Keberanian

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (sahabatalaqsha.com)
Ilustrasi. (sahabatalaqsha.com)

dakwatuna.com Perang Mut’ah, merupakan peperangan besar yang terjadi antara umat muslim melawan pasukan Romawi. Perang ini terjadi, karena kekecewaan umat muslim terhadap pembunuhan 2 utusan Rasulullah. Kedua utusan yang dibunuh, merupakan ‘diplomat’ yang sedang mengantarkan surat rasul kepada penguasa disekitar jazirah arab. Diplomasi ini dilakukan pasca perjanjian Hudaibiyah, yaitu pada 8 Hijriah.

Dalam perang Mut’ah, Rasul mengamanahkan kepemimpinan pasukan kepada Zaid bin Haritsah (Muhajirin), Ja’far bin Abi Thalib (Muhajirin), dan Abdullah bin Rawahah (Anshar). Karena 3 orang ini, akan saling menggantikan jika Allah menakdirkan mereka syahid di medan juang. Dan ternyata Allah menakdirkan mereka semua mati syahid.

Hingga akhirnya bendera Islam terus berpindah, seiring amanat yang disampaikan rasul. Pada waktu yang sama, rasul menceritakan detail peperangan dari mimbar di tempat yang berbeda. Allahu Akbar. Peperangan terus bergulir hingga bendera pasukan muslim tak ada yang mengibarkan. Sampai akhirnya Tsabit bin Arqam berinisiatif mengambil bendera; dan berteriak memanggil para sahabat nabi untuk menentukan pengganti pemimpin pasukan muslimin. Dan pilihan para sahabat jatuh pada Khalid bin Walid.

Perang Mut’ah terhitung perang yang besar, dalam sejarah perang Rasulullah. Tidak tanggung-tanggung, 3000 pasukan muslim melawan 100.000 pasukan yang disiapkan Heraklius. Ditambah 100.000 pasukan nasrani dan beberapa suku arab. Ketangguhan Khalid bin Walid memimpin peperangan, sudah diakui banyak orang. Hingga beliau dijuluki, pedang Allah yang terhunus (Syaifullah al-Maslul). Dalam sebuah riwayat, ulama mengabarkan bahwa jumah pasukan muslim yang terbunuh hanya mencapai 12 orang. Sedangkan pasukan musyrikin banyak yang dibantai.

Sangat jelaslah, bahwa Islam sangat mengedepankan keberanian. Tapi terlalu banyak orang yang mengukur keberanian, hanya sebatas bertarung fisik saja. Padahal perang Mut’ah memberi penjelasan lebih mendalam mengenai hakikat keberanian.

Bahwa keberanian juga bermakna berani memikul tanggung jawab yang diamanahkan. Sehingga tidak ada kata penolakan; selama masih belum mencoba, masih realistis, dan masih merasa sanggup. Perang Mut’ah juga memberikan pesan sederhana, bahwa keberanian tidak bersumber pada kekuatan fisik saja; tapi juga kemapanan kekuatan intelektual. Karena kemenangan umat muslim diperang Mut’ah tidak terlepas dari strategi perang yang hebat. Sehingga ada ungkapan arab yang mengatakan” Alfardu juz’un minal stratijiyah..”. Individu ialah bagian dari strategi. Sehingga keberanian pemimpin dalam meramu strategi perang, menentukkan ke-efektifan fungsi tiap individu selama berperang. Itu juga keberanian.

Sungguh, keberanian tidak akan menghilang dari dada pemimpin yang hanif seperti Khalid bin Walid. Sehingga keberanian dalam berperang, keberanian dalam meramu strategi, keberanian dalam memikul amanah yang diemban; membuat kekalahan yang memilukan bagi pasukan romawi beserta sekutunya. 3000 pasukan muslim mengalahkan 200.000 pasukan musyrikin. Beyond imagination!

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 7,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ridwan Akbar
Mahasiswa Hubungan Internasional, FISIP UIN Jakarta.

Lihat Juga

Untuk Kali Keempat Tentara Oposisi Berhasil Gagalkan Serangan Balik Milisi Syiah Ke Kota Aleppo