Home / Khanza Mandasari Tjappe

Khanza Mandasari Tjappe

Perempuan berdarah bugis yang memiliki nama asli Jayanti ini memiliki impian untuk membangun sekolah Islam tak berbayar bagi anak-anak kurang mampu di daerah asalnya, kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan. Alumnus Unismuh Makassar serta Sekolah Guru Indonesia ini sedang menjalankan tugas sebagai pengelola School of Master Teacher Makassar, salah satu program pendidikan keguruan yang diinisiasi oleh Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa serta mengelola Kolong Ilmu, salah satu program dari Klinik Pendidikan Nusantara, sebuah Komunitas Volunteer yang berupa rumah baca, rumah belajar dan rumah kreatifitas bagi anak-anak pelosok Nusantara yang saat ini tersebar di tujuh titik di Indonesia.

Perempuan di Kereta

Aku bergeming, kemudian dia melanjutkan ceritanya. Dia asli Jakarta dan juga sedang kuliah S2 di salah universitas negeri di Jakarta, datang ke Bandung untuk menemui seseorang yang katanya penting baginya. Sebut saja nama perempuan ini Chelsy dan seseorang yang penting baginya itu bernama Angga. Chelsy dan Angga dulunya satu kampus dan satu kelas ketika masih kuliah S1 di Jakarta. Sejak semester dua, mereka berkomitmen untuk menjalin hubungan yang menurut mereka lebih serius dan hubungan itu berlanjut hingga kejadian yang terjadi beberapa jam lalu mengakhiri semua yang pernah mereka rajut.

Baca selengkapnya »

Indonesia Masih Punya Sosok Guru Profesional

Masih ada guru yang memiliki kemampuan mengajar, masih ada guru yang memiliki kemampuan mendidik. Sebagai contoh, satu sekian yang saya temui adalah ibu Tri, guru kelas satu SDN 2 Membalong Kabupaten Belitung yang punya segudang cara untuk menarik perhatian anak-anaknya agar dapat menerima materi yang diajarkan, rela meluangkan waktu di luar jam sekolah untuk mengajar les bagi siswanya yang belum bisa baca tulis serta rela mengeluarkan uang pribadinya untuk membeli reward atau untuk bahan kelengkapan pembelajaran.

Baca selengkapnya »

Belajar atau Jadi Orang tua dan Guru yang Gagal (Sebuah Refleksi dari Film)

Setiap anak memiliki kelebihannya masing-masing. Suka memukul orang, bisa jadi calon pemain karate yang handal. Suka mengotak-atik mainan, bisa jadi calon engineer handal. Suka mencoret-coreti dinding, bisa jadi calon arsitektur handal. Kita tidak harus kaku bahwa cerdas bergantung dari nilai pelajaran matematika, Bahasa Inggris, IPA, dan sebagainya. Mampu menggambar, memanjat, bermain sepak bola, karate, menyanyi, bermain peran dan masih banyak lagi, adalah kecerdasan yang bisa berbeda dari setiap anak yang Tuhan telah anugerahkan. Tidak harus sama. Tidak harus dinilai dengan tolak ukur yang sama dan dari sudut pandang yang sama.

Baca selengkapnya »

Aku Berhijab dan Merantau

Perasaan takut dan khawatir yang pernah hinggap di hatiku, terjawab dengan sempurna. Perempuan berhijab tak perlu takut merantau, kita melakukannya karena mengharap ridha Allah, maka Ia pun akan senantiasa menuntun dan menjaga. Perempuan berhijab tak perlu risih untuk bergerak energik, kita bergerak tak keluar dari syariat. Bukankah Aisyah r.a. juga adalah wanita yang sangat enerjik, kenapa kita tidak?

Baca selengkapnya »

Seperginya Nek Kuma

Langkahnya tergopoh-gopoh, mengangkat kaki kiri lalu kanan kemudian berganti lagi dalam irama sendu. Punggungnya mulai bungkuk, berdirinya hampir terlihat seperti rukuk yang tak pernah lekang. Tusuk konde besi yang mulai berkarat tertisik miring di tengah gulungan rambutnya yang mulai memutih.

Baca selengkapnya »

Stop PHP!

Istilah yang lagi tren sekarang adalah PHP alias Pemberi Harapan Palsu. Laki-laki banyak yang digelari istilah itu karena memberikan harapan-harapan palsu pada perempuan, manis-manis diucapan tapi keberanian tindakan tidak ada. Beraninya hanya menggoda dengan kata-kata manis tetapi ketika ditantang untuk menemui orang tua, nyalinya ciut. Apa mereka tidak tahu bahwa perempuan adalah makhluk paling lembut hatinya, mudah tersentuh dan mudah terluka.

Baca selengkapnya »

Kelas Belajar Bernama Perantauan

Merantau… sempat membuat tercengang beberapa akhwat yang pernah Allah pertemukan denganku. “Bagaimana biasa ukhti begitu berani melanglang buana sendirian seperti ini,” kata salah satu dari mereka. Dalam hatiku aku baru menyadari bahwa ternyata ini adalah hal yang sangat "wah" bagi sebagian orang. Sebagian menganggap ini ekstrem dan tidak sepatutnya dilakoni oleh seorang muslimah sepertiku. Sebagian mengganggap ini luar biasa karena bisa bertualang dan justru ikut termotivasi untuk melakukan hal yang sama. Sebagian lagi beranggapan biasa saja karena merupakan bagian dari pekerjaanku.

Baca selengkapnya »

Black Campaign di Berandaku, Monggo

Memilih calon pemimpin bukanlah hal yang mudah. Maka berbagai informasi sangat diperlukan sebagai bahan pertimbangan. Bahkan, bobrok-bobroknya sang calon sekalipun kita perlu tahu. Yang aku tidak sependapat, jika informasi yang disampaikan berupa ledekan dan hujatan. Apalagi menjadikan capres sebagai bahan guyonan. Berbeda antara informasi negatif dengan ledekan atau hujatan.

Baca selengkapnya »

Guru Menulis, Guru Inspiratif

Tak perlu pernah mengalami nasib naas untuk bisa menghadirkan kisah yang mengharukan. Tak perlu menunggu menjadi professor baru bisa berbagi inspirasi kepada orang lain. Menulislah, maka kau ada. Bukankah Andrea Hirata bukanlah professor kesusastraan tapi novelnya mampu menembus hingga pasar dunia? Bukankah cerita Laskar Pelangi adalah kisah-kisah sederhana tapi mampu menginspirasi hingga berbagai jenjang usia? Itu karena dia berani menulis.

Baca selengkapnya »