Home / Dasar-Dasar Islam / Aqidah / Imam Mahdi dari Perspektif Ahlu Sunnah Wal Jamaah (Bagian ke-3)

Imam Mahdi dari Perspektif Ahlu Sunnah Wal Jamaah (Bagian ke-3)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Tempat Kemunculan Imam Mahdi

Kemunculan imam Mahdi sebagaimana disampaikan oleh Ibnu Katsir adalah akan datang dari arah timur atau al-Masyriq. Beliau berkata: “Munculnya Mahdi dari negeri-negeri timur bukan dari gua Samarra, seperti disangka oleh orang-orang bodoh dari kalangan Syiah”[1].

Ibnu Katsir mengatakan: “Dan orang-orang dari timur mendukung (al-Mahdi), menolongnya dan menegakkan agamanya, serta mengokohkannya. Bendera mereka berwarna hitam, dan itu merupakan pakaian yang memiliki kewibawaan, karena bendera Rasulullah saw berwarna hitam yang dinamai (al-Iqab)”, kemudian beliau juga menegaskan bahwa: “Maksudnya, al-Mahdi yang terpuji yang dijanjikan keluarnya di akhir zaman asal munculnya adalah dari arah timur, dan diba’iat di Ka’bah seperti yang disebutkan oleh teks (nas) hadis” [2].

Ada pendapat lain tentang kemunculan imam Mahdi yang berbeda dengan pandangan Ibu Katsir, yaitu bahwa imam Mahdi akan keluar dari arah barat atau maghrib, ini pendapat Imam al Qurtubi.

Namun bagi penulis yang tepat adalah pandangan yang mengatakan bahwa tempat kemunculan imam Mahdi adalah dari arah timur yaitu bumi Allah sebelah bahagian timur (masyrik), sebagaimana riwayat yang jelas menunjukkan demikian, seperti riwayat berikut:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ أَقْبَلَ فِتْيَةٌ مِنْ بَنِي هَاشِمٍ فَلَمَّا رَآهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اغْرَوْرَقَتْ عَيْنَاهُ وَتَغَيَّرَ لَوْنُهُ قَالَ فَقُلْتُ مَا نَزَالُ نَرَى فِي وَجْهِكَ شَيْئًا نَكْرَهُهُ فَقَالَ إِنَّا أَهْلُ بَيْتٍ اخْتَارَ اللَّهُ لَنَا الْآخِرَةَ عَلَى الدُّنْيَا وَإِنَّ أَهْلَ بَيْتِي سَيَلْقَوْنَ بَعْدِي بَلَاءً وَتَشْرِيدًا وَتَطْرِيدًا حَتَّى يَأْتِيَ قَوْمٌ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ مَعَهُمْ رَايَاتٌ سُودٌ فَيَسْأَلُونَ الْخَيْرَ فَلَا يُعْطَوْنَهُ فَيُقَاتِلُونَ فَيُنْصَرُونَ فَيُعْطَوْنَ مَا سَأَلُوا فَلَا يَقْبَلُونَهُ حَتَّى يَدْفَعُوهَا إِلَى رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي فَيَمْلَؤُهَا قِسْطًا كَمَا مَلَئُوهَا جَوْرًا فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ مِنْكُمْ فَلْيَأْتِهِمْ وَلَوْ حَبْوًا عَلَى الثَّلْجِ

Dari Abdullah bin Mas’ud berkata: “Semasa kami berada di sisi Rasulullah saw, tiba-tiba sekumpulan pemuda daripada Bani Hasyim datang. Ketika Rasulullah saw melihat mereka, kedua-dua mata baginda berlinang air mata dan rona wajah Rasulullah saw berubah. Maka aku berkata, “Kami melihat pada wajahmu rona kesedihan yang membuatkan kami gelisah”. Rasullah saw lantas bersabda: “Sesungguhnya kami Ahlul Bait. Allah swt telah memilih akhirat untuk kami daripada dunia. Dan sesungguhnya sepeninggalku, keluargaku akan menemui bencana-bencana dan pengusiran. Sehingga datang suatu kaum dari arah timur, bersama-sama mereka ada bendera berwarna hitam. Mereka meminta kebaikan, namun mereka tidak diberi, lalu mereka memerangi dan mendapat pertolongan sehingga mereka diberi apa yang mereka minta, tetapi mereka tidak menerimanya. Sehingga mereka menyerahkan kepemimpinan kepada seorang daripada keluargaku. Lalu dia memenuhi bumi ini dengan keadilan sebagaimana orang memenuhinya dengan kezaliman. Barang siapa antara kamu menemuinya, maka datanglah kepada meraka, walaupun dengan merangkak di atas salju”. (Sunan Ibnu Majah, no: 4072).

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْتَتِلُ عِنْدَ كَنْزِكُمْ ثَلَاثَةٌ كُلُّهُمْ ابْنُ خَلِيفَةٍ ثُمَّ لَا يَصِيرُ إِلَى وَاحِدٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تَطْلُعُ الرَّايَاتُ السُّودُ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ فَيَقْتُلُونَكُمْ قَتْلًا لَمْ يُقْتَلْهُ قَوْمٌ ثُمَّ ذَكَرَ شَيْئًا لَا أَحْفَظُهُ فَقَالَ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَبَايِعُوهُ وَلَوْ حَبْوًا عَلَى الثَّلْجِ فَإِنَّهُ خَلِيفَةُ اللَّهِ الْمَهْدِيُّ

Dari Tsauban, Rasulullah saw bersabad: Akan berperang tiga orang di sisi perbendaharaan kamu. Mereka semua adalah putera khalifah, tetapi tidak ada seorang pun antara mereka yang berjaya menguasainya. Kemudian muncullah bendera-bendera (panji) hitam dari arah timur, lantas mereka membunuh kamu dengan suatu pembunuhan yang belum pernah dialami oleh kaum sebelum kamu. Maka jika kamu melihatnya, lakukan bai’at walaupun dengan merangkak di atas salju, karena dia ialah khalifah Allah”. (Sunan Ibnu Majah, no: 4074).

Diceritakan bahwa pembai’atan imam Mahdi akan dilakukan di antara rukun (Hajar Aswad) dan Maqam (Ibrahim), sebagaimana dalam hadis disebutkan dengan jelas:

يُبَايَعُ لِرَجُلٍ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْمَقَامِ، وَأَوَّلُ مَنْ يَسْتَحِلُّ هَذَا الْبَيْتَ أَهْلُهُ، فَإِذَا اسْتَحَلُّوهُ، فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ هَلَكَةِ الْعَرَبِ، ثُمَّ تَجِيء الْحَبَشَةُ، فَيُخَرِّبُونَهُ خَرَابًا لاَ يُعَمَّرُ بَعْدَهُ، وَهُمُ الَّذِينَ يَسْتَحِلُّونَ كَنْزَهُ.

“Seorang laki-laki akan dibai’at di antara rukun (Hajar Aswad) dan Maqam (Ibrahim). Tidak ada yang dapat menghalalkan Ka’bah kecuali penduduk di sekitarnya, maka apabila mereka telah menghalalkannya, jangan ditanya lagi akan kehancuran orang-orang Arab. Kemudian orang-orang Habasyah akan datang untuk merobohkannya hingga benar-benar roboh, dan tidak akan ada lagi yang dibangun setelah itu untuk selama-lamanya. Merekalah yang mengeluarkan perbendaharaan Ka’bah”. (Sahih Ibnu Hibban, no: 6827).

Tanda-tanda Kemunculan Imam Mahdi

Di antara tanda-tanda munculnya Imam Mahdi di akhir zaman, dalam sebuah hadis Nabi Muhammad saw memberikan sebuah gambaran umum tentang tanda kedatangan Imam Mahdi. Ia akan diutus ke muka bumi tatkala perselisihan, perbalahan dan pergaduhan antar-manusia yang semakin keras dan merajalela, terjadinya banyak musibah gempa. Dan kedua fenomena sosial dan fenomena alam ini telah menjadi semarak di berbagai negeri dewasa ini.

أُبَشِّرُكُمْ بِالْمَهْدِيِّ يُبْعَثُ فِي أُمَّتِي عَلَى اخْتِلَافٍ مِنْ النَّاسِ وَزَلَازِلَ فَيَمْلَأُ الْأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلًا كَمَا مُلِئَتْ جَوْرًا وَظُلْمًا

“Aku khabarkan berita gembira mengenai kedatangan imam Mahdi yang diutus Allah ke tengah umatku, tepatnya ketika banyak terjadi perselisihan antar-manusia dan peristiwa gempa-gempa. Ia akan penuhi bumi dengan menegakkan keadilan dan kejujuran sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kesewenang-wenangan dan kezaliman” (Musnad Ahmad, no: 10898).

Dalam hadis lain, digambarkan bahwa kedatangan Imam Mahdi akan disertai tiga peristiwa besar dan penting, sehingga akan menarik perhatian manusia ketika itu, ianya adalah:

  • Pertama: Perselisihan berkepanjangan sesudah kematian seorang pemimpin.
  • Kedua: dibai’atnya seorang lelaki (Imam Mahdi) secara paksa di depan Ka’bah.
  • Ketiga: terbenamnya pasukan yang ditugaskan untuk menangkap Imam Mahdi dan orang-orang yang berbai’at kepadanya. Allah benamkan seluruh pasukan itu kecuali disisakan satu atau dua orang untuk melaporkan kepada penguasa zalim yang memberikan mereka perintah untuk menangkap Imam Mahdi. Hal ini dijelaskan dalam sebuah riwayat:

يَكُونُ اخْتِلَافٌ عِنْدَ مَوْتِ خَلِيفَةٍ فَيَخْرُجُ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ هَارِبًا إِلَى مَكَّةَ فَيَأْتِيهِنَاسٌ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ فَيُخْرِجُونَهُ وَهُوَ كَارِهٌ فَيُبَايِعُونَهُ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْمَقَامِ وَيُبْعَثُ إِلَيْهِ بَعْثٌ مِنْ أَهْلِ الشَّامِ فَيُخْسَفُ بِهِمْ بِالْبَيْدَاءِ بَيْنَ مَكَّةَ وَالْمَدِينَةِ

“Akan terjadi perselisihan setelah wafatnya seorang pemimpin, maka keluarlah seorang lelaki dari penduduk Madinah mencari perlindungan ke Mekkah, lalu datanglah kepada lelaki ini beberapa orang dari penduduk Mekkah, lalu mereka membai’at Imam Mahdi secara paksa, maka ia dibai’at di antara Rukun dengan Maqam Ibrahim (di depan Ka’bah). Kemudian diutuslah sepasukan manusia dari penduduk Syam, maka mereka dibenamkan di sebuah daerah bernama Al-Baida yang berada di antara Mekkah dan Madinah.” (Sunan Abu Daud, no: 3737).

Tatkala Allah mengizinkan Imam Mahdi untuk menang dalam berbagai peperangan yang dipimpinnya, maka pada akhirnya ia akan memimpin dunia dengan pola dan garis kepemimpinan berlandaskan aqidah Tauhid, yaitu penghambaan manusia kepada Allah semata. Dan akan terbukti kemenangan-kemenangan peperangan yang akan dipimpin oleh Imam Mahdi. Sebagaimana janji Allah swt dalam hadis:

تَغْزُونَ جَزِيرَةَ الْعَرَبِ فَيَفْتَحُهَا اللَّهُ ثُمَّ فَارِسَ فَيَفْتَحُهَا اللَّهُ  ثُمَّ تَغْزُونَ الرُّومَ فَيَفْتَحُهَا اللَّهُ ثُمَّ تَغْزُونَ الدَّجَّالَ فَيَفْتَحُهُ اللَّهُ

“Kalian perangi jazirah Arab dan Allah beri kalian kemenangan. Kalian perangai kemudian Parsi (negara Iran), dan Allah beri kalian kemenangan. Kemudian kalian perangi Rum, dan Allah beri kalian kemenangan. Kemudian kalian perangi Dajjal, dan Allah beri kalian kemenangan.” (Sahih Muslim, no: 5161).

Tujuan Kemunculan Imam Mahdi

Kehadiran imam Mahdi di tengah umat manusia di akhir zaman membawa misi untuk mengakhiri segala tindakan kezaliman, penyelewengan dan kemungkaran yang merajalela di dunia, segalanya dibersihkan dan ditegakkan dengan “Dinul Islam” yang bersumberkan dari ajaran asli Quran dan Hadis semata.

Dengan kehadiran imam Mahdi, maka tumbuhlah sikap optimis dan semangat serta harapan baharu bagi diri manusia untuk hidup sejahtera, tenteram dan bahagia, sebab di antara peranan utama kehadiran imam Mahdi adalah untuk menertibkan dan mengatur semula dunia dari kehancuran kepimpinan-kepimpinan sebelumnya, imam Mahdi akan menjadi hakim yang adil, jujur dan memurnikan jiwa insan, menabur cahaya kedamaian akibat pertikaian dan peperangan, dengan cara menghentikan perang/konflik yang berkepanjangan. Dan akhir sekali adalah membangunkan dunia dengan keadilan sosial dan merata di seluruh dunia.

Ummu Salamah menyatakan bahwa Rasulullah saw bersabda:

يَكُوْنُ اخْتِلاَفٌ عِنْدَ مَوْتِ خَلِيْفَةٍ فَيَخْرُجُ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ المَدِيْنَةِ هَارِبًا إِلَى مَكَّةَ فَيَأْتِيْهِ نَاسٌ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ فَيَخْرُجُوْنَهُ وَهُوَ كاَرِهٌ فَيُبَايِعُوْنَهُ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْمَقَامِ وَيُبْعَثُ إِلَيْهِ بَعْثٌ مِنَ الشَّامِ فَيُخْسِفَ بِهِمْ بِالبَيْدَاءِ بَيْنَ مَكَّةَ وَالمَدِيْنَةِ فَإِذَا رَأَى النَّاسُ ذَلِكَ أَتَاهُ أَبْدَالُ الشَّامِ وَعَصَائِبُ أهْلِ العِرَاقِ فَيُبَايِعُوْنَهُ، ثُمَّ يَنْشَأُ رَجُلٌ مِنْ الشَّامِ أَخْوَالُهُ كَلْبٌ فَيَبْعَثُ إِلَيْهِمْ بَعْثًا فَيُظْهِرُوْنَ عَلَيْهِمْ وَذَلِكَ بَعْثُ كَلْبٍ وَالْخَيْبَةِ لِمَنْ لَمْ يَشْهَدْ غَنِيْمَةَ كَلْبٍ فَيُقَسِّمُ المَالَ وَيَعْمَلُ فِي النَّاسِ بِسُنَّةِ نَبِيِّهِمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيُلْقِيَ الإِسْلاَمَ بِجِرَانِهِ فِي الأَرْضِ فَيَلْبَثُ سَبْعَ سِنِيْنَ ثُمَّ يَتَوَفَّى وَيُصَلِّى عَلَيْهِ الُمسْلِمُوْنَ وَفِي رِوَايَةٍ فَيَلْبَثُ تِسْعَ سِنِيْنَ

“Akan muncul pertikaian saat kematian seorang khalifah. Kemudian seorang lelaki penduduk Madinah lari diri ke Kota Makkah. Penduduk Makkah pun mendatanginya, seraya memintanya dengan paksa untuk keluar dari rumahnya, sementara dia tidak mau. Lalu mereka membaiatnya di antara Rukun (Hajar Aswad) dan Maqam (Ibrahim). Disiapkanlah pasukan dari Syam untuknya hingga pasukan tersebut meraih kemenangan di Baida’, tempat antara Makkah dan Madinah. Tatkala orang-orang melihatnya, dia pun didatangi oleh para tokoh Syam dan kepala suku dari Irak, dan mereka pun membaiatnya. Kemudian muncul seorang (musuh) dari Syam, yang paman-pamannya dari suku Kalb. Dia pun mengirimkan pasukan untuk menghadapi mereka, lalu Allah memenangkannya atas pasukan dari Syam tersebut, Pasukan itu adalah pasukan (yang didorong oleh ambisi) suku Kalb dan itulah kekalahan bagi orang yang tidak mendapatkan ghanîmah Kalb. Lantas Imam Mahdi membagi-bagikan harta-harta tersebut dan bekerja di tengah-tengah masyarakat berdasarkan sunnah Rasulullah saw, menyampaikan Islam ke wilayah di sekitarnya. Tidak lama kemudian, selama tujuh tahun, dia pun meninggal dunia, dan dishalatkan oleh kaum Muslim (Dalam riwayat lain dinyatakan, tidak lama kemudian, selama sembilan tahun)”. (Sunan Abi Daud, no: 3737).

Dalam sebuah hadis disebutkan adanya empat peperangan yang akan dipimpin langsung oleh Imam Mahdi. Keempat peperangan tersebut akan dimulai dengan pembebasan jazirah Arab dari dominasi para Mulkan Jabbriyyan (raja-raja yang memaksakan kehendak seraya mengabaikan kehendak Allah dan RasulNya). Hadis tersebut sebagai berikut:

تَغْزُونَ جَزِيرَةَ الْعَرَبِ فَيَفْتَحُهَا اللَّهُ ثُمَّ فَارِسَ فَيَفْتَحُهَا اللَّهُ – ثُمَّ تَغْزُونَ الرُّومَ فَيَفْتَحُهَا اللَّهُ ثُمَّ تَغْزُونَ الدَّجَّالَ فَيَفْتَحُهُ اللَّهُ

“Kalian akan perangi jazirah Arab sehingga Allah menangkan kalian atasnya. Kemudian kalian perangi Persia sehingga Allah menangkan kalian atasnya. Kemudian kalian perangi Ruum sehingga Allah menangkan kalian atasnya. Kemudian kalian perangi Dajjal sehingga Allah menangkan kalian atasnya.” (Sahih Muslim, no: 5161). (dakwatuna.com/hdn)

— Selesai

[1] Ibnu Kathir, al-Nihayah Fi al- Malahim wa al-Fitan, 1/17.

[2] Ibnu Kathir, al-Nihayah Fi al- Malahim wa al-Fitan, 1/17.

Advertisements

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...
Prof. Dr. Kamaluddin Nurdin Marjuni
Associate Professor at Department of Akidah and Religion Studies, Faculty of Leadership and Management, Universiti Sains Islam Malaysia (USIM). Born on June 11, 1973, Indonesia. He specializes in studies comparing the doctrine and political thought of the Sunnis and Shiites. He received his bachelor degree in Islamic Law from University of Al-Azhar, Tanta-Egypt 1997, Master (2002) & PhD (2005) in Islamic Philosophy at Faculty of Darul Ulum, University of Cairo, Egypt. In 2016, he was a visiting professor at the Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Currently has written 13 books in Malay and Arabic, and published in various countries: Lebanon: 1) مَوْقِفُ الزَّيْدِيَّةِ وَأَهْلِ السُّنَّةِ مِنَ الْعَقِيْدَةِ الإِسْمَاعِيْلِيَّةِ وَفَلْسَفَتِهَا, 2009, Darul Kutub Ilmiah, Beirut. (PhD Thesis), ISBN: 978-2-7451-6255-7 2) نَشْأَةُ الْفِرَقِ وَتَفَرُّقُهَا, 2011, Darul Kutub Ilmiah, Beirut, ISBN: 9782745172464 3) اَلْعَقِيْدَةُ الإِسْلاَمِيَّةُ وَالْقَضَايَا اَلْخِلاَفِيَّةُ عِنْدَ عُلَمَاءِ الْكَلاَمِ, 2014, Darul Kutub Ilmiah, Beirut, ISBN: 13-978-2-7451-7854-1 Cairo-Egypt: 1) مَسَائِلُ الاِعْتِقَادِ عِنْدَ الإِمَامِ الْقُرْطُبِيِّ, 2009, Muassasah 'Ilyaa, Cairo-Egypt. (Master Thesis). Malaysia: 1) اَلْفِرَقُ الشِّيْعِيَّةُ وَأُصُوْلُهَا السِّيَاسِيَّةُ وَمَوْقِفُ أَهْلِ السُّنَّةِ مِنْهَا, 2009, USIM, ISBN: 978983295093-6 2) مَدْخَلٌ إِلَى عِلْمِ الْكَلاَمِ, 2011, USIM, ISBN: 978-967-5295-79-9 3) اَلْمَذَاهِبُ الْعَقَائِدِيَّةُ الإِسْلاَمِيَّةُ, 2014, USIM, ISBN: 978-967-5295-42-3 4) Agenda Politik Syiah, 2013, PTS, Malaysia, ISBN-13: 978-967-411-030-7 5) Adakah Kawanku Syiah, 2014, PTS, Malaysia, ISBN-13: 978-967-411-269-1 6) Imam Mahdi, 2016, PTS, Malaysia, ISBN-13: 978-967-411-749-8 Indonesia: 1) Syawarifiyyah, Sinonim Arab – Indonesia, 2009, Ciputat Press, Jakarta, ISBN: 978-979-3245-66-9- 2) Konflik Pemikiran Politik Aliran-Aliran Syiah, 2017, Penerbit Dar'ami, Jakarta, ISBN: 978 - 602 - 73707 - 1 - 5 His works have been collected by various universities in the world, both in the Middle East, America, Europe and Japan, even Israel and Iran, such as: Harvard University, Yale University, Penn University, Stanford University, National Library Of Israel, National Library Of Iran, Chigago University, Kyoto University, Uc Berkeley University, Ohio University, University of Arizona, University of Arizona, Washington University, New York University, University Of Toronto, Columbia University, Library Of Congress, University Of Michigan, Princeton University, Leiden University, Astan Quds Razavi Library Iran etc.

Lihat Juga

Kerap Menyebarkan Kebencian dan Hoax, PP Pemuda Muhammadiyah Laporkan Situs Seword ke Kemkominfo