Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Indonesia Masih Punya Sosok Guru Profesional

Indonesia Masih Punya Sosok Guru Profesional

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (padang-today.com)
Ilustrasi (padang-today.com)

dakwatuna.com – Setelah beberapa kali melakukan supervisi pada guru-guru sekolah dasar yang menjadi peserta School of Master Teacher di Makassar, saya sempat tertegun, saya kagum pada mereka. Menyaksikan guru-guru sekolah negeri menyajikan pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna, rasa-rasanya adalah hal langka di negeri ini. Bagaimana tidak, saya berkaca dari apa yang saya temukan pada perjalanan ke beberapa wilayah Indonesia melalui Program Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa dan Pendampingan Sekolah Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa seperti Banten, Bogor, Belitung, Jayapura, Sorong, dll. Perjalanan yang memberikan saya kesempatan untuk berperan dan andil dalam proses pendidikan di wilayah tersebut menunjukkan kepada saya betapa negeri ini krisis akan guru profesional.

Tapi sebelum saya berkomentar lebih banyak tentang temuan tersebut, guru professional itu seharusnya seperti apa atau punya apa sih? Menurut Undang-Undang Guru dan Dosen Nomor 14 tahun 2005, kompetensi guru terdiri atas kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, kompetensi profesional, yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Sedangkan menurut Cooper, menyatakan bahwa kompetensi guru dibagi empat yaitu mempunyai pengetahuan tentang belajar dan tingkah laku manusia, mempunyai pengetahuan dan menguasai bidang studi yang dibinanya. mempunyai sikap yang tetap tentang diri sendiri, sekolah, teman sejawat, dan bidang studi yang dibinanya dan mempunyai keterampilan teknis mengajar. Kalau disimpulkan maka guru professional adalah guru yang memiliki kemampuan mengajar dan mendidik.

Nah, setelah mengetahui definisi dari guru profesional itu sendiri, maka saya akan kembali pada temuan saya di beberapa wilayah yang saya sebutkan tadi. Dari sekian banyak jumlah sekolah yang pernah saya jejaki baik sebagai relawan, mahasiswi, guru atau pendamping, kurang dari setengah atau bahkan tidak ada guru yang datang ke sekolah sebelum bel (yang itupun kebanyakan molor) berdering, beberapa bahkan datang setelah jam istirahat pertama, ada juga tiga guru dari dua sekolah yang absen masuk ke sekolah sampai berminggu-minggu hingga hitungan bulan, selain masalah kedisiplinan yang memilukan, etika pun menjadi pertanyaan ketika ada guru yang tanpa risih bertengkar dengan guru lain di depan siswa-siswi atau meneriaki siswa dengan perkataan yang kasar. Nah, jika diterjemahkan berarti para guru tersebut belum memiliki kemampuan mendidik karena belum dapat menjadi suri tauladan.

Selanjutnya, mengenai kemampuan mengajar. Hanya satu atau bahkan hampir tidak ada guru yang mengajar dengan teknik yang baik, kebanyakan hanya duduk (atau bahkan meninggalkan siswa) setelah menyuruh siswa membaca atau mengerjakan soal latihan di buku teks (itupun kalau siswa punya). Dan lagi, kalau diterjemahkan maka para guru tersebut belum memiliki kemampuan mengajar.

Kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan saya ketika itu adalah, miris. Miris rasanya melihat sekolah yang ramai oleh anak-anak yang niatnya datang ke sekolah belajar tapi mendapati gurunya telat datang atau bahkan tidak datang. Miris rasanya melihat kelas yang berisi anak-anak yang notabene bermain adalah dunia mereka, namun melewatkan setengah harinya di dalam kelas dalam perasaan terpaksa untuk duduk diam.

Tapi itu adalah kebanyakan, artinya tidak semua guru seperti itu. Masih ada guru yang memiliki kemampuan mengajar, masih ada guru yang memiliki kemampuan mendidik. Sebagai contoh, satu sekian yang saya temui adalah ibu Tri, guru kelas satu SDN 2 Membalong Kabupaten Belitung yang punya segudang cara untuk menarik perhatian anak-anaknya agar dapat menerima materi yang diajarkan, rela meluangkan waktu di luar jam sekolah untuk mengajar les bagi siswanya yang belum bisa baca tulis serta rela mengeluarkan uang pribadinya untuk membeli reward atau untuk bahan kelengkapan pembelajaran.

Melalui supervisi pembelajaran yang dilaksanakan peserta School of Master teacher Makassar, saya menemukan ibu tri yang lain di Makassar. Ibu Elli Elliani misalnya, beliau adalah salah satu trainer kurikulum 2013 yang menjadi guru kelas lima di SD Inpres Karunrung, meskipun pengakuannya bahwa sebelum mengikuti program School of Master Teacher, beliau belum sekreatif dan seinovatif sekarang, saya kagum padanya karena beliau adalah sosok pembelajar. Ada juga ibu Wiah, guru kelas satu SD Bertingkat Kelapa tiga yang ketika pertama kali memasuki kelasnya, saya tergugah dengan tata ruang kelasnya yang berbentuk huruf ‘U’ dan di tengahnya ada sebuah pohon yang didesain sedemikian rupa yang ternyata adalah salah satu display karyanya, ditambah dengan pembelajarannya yang menggunakan aneka metode kreatif membuat saya makin salut. Selain itu, ada juga ibu Indah, guru kelas tiga di SD Maccini Sombala yang memiliki kelas penuh semangat dengan mengaplikasikan games di pembelajarannya.

Bertemu dengan guru-guru itu cukup menyembuhkan rasa miris di hatiku, bahwa Indonesia masih belum benar-benar kehabisan guru profesional. Guru-guru itu diharapkan dapat menularkan kemampuan-kemampuan mereka kepada guru-guru lainnya sehingga pada akhirnya kualitas pendidikan negeri tercinta ini dapat menjadi jauh lebih baik. Amin

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Perempuan berdarah bugis yang memiliki nama asli Jayanti ini memiliki impian untuk membangun sekolah Islam tak berbayar bagi anak-anak kurang mampu di daerah asalnya, kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan. Alumnus Unismuh Makassar serta Sekolah Guru Indonesia ini sedang menjalankan tugas sebagai pengelola School of Master Teacher Makassar, salah satu program pendidikan keguruan yang diinisiasi oleh Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa serta mengelola Kolong Ilmu, salah satu program dari Klinik Pendidikan Nusantara, sebuah Komunitas Volunteer yang berupa rumah baca, rumah belajar dan rumah kreatifitas bagi anak-anak pelosok Nusantara yang saat ini tersebar di tujuh titik di Indonesia.

Lihat Juga

Tegas! Di Hadapan Anggota DK PBB, Menlu RI Desak Blokade Gaza Segera Dihentikan