Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Aku Ingin Hijrah, Nanti…

Aku Ingin Hijrah, Nanti…

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi - (wordpress.com/stanvaganza)
Ilustrasi – (wordpress.com/stanvaganza)

dakwatuna.comJika perubahan harus karena memang fitrah. Jika hijrah harus agar terjaga. Aku siap.

Kusematkan jarum pada lipatan kecil yang kubuat pada kain panjang yang terjulur menutupi dadaku. Kantung mataku masih sembab, bekas semalam. Entahlah, semalam aku begitu melankolis. Tak banyak yang kuingat. Berusaha mengingat, tapi makin menjadi peningnya. Banyak hal yang kupikirkan. Dominannya tentang keputusan ini. Aku masih di antara ragu, tapi malu. Akan semakin malu jika dikalahkan raguku.

Aku sedang berada dalam keputusan yang masih mengambang. Aku tak yakin ini niatan karena tergugah, tapi ada maksud lain. Aku jatuh. Iya, aku jatuh pada seseorang yang sebelumnya membuatku jatuh secara iman. Yang meretaskan kembali kesadaran akan fitrahku. Aku merasa dosa, iba melihat diriku sendiri. Saking banyaknya laku hina yang tak pantas.

Perkenalan kami karena ketaksengajaan berada dalam organisasi kampus yang sama. Tak banyak interaksi karena berbeda divisi. Lagi, tugas kami tak terlalu menuntut untuk bekerja sama antar divisi. Mungkin hanya sekali dua kali. Selebihnya tak ada.

Sampai suatu saat kami dalam kepanitiaan. Saat itu pula akhirnya aku menaruh perhatian padanya. Terlantun lembut ayat suci yang menggema di seluruh ruangan. Berlari menghampiri pintu ruangan, mendengarnya seksama. Aku tersentuh, tak bisa berkata. Betapa indah itu terpancar saat dia yang membacanya. Mengapa tak tersentuh saat orang lain?

Tanpa sadar, setelah itu aku terus memutar rekaman tilawahnya dalam pikiran. Mengais-ngais memori yang pecah belah. Kucoba satukan, tapi hanya beberapa. Allah, sebegitu rindukah aku mendengar lantun itu?

Aku terus saja berusaha menepiskan kerinduan ini. Takut larut lebih jauh. Takut ini menjadi niatan beda bukan karena rindu lantunnya justru sosoknya. Akhirnya, terputuslah keinginan untuk itu.

Ternyata semakin mencoba menghindari, frekuensi pertemuan kami semakin menjadi. Semakin buncah perasaan. Allah, kuatkan aku.

Dia hanya diam, meyapa sekenanya. Masuk kemudian duduk. Dibukanya tas yang sedari tadi gantung di punggungnya. Mengeluarkan buku bersampul kulit miliknya. Tilawah. Beda dengan aku di sini yang berkumpul dengan beberapa. Membincangkan topik yang tak seharusnya. Allah, betapa sia-sia yang kulakukan sedang banyak orang berlomba menuju kebaikan. Meraih ridha-Mu.

Akhirnya aku luluh. Dikalahkan keinginan untuk mencapai-Nya juga. Aku ingin hijrah!

Mulai dengan perubahan kecil. Perubahan paling signifikan yang kulakukan pada penampilan. Tak kusentuh lagi celana. Kuperbanyak lapisan penutup kepala agar tak transparan. Sedikit menjaga sikap. Malu. Malu pada diri sendiri, malu pada orang lain. Terlebih malu pada Allah.

Saat itu aku benar-benar yakin akan sejajar dengannya dan lebih mudah untuk dekat. Ternyata aku salah. Dengan aku yang sekarang, semakin banyak yang menjaga.

Semakin berlalu, aku semakin sadar rasaku ini salah. Aku sadar perubahan ini belum nyata. Niatnya. Aku menyelewengkan niat dan sedikit bermaksiat. Harusnya aku lurus karena ingin menjadi bagian dalam surga-Nya. Tapi, masih saja aku membelok. Berharap perubahan ini menjadi alternatif bagiku agar semakin dekat dengannya. Yang berarti aku masih ragu atas janji-Nya bahwa setiap dari kami (manusia) diciptakan berpasangan. Dan laki-laki yang baik untuk wanita yang baik begitu pula sebaliknya. Lantas apa yang kucari? Tak cukupkah hanya dengan memperbaiki? Buat apa sibuk memikirkan yang sebenarnya belum tentu itu yang tertulis pada Lauh Mahfudzku.

Seberapa besar dorongan untuk menjadikannya, seberapa sering memimpikannya. Tak jauh lah aku dari kata sia-sia, karena yang kulakukan sebatas berubah agar dapat mendampinginya, sedang yang lain berubah agar dapat didampingi-Nya.

Benar aku menginginkannya kelak menjadi penunjuk jalan gelapku dengan pendar imannya. Menjadi rengkuh saat aku jatuh, menjadi emisi saat tak cukup kuat berlari. Aku juga tak menepis keinginan membina ikatan yang abadi, membangun pondasi. Tapi, dengan aku yang sekarang tak cukup pantas jika aku mendambanya. Strata kami berbeda. Aku jauh di bawah sedang dia dengan cepat melesat keatas saat aku mencoba mengejarnya perlahan.

Yang kulakukan sekarang mempercepat lajuku. Aku ingin dekat dengan Allahku lantaran ingin menjadikannya. Memantaskan diri agar sejajar. Aku sudah cukup jauh saat lalu. Cukuplah rindu kutimbun. Nantinya jikalau kami segaris, semoga Allah mempertemukan pada titik peraduan yang terjemput Rahman dan Rahim-Nya. Yang terlandas atas kecintaan kepada-Nya. Iya, nanti.

“Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, laki-laki yang keji untuk perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untu laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga).” (QS. An-Nuur: 26)

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 8,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Lihat Juga

Screenshoot Tausiyah Cinta (spesial)

Ada Apa Dengan Hijrah?