Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / “Maaf Bu, Kita Masih di Lift..”

“Maaf Bu, Kita Masih di Lift..”

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
ilustrasi (inet)
ilustrasi (inet)

dakwatuna.comBanyak di antara kita yang merasa sudah mampu atas segalanya. Seakan sudah bisa melakukan banyak hal yang kita anggap paling benar. Meski sejatinya yang kita anggap mampu itu belum ada apa-apanya. Segala yang kita lakukan baru anggapan benar ukuran kita saja.

Maka, di kehidupan sehari-hari, di antara kita sering merasa bangga menjadi bagian sekumpulan orang yang cepat membuat penilaian. Cepat membuat kesimpulan. Sekalipun penilaian dan kesimpulan itu salah, tetap saja meyakini itu adalah hal yang paling benar, hal yang paling baik. Kemudian, masih dengan perasaan bangga yang sama, mencela orang-orang yang berseberangan dengan penilaian dan kesimpulan tersebut.

Merasa paling benar. Merasa paling hebat pandangannya. Merasa paling layak mengkritik. Merasa paling baik ilmunya. Merasa paling hebat amalnya. Semuanya mengacu pada rasa keakuan diri yang over dosis. Tak pernah mau menyadari, bahwa diri sendiri yang sebenarnya banyak kekurangan. Tak pernah berusaha untuk sadar, bahwa diri sendiri banyak melakukan kesalahan.

Kekurangan yang ada, kesalahan yang telah dilakukan, semuanya ditutupi dengan arogansi. Ditutupi dengan keangkuhan, kesombongan. Pribadi yang seperti ini, sejatinya tengah berusaha untuk mempertinggi tempat jatuhnya.

Jika di antara kita ada yang memiliki perangai seperti ini dan terus berusaha mempertahankannya, ada baiknya untuk menyimak sebuah kisah yang dikirim teman saya via Broadcast BBM.

Dikisahkan, ada seorang perempuan bernama Inem yang datang dari desa untuk liburan ke Jakarta. Kemudian masuk ke hotel bintang 5 dan pesan 1 kamar. Lalu dia diantar Room Boy yang membawa koper ke kamarnya.

Setelah pintu tertutup, Inem kaget dan marah-marah ke Room Boy.

”Hei anak muda! Aku memang kampungan, tapi jangan dikira aku gak bisa bayar sewa kamar hotel mewah ini ya! Ini jelas-jelas bukan kamar yang aku pesan! Kamar ini sumpek, sempit nggak ada TV. Mana tempat tidur dan kamar mandinya seperti yang di foto?!!” Hardik Inem dengan mata melotot.

Room boy lantas merasa bingung dan ketakutan. Di antara kebingungannya itu ia berusaha menjelaskan, “Maaf Bu, kita masih di Lift…”

So, masih ingin merasa paling benar?

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 9,63 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Akmal Ahmad
Sarjana Sains (S.Si) di bidang Fisika, FMIPA Universitas Andalas, kini aktif di bidang Social Entrepreneure.

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Ketika Sang Maha Kuasa Berkehendak…

Organization