Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Kelas Belajar Bernama Perantauan

Kelas Belajar Bernama Perantauan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (legend.az)
Ilustrasi. (legend.az)

dakwatuna.com Merantau adalah kelas belajar nan akbar. Kelas yang darinya kita belajar lebih dari sekadar menyaksikan betapa indah, beragam dan kayanya Indonesia. Lebih dari itu, kelas ini menempaku bersabar bertualang dengan keterbatasan yang berbeda-beda di setiap tanahnya, menempaku bersosialisasi pada perbedaan adat istiadat dan budaya dalam bermasyarakat, menempaku menghadapi keragaman agar meningkatkan kualitas diri dan iman sehingga dapat istiqamah dalam aqidah. Inilah kelas belajar nan akbar yang tidak sekadar mempertontonkan kemolekan Nusantara tetapi juga menjadi kelas kinestetik untuk pelajaran survival.

Survival. Yah, melalui perantauan aku ditempa untuk survive dalam aneka macam keterbatasan. Di pulau Belitung, tidak ada angkot, hanya ada ojek yang parkir di beberapa titik di pusat kota dan taxi (sebutan untuk mobil rental yang dari bandara) serta motor/car rent yang tidak semua orang dapat mengaksesnya tanpa kenalan atau informasi. Di balik sulitnya akses transportasi itu, orangnya ramah-ramah. Tindakan kriminal masih sangat rendah sehingga dengan bertebal muka sedikit, kamu tidak akan kesulitan mendapatkan tumpangan dari orang yang kebetulan lewat karena mereka tidak banyak menaruh curiga pada orang yang mau menumpang di mobilnya. Air juga menjadi barang langka di sana. Itulah saatnya kreativitas ditempa untuk menampung air hujan dan menggunakannya sehemat mungkin.

Di Ubud Bali, transportasi dan ojek tidak begitu sulit tetapi untuk menemukan makanan halal sama sekali bukan hal yang mudah. Dengan banyak bertanya, orang-orang disana tidak segan-segan akan membantumu untuk menemukannya. Semuanya sangat ramah tetapi siap-siap saja untuk terkaget-kaget dan banyak-banyak beristighfar karena pemandangan manusia-manusia berpakaian mini dengan begitu entengnya berlalu lalang ria di pinggir-pinggir jalan serta minuman haram terpajang bahkan di mini market sekalipun. Yang paling penting adalah bahwa kamu tidak akan menemukan masjid di dalam desa tersebut dan orang-orang disana tidak tahu arah kiblat sekalipun mereka dengan senang hati ingin menjawab pertanyaanmu. Ubud sudah hampir seperti kota-kota kecil yang sering dipertontonkan dalam film-film Hollywood, dikelilingi oleh restoran-restoran dan café-café yang disesaki oleh kulit putih dan rambut pirang.

Di Jayapura lain lagi. Inilah kelas multisuku, budaya, agama, adat dan pendidikan paling besar menurutku. Dalam waktu bersamaan atau berdekatan bisa jadi kita berpapasan dengan rambut keriting, rambut lurus, tidak beralas kaki, berjilbab besar, pastur, bule, bugis, jawa, buton, selayar, wamena, medan, professor, tidak pernah sekolah dan sebagainya. Dalam keragaman itu, seolah semuanya telah hampir berbaur dalam aksen “kah, toh,” dan sebagainya. Dua bulan di sini, lebih dari empat kasus pembunuhan terjadi di sekitarku, itupun hanya yang terdengar hingga ke telingaku. Berpapasan dengan orang mabuk juga bukan hal luar biasa, berjalan sendiri harus ekstra hati-hati, tidak ke sembarang tempat dan tidak pada waktu pagi buta atau lewat jam sembilan malam. Yang membuatku kagum adalah setiap kali berjalan dan jika ada orang yang kami lewati, teman yang jalan bersamaku pasti menyempatkan untuk menyapa dan sekadar mengatakan “Permisi bapak, permisi teteh,” kemudian disambut dengan sapaan hangat “Mari”.

Merantau mengenalkanku pada macam-macam kekhasan Indonesia yang penuh warna-warni. Ada tempat yang aku harus bersuara pelan, ada tempat di mana aku harus bersuara keras. Ada tempat di mana aku harus sangat ramah, juga ada tempat di mana aku harus banyak-banyak menundukkan pandangan. Adakalanya harus berkuat dalam aqidah, adakalanya begitu menikmati keindahan ukhuwah. Ada komunitas yang dari mereka aku belajar ilmu dunia, ada komunitas yang dari mereka aku banyak tercengang atas kesalahan caraku meniti jalan menuju hari akhir.

Merantau… sempat membuat tercengang beberapa akhwat yang pernah Allah pertemukan denganku. “Bagaimana biasa ukhti begitu berani melanglang buana sendirian seperti ini,” kata salah satu dari mereka. Dalam hatiku aku baru menyadari bahwa ternyata ini adalah hal yang sangat “wah” bagi sebagian orang. Sebagian menganggap ini ekstrem dan tidak sepatutnya dilakoni oleh seorang muslimah sepertiku. Sebagian mengganggap ini luar biasa karena bisa bertualang dan justru ikut termotivasi untuk melakukan hal yang sama. Sebagian lagi beranggapan biasa saja karena merupakan bagian dari pekerjaanku. Bagaimanapun aku mempertimbangkan semua anggapan itu. Yah, karena masih single, aku masih menikmatinya sebab tidak merasa ada kewajiban yang terlalaikan, kelak ingin juga berpetualang dengan sang setengah Dien, atau jika diinginkan untuk tidak pergi kemana-mana lagi, Insya Allah aku siap. Merantau itu adalah karunia Allah bagiku karena melalui perantauan ini aku justru belajar banyak hal tentang singkatnya dunia dan kekal tujuan akhir. Merantau, aku masih ingin merantau sampai ada yang memintaku untuk berhenti, maka aku akan berhenti.

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Perempuan berdarah bugis yang memiliki nama asli Jayanti ini memiliki impian untuk membangun sekolah Islam tak berbayar bagi anak-anak kurang mampu di daerah asalnya, kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan. Alumnus Unismuh Makassar serta Sekolah Guru Indonesia ini sedang menjalankan tugas sebagai pengelola School of Master Teacher Makassar, salah satu program pendidikan keguruan yang diinisiasi oleh Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa serta mengelola Kolong Ilmu, salah satu program dari Klinik Pendidikan Nusantara, sebuah Komunitas Volunteer yang berupa rumah baca, rumah belajar dan rumah kreatifitas bagi anak-anak pelosok Nusantara yang saat ini tersebar di tujuh titik di Indonesia.

Lihat Juga

Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid.
(fraksipks.or.id)

Hidayat: Guru yang Menegakkan Disiplin Tidak Dapat Dipidanakan