Aqidah

Mampukah Sunni dan Syiah Berdamai?

Ilustrasi. (inet)

Sekiranya kedua golongan Ahli Sunnah dan Syiah saling bersikap ta’ashub (fanatik), maka akan menghasilkan konflik dalaman. Setiap golongan merasa benar. Akhirnya bukan menambahkan perbaikan malah mengeruhkan perbedaan, sehingga terlupa agenda peningkatan status sosial umat. Sepatutnya, setiap aliran menghentikan perbincangan yang menjurus kepada pengkafiran karena dikhawatirkan timbul konflik dalam agama.

Baca selengkapnya »

Mengenal Asal Usul Syiah

Ilustrasi. (inet)

Syiah menurut etimologi bahasa arab bermakna pembela dan pengikut seseorang. Selain itu juga bermakna setiap kaum yang berkumpul di atas suatu perkara. Adapun menurut terminologi syariat, syiah bermakna mereka yang menyatakan bahwa Ali bin Abu Talib lebih utama dari seluruh sahabat dan lebih berhak untuk menjadi khalifah kaum muslimin sepeninggal Rasulullah saw.

Baca selengkapnya »

Konsepsi Pendukung dalam Syiah; Dari Klasik hingga Kontemporer (Bagian ke-1)

Ilustrasi. (inet)

Tren kontemporer dibuat benar-benar kerepotan menjawab usaha Taqi Nuri at-Thabarsi yang telah mengumpulkan riwayat-riawayat tahrīf yang berserakan yang berjumlah lebih dari 2000 riwayat. Riwayat-riwayat ini –menurut Muhibbudin al-Khotib- semestinya hanya boleh bergulir di kalangan elit intelektual Syiah saja, namun pada saat wacana ini diangkat oleh Nuri Thabarsi dalam sebuah buku, cukup menggemparkan umat Islam sehingga Syiah menjadi sasaran pentakfiran dari umat Islam dari berbagai kelompok di penjuru dunia.

Baca selengkapnya »

Sejarah Kelahiran dan Perkembangan Syiah Dua Belas Imam (Bagian ke-4)

Ilustrasi. (dakwatuna)

Syiah Muncul akibat Akumulasi Peristiwa yang Ditimbulkan oleh Peristiwa Karbala dan Berbagai Perkembangan Umat Islam Saat Itu. Di antara pendukung pendapat ini adalah Dr. Kamil Musthafa as-Syibi. Menurutnya meskipun gerakan Syiah politik telah muncul pada masa-masa awal, sebagaimana diungkap oleh beberapa peneliti di atas, namun sebagai gerakan Syiah yang spesifik baru dimulai dari gerakan Tawwabun yang muncul pada tahun 61 H.

Baca selengkapnya »

Konsepsi Syiah Dua Belas Imam, dari Tradisional Hingga Kontemporer

Ilustrasi. (blogspot.com)

Pemikiran politik Syiah Dua Belas Imam ini sebenarnya tidak paten. Akan tetapi berkembang secara metamorfosa. Karena pada mulanya, mereka meyakini bahwa bumi tidak mungkin dan tidak boleh kosong dari Imam yang maksum. Karena merekalah yang akan berperan sebagai hujjah (argumen) atas klaim kebenaran Allah, serta menjadi duta-Nya dalam menyampaikan wahyu kepada umat manusia pasca-meninggalnya Rasulullah[1]. Karena itu, mereka berkeyakinan bahwa para Imam dibekali dengan ilmu ladunni serta mendapatkan wahyu dari Allah melewati ilham.

Baca selengkapnya »

Sejarah Kelahiran dan Perkembangan Syiah Dua Belas Imam (Bagian ke-3)

Ilustrasi. (blogspot.com)

Dengan meninggalnya Utsman, maka Islam terbagi menjadi dua kelompok: Kelompok Ali dan kelompok Muawiyah. Al-hizbu (kelompok) dalam bahasa Arab disebut Syiah, dengan demikian kelompok Ali berhadapan dengan kelompok Muawiyah. Namun setelah Muawiyah naik tahta khilafah, yang bukan sekadar pemimpin dari sebuah kelompok, maka istilah Syiah pada akhirnya hanya dipakai untuk menunjukkan pengikut Ali. Pemakaian term ini juga untuk membedakan dengan kelompok khawarij, yang merupakan lawan politiknya.

Baca selengkapnya »

Sejarah Kelahiran dan Perkembangan Syiah Dua Belas Imam (Bagian ke-2)

Ilustrasi. (blogspot.com)

Hingga masa terpilihnya Abu Bakar sebagai khalifah dalam peristiwa as-Saqīfah di balairung Bani Sa`idah, belum terbentuk kubu di kalangan umat. Dalam artian; pada saat itu belum ada Islam Sunni atau Islam Syiah. Mereka adalah umat yang satu, dengan beragam ide dan gagasan. Merekapun bersatu padu dalam membangun, menyebarkan dan menegakkan agama Allah di muka bumi, meskipun terjadi beberapa perbedaan pendapat di antara mereka

Baca selengkapnya »

Sejarah Kelahiran dan Perkembangan Syiah Dua Belas Imam (Bagian ke-1)

Ilustrasi. (blogspot.com)

Hampir seluruh ulama Syiah berpendapat bahwa Syiah muncul di zaman Rasul. Menurut Muhammad Husain az-Zain al-Amily[1] dan Makruf al-Husaini[2], Rasul adalah penebar benih pertama tasyayyu' (kesyi'ahan) serta penyemainya melalui perintah-perintah yang selalu ditaati. Rasul pula yang telah memberi kabar gembira bahwa Ali dan pengikutnya telah mendapatkan ridha dari Allah, akan masuk surga, dan berada di samping kiri dan kanan Nabi serta demikian pula Ahli Baitnya.

Baca selengkapnya »