Home / Pemuda / Cerpen / Masih Ada yang Bisa Kulakukan untuk Ibu

Masih Ada yang Bisa Kulakukan untuk Ibu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi - Ibu memakaikan kerudung ke anak (blogspot.com - serambidakwah)
Ilustrasi – Ibu memakaikan kerudung ke anak (blogspot.com – serambidakwah)

dakwatuna.com Subuh yang begitu indah dan menentramkan hati. Di langit masih terlihat sedikit bintang-bintang dan bulan yang membahagiakan bagi yang memandangnya. Udara yang begitu sejuk makin menentramkan hati. Sungguh indah apa yang telah diciptakan Sang Khalik. Kebahagiaan dan ketentraman merasuk dalam hati yang duduk, baring dan berdiri dengan penuh kesyukuran. Terlihat Yanti sedang membaca Al-Quran di taman depan rumah sambil sesekali memandang langit yang begitu indah. Ayam mulai berkokok, Yanti pun masuk ke dalam rumah.

“Buuuu, aku udah hafal Surah An-Naba loh!” ucap Yanti dengan penuh semangat bahagia

“Anak Ibu memang hebat, coba bacakan ke Ibu” ucap ibu tersenyum

Yanti membacakan Surah An-Naba di depan Ibu dengan suara yang begitu indah, Yanti memang terkenal di sekolahnya dengan keindahan bacaan Qurannya.

Ibu Yanti terdiam dan sedikit meneteskan air mata. Terlihat ketenangan dan kebahagian tiba-tiba memancar dari wajah Ibu Yanti.

“Ibu nangis ya? Itu pasti karena bacaan Yanti yang bagus kan? hehe” Yanti menggoda Ibu dengan senyum tawa

“Mata Ibu tadi ketiup angin pagi hehe” jawab Ibu sambil mengelap air mata

“Udah, cepetan kamu siap-siap pergi sekolah” ucap Ibu

“Baik, Ibu Yanti yang cantik hehe” jawab yanti dengan senyum manisnya

Matahari mulai menyinari indahnya pagi..

“Buuuu, Yanti pamit yaa… Assalamu’alaikum” ucap Yanti

“Wa’alaikumsalam, hati-hati ya Yanti” jawab Ibu

“Okee bu” jawab Yanti dengan senyuman yang menjadi ciri khasnya di lingkungan rumah

Kehidupan sekolah Yanti dimulai lagi. Ini adalah hari pertama Yanti masuk sekolah setelah liburan panjang kelas XII semester ganjil dan memasuki semester genap. Yanti dengan mengendarai motor, akhirnya sampai juga di sekolahnya. Saat memasuki kelas, terlihat senyuman Yanti kian berkurang. Ternyata Yanti dari kelas X sering diejek-ejek saat di kelas karena tidak mau memberikan contekan kepada teman-temannya. Bukan karena Yanti pelit tapi Yanti paham dengan memberikan contekan hanya membodohi teman-temannya. Yanti sendiri mempersilahkan teman-temannya belajar dengannya jika ada temannya yang tidak paham dengan suatu pelajaran tapi Yanti enggan memberikan contekan. Yanti memang terkenal sebagai juara umum di sekolahnya sehingga tidak sedikit yang belajar dengannya.

“Hai pelit, masih hidup aja loe ya, haha” ucap Toni tertawa menghina

“Hahaha…” Rino, Rika dan Guna ikut tertawa

Yanti diam kesal.

“Udah biarin aja orang-orang sirik itu yan” ucap Anita menghibur

“Iya, gak penting juga yan dipikirin” ucap Andi tersenyum

“Bener, terima kasih ya nit, di” ucap Yanti dengan senyum memaksa

Bel istirahat pertama dibunyikan. Yanti berjalan ke mushalla sendirian. Yanti memang rutin shalat dhuha setiap pagi.

“Hei hei pelit, kamu mau shalat dhuha? Munafik loe, gak pantes orang pelit shalat dhuha haha” Ucap Toni sambil tertawa terbahak-bahak dengan Rino, Rika dan Guna

Yanti mempercepat langkah menuju mushalla. Mata Yanti mulai berkaca-kaca

Kring… Kring… Kring… Tak terasa bel pulang telah dibunyikan. Yanti segera pulang ke rumah karena tak betah lama-lama di kelas.

“Buuu, buu Yanti dihina lagi oleh teman-teman di sekolah” ucap Yanti sambil menangis

“Memang teman Yanti bilang apa?” tanya Ibu

“Masa Yanti dibilang pelit lalu Yanti diketawain teman-teman” jawab Yanti sambil mengelap air mata

“Yanti sabar aja ya, Kan Yanti udah mau lulus dari SMA, ingat impian Yanti di UGM, kalau udah masuk UGM nanti ada teman-teman baru yang sayang sama Yanti” ucap Ibu menghibur

“iya bu, semoga nanti ketemu sama teman-teman baik, gak seperti teman-teman yang sekarang, terima kasih ya bu” jawab Yanti senyum

Yanti masuk kamar lalu membaca sebuah buku. Di buku itu tertulis sebuah hadits dari Nabi Muhammad SAW yang amat sangat Yanti cintai. Yanti sangat mengidolakan dan merindukan bertemu dengan Sang Nabi. “Jika mati anak Adam, maka putuslah amalnya kecuali tiga perkara. Pertama shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang selalu mendoakan” inilah bunyi hadits di buku itu. Tiba-tiba Yanti tertarik untuk menuliskan hadits ini di sebuah kertas lalu Yanti menempelkan di dinding kamarnya.

“Buuu, Yanti akan jadi anak shalihah yang selalu mendoakan Ibu” ucap Yanti pelan sambil tersenyum

Hari demi hari berlalu. Sekarang anak-anak kelas XII SMA mulai tegang. Hari ini adalah hari di mana Ujian Nasional (UN) dimulai. UN dimulai jam 07:30. Yanti dan teman-teman telah berada di ruang kelas pukul 07:00.

“Yanti! Nanti kasih aku contekan ya” ucap Toni

“Gak ah” jawab Yanti

“Haha aku tau jawaban loe, gw gak butuh jawaban loe, gw dan teman-teman udah ada bocoran kunci” ucap Toni tertawa

“hei teman-teman, ada wanita sok suci nih di kelas kita, dia gak mau nyontekin kita dan memilih gak mau pakai kunci jawaban” teriak Toni di kelas

“Hahaha…..” suara ribut di kelas menertawakan Yanti

Terlihat Yanti tertunduk sambil menahan air matanya yang mulai menetes.

Kring… Kring… Kring….. Ujian hari pertama selesai. Yanti bergegas pulang ke rumah.

“Buuuu, tadi Yanti ditertawakan anak-anak 1 kelas karena gak mau ngambil bocoran soal, Yanti juga dibilang sok suci, Yanti malu bu” ucap Yanti sambil menangis tak tertahankan

“Yanti sabar ya, ingat impian Yanti di UGM, kalau udah lulus kan mereka gak bisa ngejek-ngejek lagi” ucap Ibu

“Iya, Ibu benar” ucap Yanti menunduk

“Ibu doain Yanti nanti masuk UGM dan sukses, nanti teman-teman yang sering ngejek Yanti di kelas bakalan diam seribu bahasa melihat Yanti sukses, Yanti punya perusahaan yang besar dan mereka jadi pegawai Yanti” ucap Ibu tertawa

“Bisa aja Ibu ini” jawab Yanti dengan wajah yang mulai tersenyum

“Terima kasih ya bu, Yanti mulai semangat lagi nih, terima kasih bu udah ingatin impian Yanti ke UGM, doain Yanti ya bu agar masuk UGM” ucap Yanti tersenyum

“Iya, insya Allah Yanti masuk UGM nanti” ucap Ibu

Yanti pun memeluk Ibu. Terlihat suasana mengharukan dan membahagiakan di rumah itu.

Hari-hari mulai berlalu. Tiba saatnya pengumuman SNMPTN. Yanti, Anita dan Andi rencana akan bersama-sama membuka hasil pengumuman SNMPTN di rumah Andi. Tepat jam 5 sore hasil SNMPTN dapat dilihat di internet. Sekarang jam sudah menunjukkan pukul 4 kurang 15 menit.

“Yanti, hari ini pengumuman SNMPTN kan?” tanya Ibu batuk

“Iya buuuu, Yanti udah gak sabar ngelihat hasil pengumumannya, bu doain Yanti ya lolos UGM” jawab Yanti sangat senang

“Anak Ibu pasti masuk UGM lah, anak Ibu gitu” ucap Ibu tertawa

“Aamiin… Terima kasih Ibu Yanti tercinta” ucap Yanti tertawa

“Iya, Yanti sayang” jawab ibu sambil batuk-batuk

“Ada apa bu kok batuk-batuk? Ibu sakit?” tanya Yanti cemas

“Enggak, Ibu cuma batuk-batuk biasa” jawab Ibu sambil tersenyum

“Kalau Yanti nanti masuk UGM, Yanti harus tetep rajin baca Quran dan jadi anak shalihah” ucap Ibu tersenyum sambil menatap wajah anaknya, seolah-olah ingin mengingat bagian demi bagian di wajah Yanti

“Iya ibu sayang, Yanti sayang Ibu” jawab Yanti tersenyum bahagia

Yanti langsung memeluk ibunya, perasaan bahagia dan ketentraman yang tak pernah dirasakan sebelumnya menyelimuti Yanti. Yanti merasa ada yang aneh tapi tak menghiraukan perasaannya itu. Yanti pamit dengan Ibunya dan pergi menuju rumah Andi.

“Nit, 15 menit lagi nih pengumumannya” ucap Yanti dengan muka cemas

“Aduuuuh, iya bener yan” jawab Anita tegang

“Yuk kita baca Quran sebentar sebelum buka pengumuman ini, biar adem hehe” ucap Andi

“Hei hei hei udah jam 5 nih, siapa yang mau buka pengumuman duluan?” tanya anita semakin tegang

“Aku duluan ya lalu buka punyamu nit, Yanti belakangan aja karena pilihannya UGM” jawab Andi

“Yeeee kita lolos nit, kita lolos nit di UNIMAL” Andi teriak

“Alhamdulillah, terima kasih ya Allah” jawab Anita sangat senang

“Oke, sekarang buka punya Yanti, tapi UGM loh nih, bisa gak ya Yanti lolos” ucap Andi ragu

“Yan, yan, yan….” ucap Andi wajahnya mulai serius

“Ada apa? Gak lolos ya?” tanya Yanti murung

“Kamu lolos UGM yan, iya bener nih lolos, UGM yaaaan!” Andi teriak bahagia

“Apa kata kamu di? Yang benar? Alhamdulillah, terima kasih ya Allah” ucap Yanti senyum dan menetekan air mata lalu sujud syukur

“Selamat yan, kamu mendapatkan UGM yang sudah kamu impikan dari dulu, Ibumu pasti bangga padamu” ucap Anita terharu

“iya bener, Ibu. Aku harus segera pulang dan mengabarkan ke Ibu kalau aku lolos UGM” ucap Anita bahagia tak terbayangkan

“Aku pamit ya teman-teman, Assalamu’alaikum” ucap Yanti

“Wa’alaikumsalam, hati-hati yan” Andi dan Anita serentak

Yanti berjalan menuju rumah dengan wajah ceria

“Ibu pasti bangga dengan aku nih, UGM, gimana ya reaksi Ibu nanti? Pasti terkejut dan tak mampu berkata-kata hehehe” ucap Yanti dalam hati dengan girang

Sesampainya di rumah . . . . . .

“Ada ramai-ramai apa nih di rumahku” ucap Yanti bingung

Yanti mulai mendekat

“Yanti! Yanti! Ibumu! Ibumu!” teriak salah seorang tetangga Yanti

“Ada apa dengan Ibuku bi?” tanya Yanti cemas

“Ibumu telah meninggal dunia”

Yanti terdiam dan berlari menuju ke dalam rumah. Dilihatnya seorang berbaring, tubuhnya ditutupi oleh kain. Yanti membuka kain tersebut dan didapati Ibunya telah tiada.

“Buuu, tau gak Yanti masuk UGM, Yanti masuk UGM!” ucap Yanti dengan lantang, Yanti tersenyum diiringi dengan tetesan-tetesan air mata yang membasahi pipinya

“Akhirnya doa Ibu dikabulkan bu, doa ibu dikabulkan dan sekarang Yanti masuk UGM, Ibu senang kan? Ibu senang kan? Kok Ibu diam? Yanti tau, Ibu pasti terkejut kan karena Yanti masuk UGM dan Ibu tak mampu berkata-kata” tanya Yanti dengan senyuman dan air mata

Yanti tau bahwa Ibunya telah meninggal dan tak mungkin akan menjawab pertanyaannya. Ia hanya tak ingin menahan pertanyaan yang sudah lama ia ingin lontarkan kepada Ibunya. Setelah mengeluarkan pertanyaan itu, perasaan Yanti mulai lega.

“Yanti, sudah sudah, Ibumu sudah meninggal, ikhlaskan kepergiannya” ucap seseorang didekat Yanti

“Iya, Yanti tau kalau Ibu sudah lebih dulu menuju surga” ucap Yanti menunduk dan memejamkan mata

Sudah 3 hari telah berlalu sejak meninggalnya Ibu Yanti. Andi dan Yanita mengunjungi rumah Yanti.

“Permisi om, Yanti ada di rumah?” tanya Andi kepada Ayah Yanti

“Iya ada, tapi sekarang Yanti lagi ada di kamar, semenjak Ibunya meninggal, dia sering menyendiri di kamar, keluar hanya untuk makan” jawab Ayah Yanti sedih

“Om udah berusaha menghiburnya tapi tak bisa mengatasi kesedihannya, semoga kalian dapat membantu mengatasi kesedihan Yanti, Om panggil Yanti dulu ya” ucap Ayah Yanti penuh harap

“Baiklah Om” ucap Anita

Yanti datang dengan muka murung

“Eh Andi dan Anita, ada apa ke sini?” tanya Yanti senyum terpaksa

“Keren nih Yanti udah bisa maksain senyum di depan kita hehe” Andi berusaha menghibur Yanti

Setelah bercakap-cakap cukup panjang, tiba-tiba Anita bertanya suatu hal yang mengejutkan Yanti.

“Yan, aku mau nanya suatu hal, maaf ya sebelumnya, adakah nasihat terakhir sebelum Ibumu meninggal?” tanya Anita

Yanti terdiam dan menatap keluar jendela.

“Nit, di aku masuk ke kamar dulu ya” ucap Yanti senyum

“Eh maaf ya yan kalau pertanyaan tadi malah menyinggung kamu” ucap Anita

“Gak kok nit” ucap Yanti

Yanti kembali ke kamarnya dan duduk di atas tempat tidurnya. Yanti mengambil Alquran yang ada di dekat tempat tidurnya dan membuka surah pembuka juz 30, An-Naba. Lalu Yanti membaca surah itu sampai selesai dengan air mata yang bercucuran.

“Bu, dulu Ibu menangis saat Yanti membaca surah ini dan sekarang malah Yanti yang menangis” Yanti menghadap ke dinding kamarnya sambil menangis

Yanti melihat ada tempelan kertas di dinding kamarnya. Lalu Yanti berdiri dan mendekat untuk membaca tulisan itu. Di sana tertulis “Jika mati anak Adam, maka putuslah amalnya kecuali tiga perkara. Pertama shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang selalu mendoakan”. Setelah membaca hadits tersebut Yanti tersenyum, terlihat bahagia.

“Tak ada gunanya sedih terus-menerus, Masih Ada yang bisa kulakukan untuk Ibu” ucap Yanti serius

Yanti keluar kamar dan menuju ke taman di depan rumah. Setelah itu memandang ke langit, merasakan kebesaran ciptaan Allah. Terasa tentram hati Yanti.

“Bu, Yanti akan menjadi anak yang shalihah dan selalu mendoakan ibu” terpancar senyum bahagia dari wajah Yanti

Bu, kita ketemu lagi di Jannah-Nya.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 8,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Radin Pendriya
Biro Khusus Kaderisasi Jama'ah Shalahuddin UGM 1437 H

Lihat Juga

Tidur yang baik dan menyehatkan ala Rasulullah, SAW (ilustrasi) - heruno.me)

Kala Ibu Terlelap