Home / Wahita Damayanti

Wahita Damayanti

Mahasiswi Fakultas Hukum UGM 2013. Peserta PPSDMS Nurul fikri angkatan 7 Regional 3 Yogyakarta.

Belajar (Terus) Dari Umar bin Abdul Aziz

Umar menasihati para pejabatnya agar selalu berhemat dalam menggunakan segalanya. Tulislah apa yang penting dan jangan banyak bicara dengan tinta-tinta itu. Ini menunjukkan bahwa Umar menghendaki birokrasi yang ringkas, sederhana, dan tidak banyak bertele-tele. Sesuatu yang sangat sering diremehkan oleh kita semua hingga kita akhirnya terbiasa dengan kemubadziran. Ketika kita telah terbisa, maka akan menjadi suatu hal yang wajar jika mungkin di esok hari kita akan meniru polah tingkah para pejabat negeri ini yang suka dengan segala sesuatu yang lebih. Nasihat Umar di atas bukan hanya untuk cerminan mereka yang tengah berkuasa, tapi juga untuk kita semua karena kita tidak akan pernah bisa menjamin seperti apa diri kita kelak

Baca selengkapnya »

Berpikir Sebelum Berkata

Begitu akrabnya dengan gadget seseorang menjadi sangat individualistis. Budaya berdiskusi pun semakin berkurang sehingga akhirnya mereka memberikan penilaian secara langsung tanpa mempertimbangkan baik dan buruk dari hal yang dinilai. Sejatinya, setiap manusia dimodali otak untuk selalu memikirkan apapun tindakan yang akan mereka lakukan, termasuk berbicara. Kasus yang terjadi lewat media sosial menunjukkan bahwa orang cenderung spontan menuliskan apa yang ada dalam benaknya, bukan buah pemikiran dan analisis suatu hal.

Baca selengkapnya »

Cermin untuk Jodoh

"Nduk, ikhtiar seseorang dalam mencari jodoh itu ya cuma dua. Doa dan memantaskan diri. Coba sekali lagi An-Nur ayat 26 nya dibaca. Yang baik itu untuk yang baik. Lha kamu, habis cerita bla bla bla lebihnya si Faris, tapi ibuk tanyain, gak ada satu jawaban pun yang kamu bilang iya, sudah. Semuanya belum. Bercermin kui penting anakku sing ayu dewe. Pesen ibuk yowislah, ikhlaskan Faris. Allah itu baik nduk. Dia ngasih kamu kesempatan lebih lama untuk memperbaiki diri, untuk lebih ikhtiar, biar kamu juga bisa dapat yang sama, bahkan mungkin lebih dari Salman Al Farisi. Ikhlas nduk, ikhlas..”

Baca selengkapnya »