Home / Pemuda / Kisah / Alunan Cinta Sang Ulama Rabbani

Alunan Cinta Sang Ulama Rabbani

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: inet)
Ilustrasi. (Foto: inet)

dakwatuna.com – Hari duka itu sampai ke Thaif…

Ibnu Hanafiyah mengusap wajahnya. Ia mempercepat langkah kaki, diamnya menunjukkan kegelisahan. Tapak-tapak jalan yang dilalui terasa begitu panjang. Kedatangannya ditunggu. Sedikit belokan menuju tujuan, langkah kakinya sudah dijajari banyak orang. Tujuan mereka sama, dan pikiran mereka sama, tertuju pada Ibnu Abbas yang baru saja wafat. Lagi-lagi Ibnu Hanafiyah mengusap wajahnya, nafasnya berat.

Tadi Ibnu Hanafiyah mendapat kabar bahwa Ibnu Abbas baru saja wafat. Kabar yang membuat telinganya berdenging-denging dan hatinya menyemai duka. Satu lagi ilmu lenyap. Teringat olehnya keteladan masyhur tentang sang sahabat, Ibnu Abbas. Ibnu Abbas yang mencintai ilmu dan merendahkan diri untuk mendapatkan ilmu. Tentang doa yang dilirihkan Rasulullah untuk Ibnu Abbas, yang dengannya Ibnu Abbas melesat menjadi mufassir terbaik. Teringat olehnya ketepatan tafsiran Ibnu Abbas dan kejelian pandangannya ketika surah An-Nashr diturunkan. Bahwa turunnya surah An-Nashr adalah pertanda wafatnya Rasulullah. Bahkan Ibnu Khattab terdiam dan kata-kata Ibnu Abbas dibuktikan Allah Azza wa Jalla dalam nyata. Ibnu Hanafiyah membiarkan airmatanya mengalir, hatinya masih dirundung sedih.

Waktu terus menggelinding dan Ibnu Hanafiyah maju mengimami shalat jenazah. Betapa kematian benar-benar menjadi penasihat. Dipandanginya Ibnu Abbas, “Telah meninggal seorang ulama rabbani untuk umat..” Gumamnya, dengan isak yang meminang kesedihan.

Maka tangis pecah dalam sepersekian detik. Murid-murid Ibnu Abbas berjejal, bersedih kehilangan sang guru. Mayat diangkat dan keranda dipindahkan. Mereka berjalan dengan dada sesak. Mengenang dan bertanya-tanya apakah mereka bisa meneladani sang guru. Tentang keteguhan dan kegigihan sang Ibnu Abbas, mufassir yang didoakan Rasulullah shallallahu alaihi wa salam. Keteguhan dan kegigihan Ibnu Abbas adalah nama Ibnu Abbas itu sendiri. Harapan untuk Ibnu Abbas melesat kepada Maha Rahman melalui lisan Rasulullah, “Ya Allah, berikan dia keahlian dalam agama-Mu, dan ajarilah ia tafsir kitab-Mu.” Demikian doa Rasulullah.

Ibnu Abbas telah menemui waktunya. Dengan perlahan tanah disurukkan dan kubur mulai terbentuk. Ibnu Hanafiyah terus berdzikir mengagungkan Allah. Menyebut-nyebut-Nya, mengingat-Nya, apalagi di suasana sarat dengan duka. Sebentar ia memejamkan mata, lalu menatap kedua tangannya. Baru saja ia meletakkan jenazah Ibnu Abbas ke dalam tanah. Hatinya bergetar. Kematian begitu dekat.

Kubur telah tercipta. Ibnu Hanafiyah lekat memandangi tanah gembur di hadapannya. Hatinya bersedih, melambungkan cintanya pada Ibnu Abbas yang kini tak lagi ia temui sosoknya. Ibnu Abbas telah terpendam dalam bumi. Bersatu dengan alamnya yang baru, alam kubur. Desah nafas Ibnu Hanafiyah mengeras. Ia telah menangis sedari tadi. Dan sesaat kemudian tangis itu terhenti, demi mendengar sebuah suara yang sangat mengejutkan. Ibnu Hanafiyah menggenggam tangannya yang berkeringat.

“Hai jiwa yang tenang…”

Ibnu Abbas terbayang di pelupuk mata mereka yang sedang terkesiap. Suara itu dekat sekali. Menyambangi telinga mereka dengan jelas. Suara tersebut berasal dari kubur yang baru saja mereka tabur. Suara keindahan semesta, suara Al-Quran yang tidak diketahui siapa yang membacanya.

“…Kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya..”

Suara itu masih saja bergema. Meninggalkan embun-embun iman pada pendengarnya. Mengalirkan air takwa yang jernih ke dalam relung-relung hati. Ibnu Hanafiyah menahan tangisnya, tiba-tiba ia begitu merindukan Ibnu Abbas.

“..Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku..”

Mereka para pengantar jenazah berpandang-pandangan. Ayat-ayat cinta ini mengiringi perginya sang Ibnu Abbas. Cinta yang begitu besar untuk Ibnu Abbas telah terbentang nyata. Langit dan bumi merindukannya. Tanah berbahagia menerima jasadnya, dan Al-Quran pula yang akan menjaganya.

“…Dan masuklah ke dalam surga-Ku” (QS al-Fajr 27-30).

Ibnu Abbas, hidup matimu membawa Al-Quran dengan cinta. Rahimakallah yaa Turjuman al-Quran dan Ra-isal Mufassirin..

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Pelajar di Arab Community College, Jordan. Selalu berharap bisa berada di jejeran ahlullah.

Lihat Juga

Love, Cinta, Valentine

Cinta Sebagai Energi Kemenangan