Home / Pemuda / Cerpen / Cermin untuk Jodoh

Cermin untuk Jodoh

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (arinarizkia.wordpress.com)
Ilustrasi. (arinarizkia.wordpress.com)

dakwatuna.com Kutatap lekat-lekat nama yang tertulis di atas kertas karton merah jambu berpita emas itu. Salman Al Farisi. Nama indah dari sahabat Rasulullah yang merupakan seorang jenius dalam menyusun strategi perang. Kualitasnya tidak akan pernah ditandingi oleh penyandang nama yang sama dengannya setelahnya. Termasuk juga kakak tingkatku, Mas Faris, biasa ia disapa.

Tak lupa juga kupandangi nama yang tertulis beberapa baris di atasnya. Armaida Qur’ani. Nama yang lima hari ke depan akan diikrarkan Mas Faris sebagai istrinya, pendamping hidupnya, yang akan dibimbing menuju surga Ilahi. Penasaran aku akan sosoknya. Seperti apakah parasnya, semanis apa senyumnya, seteduh apa wajahnya, hingga Mas Faris yang bahkan belum menginjak usia 24 tahun begitu mantap menikahinya. Kubalik kertas undangan itu. Di situ tertera namaku. Seseorang yang diundang agar berkenan hadir dan memberikan doa bahagia. Miris yang ku rasa.

Jika kertas-kertas undangan itu bisa berekspresi pastilah semuanya merasa bahagia karena para pembacanya akan tersenyum melihat dua nama di atasnya akan segera bersanding. Kecuali undangan yang ku pegang. Ia akan merasa menjadi kertas undangan paling tidak beruntung di muka bumi karena gadis yang membacanya hanya bisa menorehkan senyuman kecut, lengkap dengan lelehan air mata.

Sudah sejak awal aku masuk kuliah, sosok Salman Al Farisi kw sekian itu sudah menjadi sosok yang lebih di mataku. Suara adzan dan tilawahnya, tawa renyahnya saat bercanda dengan teman-temannya, retorikanya saat mengisi kajian, argumennya yang cerdas tetapi tidak menggurui saat berdiskusi, dan… ah sudahlah. Mengingat-ingat kelebihannya malah hanya akan membuat hati gusar.

“Allahu akbar Allahu akbar”. Suara adzan Zhuhur dari masjid komplek membuyarkan lamunanku sekaligus mengembalikan kembali lamunanku hanya dalam sepersekian detik. Kuingat betul suara Mas Faris saat biasa melantunkan adzan di mushalla kampus. Alangkah bahagianya orang yang kelak akan diadzaninya tiap pagi. Eh, salah. Mungkin lebih tepatnya alangkah bahagianya seseorang yang kelak akan mendengar tilawahnya tiap pagi-petang. Alangkah bahagianya.

“Hentikan!” bentakku pada diri sendiri. Segera aku beranjak dari kasur tempatku bergundah gulana beberapa jam terakhir guna mengambil wudhlu dan bertemu Allah.

***

Dengan langkah gontai kuhampiri ibukku yang siang itu tengah sibuk mengaliskan adonan kue keringnya. Setelah duduk terdiam mengamati jari-jari gemuknya yang lincah menggilas adonan selama beberapa menit, kusampaikan isi otakku padanya.

“Buk, Safna mau nikah”

“Kapan?” tanya ibuk santai.

“Lha enaknya kapan buk?” tanyaku kembali sambil memain-mainkan tepung terigu di wadah.

Lha ibuk itu yo manut sama kamu lo. Kamu mau menikah kapan pun ibuk juga gak berhak menghalangi. Pertanyaan ibuk, mana calonnya? Kok belum datang nyamperin ibuk sama bapak buat ngelamar kamu. Atau kamu mau dicarikan?”

“Orangnya udah ada buk. Tapi masalahnya bukan dia yang mau ngelamar Safna, tapi Safna yang mau ngelamar dia.hehe” jawabku berusaha melucu.

Ibuk hanya diam, tak menggubris celotehku.

“ Kakak tingkat Safna mau nikah buk. Itu lo, mas Faris” ceritaku kembali menyambung obrolan, berharap ibuk menimpali.

“Alhamdulillah. Faris yang sering kamu ceritain ke ibuk itu to? Terus, hubungannya sama kamu apa?” Tanya ibuk polos.

“Buk, apa cerita Safna selama ini belum mampu menunjukkan kalau sesungguhnya aku mengidam-idamkannya?” tanyaku dengan menatap ibuk tajam

Ibuk mesem “Bahasamu itu lo, sok banget. Ya ngerti to sab, jelas ibuk paham. Ibuk itu pendengar yang baik. Si pencerita nggak perlu menceritakan secara tuntas dan lugas pun, ibuk sudah paham maksudnya. Lha terus pie saiki karepmu?”

“Kira-kira, kalo Safna datang ke rumah Mas Faris, ngomong kalau sebenarnya udah jauh-jauh hari Safna suka sama Mas Faris, terus Safna bilang harusnya Mas Faris itu nikahnya sama Safna aja, pokoknya biar gak jadi nikah sama mbak yang di undangan itu, kira-kira berhasil gak buk?” tanyaku pada ibuk meskipun aku sadar, pertanyaan yang baru saja kulontarkan jauh dari kata bermutu.

Dengan panjang lebar ibuk menjawab “Kalo itu sinetron ya jelas berhasil sab. Heh, dengerin ibuk ya Sab. Nikah yang kamu maksud sekarang ini tu nikah kesusu, terburu-buru, mengejar nafsu bukan lillahi ta’ala. Orang itu nikah biasanya yang di cari apa to? Kalo yang dicari manusia itu shalih, ganteng, dan harta, semuanya ada di dekat sini. Yang shalih, itu mas Wildan yang tinggal di masjid . Shalatnya lima waktu, tepat waktu, berjamaah, di masjid terus lagi. Yang ganteng? Itu ada mas tukang bubur yang tiap pagi lewat. Gak ada yang ngomong dia jelek kan? Atau mau yang kaya? Ada itu Pak Gun yang mobilnya jlentrek-jlentrek. Tapi pilihannya, kamu mau jadi istri yang ke tiga atau empat?”

“Aku maunya Mas Faris buk” Jawabku sekenanya

“Kenapa harus Faris?” Tukas ibuk cepat.

“ Karenaaa…. Satu, shalat dan ngajinya aku yakin lah, dia top banget. Kalau denger adzan langsung berdiri, gak molor-molorin lagi. Dua, dia orangnya cerdas banget. Kelihatan dari omongan-omongan spontannya itu buk. Apalagi kalo lagi ngasih nasihat ke adek-adeknya. Tiga, dia udah mandiri buk. Udah bisa cari duit sendiri meskipun belum lulus kuliah. Itu buk, mas Faris tu hobi sama fotografi dan edit-edit foto. Jadi dia sering dapet orderan gitu deh. Udah kayak fotografer pro pokoknya. Dan yang ke empat sih relatif ya, dia manis kalo kata Safna mah.hehe” Selorohku menggebu-gebu meyakinkan ibuk agar memaklumi kegalauanku.

“ Terus ibuk mau tanya. Kalo kamu bilang dia shalih, emang kamu sudah shalihah? Shalat dan ngajimu sudah top juga?”

“ Ya belum sih, makanya aku mau dibimbing” jawabku membela diri.

“Kalau kamu bilang dia cerdas, pinter, emang kamu udah pinter juga? Kamu yakin kamu bisa jadi teman diskusi yang baik? Kamu yakin dia nantinya nyambung sama kamu?”

“Belum buk, makanya aku minta diajari biar bisa pinter kaya dia” kembali aku mengemukakan argumen yang sama untuk menjawab pertanyaan ibuk.

“Kamu juga bilang dia mandiri, bisa cari duit sendiri. Emang kamu udah bisa semandiri itu? Apa mau diajarin juga? Gak malu terus-terusan diajarin?”

Tajam benar pertanyaan ibuk yang terakhir ini. Dan aku hanya bisa menggeleng pasrah.

“ Sab, anakku yang manis, yang sedang galau karena pujaannya akan segera memperistri wanita lain..”

“ Kalimat yang terakhir itu gak perlu dipake buk” potongku

“Hihi, iya bercanda. Nduk, ikhtiar seseorang dalam mencari jodoh itu ya cuma dua. Doa dan memantaskan diri. Coba sekali lagi An-Nur ayat 26 nya dibaca. Yang baik itu untuk yang baik. Lha kamu, habis cerita bla bla bla lebihnya si Faris, tapi ibuk tanyain, gak ada satu jawaban pun yang kamu bilang iya, sudah. Semuanya belum. Bercermin kui penting anakku sing ayu dewe. Pesen ibuk yowislah, ikhlaskan Faris. Allah itu baik nduk. Dia ngasih kamu kesempatan lebih lama untuk memperbaiki diri, untuk lebih ikhtiar, biar kamu juga bisa dapat yang sama, bahkan mungkin lebih dari Salman Al Farisi. Ikhlas nduk, ikhlas..”

Nasihat ibuk padaku yang sungguh semakin menamparku betapa tidak tahu malunya aku meminta yang lebih pada Allah saat aku belum bisa dikatakan lebih. Nasihat yang singkat tapi sungguh telah membuatku iklas dan yakin akan firman Allah bahwa belum tentu sesuatu yang kita inginkan akan selalu baik untuk kita.

“Kok ibuk tahu nama panjangnya?” tanyaku tak fokus, sambil mengelap kaca-kaca di mata.

“Asal ngomong aja, emang bener itu to?”

“hehehe. Udah ah gak penting. Yuk Safna bantuin nyetakkin adonannya”

Ibuk mencubit kecil pipiku sambil tersenyum “Dari tadi gitu kan lebih bagus”

***

“Gimana, lancar nikahannya?” tanya ibuk langsung menyambutku yang baru saja pulang menghadiri walimah Mas Faris dan istrinya.

“Alhamdulillah buk. Wong Mas Faris aja senyum terus gak berhenti. Seneng banget gitu.” Jawabku sembari menghampiri ibuk yang sedang sibuk membolak-balik koran edisi hari itu yang sepertinya baru sempat dibacanya.

” Istrinya ayu banget. Wajahnya asli wajah istri idaman gitu buk. Kata temenku dia itu aktivis super. Sering ngisi kajian, udah merintis rumah baca sama sekolah kolong jembatan buat anak jalanan di mana-mana. Jiwa sosialnya tinggi banget. Allah memang gak pernah salah ya buk..” aku melanjutkan cerita

“Iya,untung ya si Faris gak dapet kamu” ibuk meledekku sambil menjulurkan lidahnya persis seperti keponakan kecilku yang sering usil menggangguku. “Jadi gimana? Mau nikah kapan?”

“Ehmm.. ya maunya sih as soon as possible buk. Kan ibuk tempo hari bilang, ikhtiar dulu, ngaca dulu, memantaskan diri dulu. Tapi kalo misalkan aja mas Faris yang ngajak Safna nikah, sekarang pun Safna siap kok” kekehku menggoda ibuk

“Ibuk beneran bingung. Benernya gimana to? Kamu tuh udah sadar belum? Udah ikhlas belum?” Tanya ibuk mengerutkan kening.

“Hihi, becanda. Udah ibuk sayaaang.” jawabku sambil beranjak dari kursi tempatku berbincang singkat dengan ibuk. Tak lupa kucium pipinya sebelum berlari kecil menuju kamarku dan meninggalkannya dalam senyum simpul manisnya.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (11 votes, average: 9,18 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Wahita Damayanti
Mahasiswi Fakultas Hukum UGM 2013. Peserta PPSDMS Nurul fikri angkatan 7 Regional 3 Yogyakarta.

Lihat Juga

Antara Menanti Jodoh dan Menunggu Bus