita-cita besar yang akan menjadi bahan bakar atas setiap kerja-kerja pengabdian kita untuk bangsa ini. Mari meluruskan niat, membulatkan tekad, dan menyatukan visi untuk bersama-sama membentuk Indonesia yang lebih baik dan bermartabat, yang bebas dari ketertindasan, yang menjadi milik kita bersama seutuhnya.

 

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Mahasiswa Aktif Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. Saat ini penulis juga aktif sebagai penerima Beasiswa Kepemimpinan PPSDMS Nurul Fikri dan menjabat sebagai Sekretaris Jenderal sebuah lembaga pengembangan karakter kepemimpinan di FIB UI, Pandu Budaya FIB UI.

Lihat Juga

Liqa Itu Penting