Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Dicemooh? Sabar!

Dicemooh? Sabar!

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (rajabulgufron.wordpress.com)
Ilustrasi. (rajabulgufron.wordpress.com)

dakwatuna.comSudah sering rasanya kita membahas tantangan dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, hingga sudah akrab di telinga kita bahwasanya beliau berdakwah diiringi cemoohan, cacian, bahkan siksaan. Namun, Rasulullah selalu punya motivator abadi. Dia-lah Allah, yang Menguasai timur dan barat. Oleh sebab itu, Allah menghibur Rasul dengan kalimat: “Dan bersabarlah (Muhammad) terhadap apa yang mereka katakan dan tinggalkanlah mereka dengan cara yang baik. Dan biarkanlah Aku (yang bertindak) terhadap orang-orang yang mendustakan, yang memiliki segala kenikmatan hidup, dan berilah mereka penangguhan sebentar.” (QS. Al-Muzzammil: 10-11).

Setidaknya Allah berpesan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan umatnya, agar senantiasa bersabar dalam berdakwah; dalam menolong agama Allah. “Hai orang-orang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad: 7). Sebab menetapkan diri di jalan Allah begitu banyak halangan dan rintangannya, sedangkan menetapkan diri di jalan selain jalan-Nya, justru banyak kesenangan yang sangat melenakan. Allah meminta Rasul dan umatnya untuk bersabar ‘sebentar’ saja, untuk mendapatkan kenikmatan yang hakiki.

Tak jarang memang di antara kita banyak yang berhenti berbuat baik hanya karena omongan-omongan yang tak bertanggung jawab dari orang di sekitar kita. Segala umpatan mereka lontarkan kepada kita, sehingga terkadang membuat orientasi dakwah kita terkaburkan. Oleh sebab itu, Allah ‘hanya’ menyuruh kita untuk bersabar dalam menghadapi tantangan tersebut. Oleh sebab orang-orang kafir yang hatinya telah terkunci memiliki sifat yang menghindarkan diri dari kebenaran, maka kita akan kelelahan bila menjawab ocehan mereka. Karena “Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan menutup penglihatan mereka. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.” (QS. Al-Baqarah: 6-7). Lebih jauh lagi, Allah menyerupakan mereka dengan anjing, “Dan kalau Kami Menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya dijulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia menjulurkan lidahnya (juga). Demikianlah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir.” (QS. Al-A’raaf: 176).

Memikirkan cemoohan orang membuat jalan kita semakin lamban. Cemoohan dalam perjalanan dakwah atau dalam perang sekalipun, sama aja akibatnya bila yang dicemooh tidak memiliki iman dan tekad yang kuat. Mereka akan menjadi lemah dan bisa saja berbalik menjadi musuh. Sebagaimana dalam Perang Ahzab (Perang Khandaq) Rasul membawa pasukan yang tidak hanya terdiri dari kaum muslimin, namun di dalamnya juga terdiri orang-orang Yahudi serta orang-orang munafik. Mereka bukan mendukung, malah ada yang berkhianat dan hampir saja mencelakakan kaum muslimin. Akan tetapi, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, maka dimenangkanlah kaum muslimin atas kaum lainnya dalam perang tersebut.

Allah memberikan kesenangan bagi orang-orang kafir di dunia tetapi fana (tidak kekal), sedangkan jatah bagi orang-orang beriman adanya di akhirat, dan itu semua abadi. Toh mereka (orang-orang kafir) pun akan menyesal pada akhirnya. “Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu [hai orang kafir] siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata: “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah”. (QS. An-Naba: 40).

Maka seyogianya kita heran dengan sikap orang-orang yang mengaku telah berislam dengan benar, tetapi masih berpayah-payah mengejar dunia. Padahal Allah sediakan dunia agar menjadi media bagi para mukmin menggapai jatahnya di akhirat. Kita adalah umat pertengahan, yaitu umat yang tidak berat sebelah antara mengejar dunia dengan mengejar akhirat. Namun kita tidak boleh berlebihan mengejar dunia, sebab dunia adalah serba tidak pasti, dan akhirat adalah serba berkepastian. Bukankah aneh bila kita lebih mengejar ketidakpastian alih-alih mengejar kepastian? Hanya orang-orang yang memilih beriman dan mengejar akhirat ketika di dunia-lah yang akan tertawa paling akhir.

“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya [di dunia] menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila orang-orang yang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira.  Dan apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan: “Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat”, padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mukmin. Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir, mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. Al-Muthaffifin: 29-36).

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Zaky Ahmad Rivai
Pembelajar di Fakultas Syariah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Karyawan Allah, berkarya bersama KAMMI UIN Sunan Kalijaga. Penulis buku "Jangan Berdakwah! Nanti Masuk Surga" follow @zakyZR

Lihat Juga

Ilustrasi. (seputarmalang.com)

Begitu Melimpah Nikmat Allah, Maka Berqurbanlah