Home / Keluarga / Pendidikan Anak / Belajar atau Jadi Orang tua dan Guru yang Gagal (Sebuah Refleksi dari Film)

Belajar atau Jadi Orang tua dan Guru yang Gagal (Sebuah Refleksi dari Film)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

moral pada anakdakwatuna.com – Pagi ini ketika sedang mengotak-atik laptop untuk mencari sebuah file jaman kuliah dulu, saya menemukan file film I Not Stupid too 2. Meskipun sudah hampir dua tahun lalu saya menontonnya, namun saya masih sangat ingat dengan beberapa pelajaran yang saya petik ketika itu.

“Kenapa orang tua begitu sulit memuji?”

Jerry, sebagai pemeran utama sekaligus narator dalam film tersebut menitikberatkan permasalahan yang dilihat dan dialaminya melalui kata “memuji”. Dia adalah seorang siswa di sebuah SD di singapura, nilai-nilainya di sekolah cukup baik dan memiliki bakat bemain peran, terbukti dengan terpilihnya dirinya menjadi pemeran utama dalam sebuah pertunjukkan di sekolahnya. Sayangnya itu bukanlah sebuah kecerdasan menurut ibunya. “Hanya begitu yang kamu bisa?”, “itu bukan apa-apa” dan masih banyak kata-kata penolakan lain yang sering diterimanya dari ibunya.

Tidak berbeda jauh dengan kakaknya, Tom. Di sekolah nilainya tidak begitu bagus, tapi dia adalah seorang blogger hebat. Suatu hari pada sebuah kompetisi blogging, dia mendapatkan juara pertama, tapi seperti sebelumnya, itu bukanlah apa-apa untuk ibunya.

Di rumah, Tom dan Jerry telah mendapatkan didikan yang tidak baik. Bukan hanya karena tidak pernah mendapatkan penghargaan dari kedua orang tuanya, melainkan terbiasa dengan tontonan pertengkaran serta ketidak konsistenan kedua orang tuanya terhadap peraturan yang telah mereka proklamasikan di depan kedua anak-anaknya. “Tidak boleh menelpon saat sedang di meja makan”, kata ibunya. Tak lama kemudian handphone ayahnya berdering, disusul handphone ibunya. Mereka sendiri yang akhirnya menggugurkan peraturan yang telah mereka buat itu.

Selain di rumah, Tom yang sedang bersekolah di SMA Singapore, juga medapatkan perlakuan yang tidak sesuai. Kata nakal, tidak punya harapan dan tidak berguna sudah menjadi kata-kata yang biasa didengar dari mulut guru bahasa Cina serta dari kepala sekolahnya. Selain itu metode mengajar guru yang behavioristik menambah penolakan siswa terhadap guru serta mata pelajaran yang dibawakan oleh guru tersebut.

Menjelang akhir dari film, perlawanan dari anak-anak tersebut mulai berkecamuk. Tom, mencuri uang dari kantin sekolahnya, Jerry memukul gurunya, bergabung dengan gangster. kabur dari rumah dan mencuri barang. “Aku hanya ingin menabung untuk membeli 1 jam waktu ayah, aku sudah menjual semua kartu pokemonku tapi uangku belum juga cukup”, kata itu diucapkan oleh Tom setelah tangannya dicambuk oleh ayahnya. Ayahnya tersentak, dia memang pernah mengatakan bahwa waktunya sangat mahal, kliennya perlu membayar 500 dollar hanya untuk berbicara satu jam dengannya. Ternyata kata-kata itu disimpan baik-baik oleh Jerry, mengingat kedua orang tuanya sangat sibuk dan sangat sulit untuk diajak berkomunikasi.

“Ekspresi atau tindakan yang kecil sekalipun, kita tak pernah tahu apa yang bisa kita ubah”

Entah itu baik ataupun buruk, ekspresi dan tindakan dari orang lain bisa memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap kehidupan seseorang. Satu pujian bisa membuat seorang anak sangat bahagia dan ingin terus berbuat lebih baik, sebaliknya, satu celaan bisa mematahkan semangat seorang anak dan membuatnya menggugurkan mimpinya.

Pengakuan terhadap seseorang adalah sumber kekuatan

Apa yang salah dengan pendidikan kita? Bagaimana kita dididik dan menjadi pelaku pendidikan adalah jawabannya. Kenyataannya, cerita tersebut bukan sekadar bumbu untuk membuat film itu menarik, tapi lebih dari sebuah refleksi atas kenyataan yang terjadi selama ini. Masih ingatkah kita berapa kali kita pernah mendapatkan pujian dari guru-guru kita, orang tua kita, bahkan dari orang-orang di sekitar kita? Atau masih ingatkah berapa kali kita pernah memberikan pujian kepada murid-murid kita, anak-anak kita dan kepada orang lain yang berada disekitar kita? Bisa jadi kita tak tahu jawabannya karena kita sangat jarang menerima dan memberikannya, bahkan mungkin hampir tidak pernah. Bisa jadi hal itulah yang membuat kita pernah berhenti untuk memenangkan sesuatu, berganti cita-cita atau mungkin berhenti melakukan sesuatu yang baik. Itu jugalah yang bisa terjadi pada generasi penerus kita jika kita memperlakukan mereka sama dengan yang kita peroleh.

“Dalam diri setiap anak ada sisi gelap dan terang, carilah sisi terangnya”

Pendidikan di Negara kita sudah seharusnya jauh lebih baik, karena dengan mudah kita telah dapat belajar banyak dari kesuksesan Negara lain. Tidak lagi sulit untuk mendapatkan informasi mengenai pendidikan anak dalam keluarga dan di sekolah. Jika tak sanggup membeli bukunya, maka dengan siaga Internet memudahkan kita untuk mendapatkan informasi yang kita inginkan. Model-model pembelajaran, Multiple Intelligence hingga psikologi perkembangan bukan hal yang sulit kita pahami jika kita memang mau belajar. Sebuah pepatah mengatakan,”jika anda berani mengajar, maka anda harus berani belajar.”

Anak-anak jaman sekarang berbeda dengan jaman kita dulu, oleh karena itu kita juga harus berbeda dengan orang-orang tua dan guru-guru jaman dulu.

Berani membuka mata terhadap perubahan memang tidaklah mudah, apalagi jika kita telah merasa nyaman dengan apa yang kita pahami, tapi menutup mata sama saja tidak siap untuk melanjutkan hidup, karena waktu berjalan beriringan dengan perubahan. Sudah saatnya kita dapat memahami bahwa sekolah bukanlah sekadar tempat untuk bertemu guru, mendengarkan guru berceramah, memenuhi absensi dan mendapatkan nilai. Lebih dari itu, sekolah seharusnya dapat menjadi rumah kedua yang tidak hanya mengajarkan mata pelajaran exact dan non-exact, tapi juga pelajaran tentang kehidupan dan bagaimana menjalani kehidupan. Aku jadi teringat dengan sebuah cerita tentang sang penemu Microsoft, Bill Gates. Seorang temannya pernah berkata, nilai-nilaiku selalu bagus di sekolah, setelah lulus sekolah aku bekerja sebagai engineer di perusahaan microsoft. Dan yang menjadi bosku adalah temanku yang dulu nilainya tidak pernah bagus.

Kecerdasan bukan hanya karena mampu memperoleh nilai yang baik di sekolah, lebih dari itu kecerdasan adalah setiap kemampuan yang dimiliki oleh setiap anak.

Barang berguna dipakai dengan salah akan jadi tidak berguna. Barang tidak berguna dipakai dengan benar akan jadi berguna.

Setiap anak memiliki kelebihannya masing-masing. Suka memukul orang, bisa jadi calon pemain karate yang handal. Suka mengotak-atik mainan, bisa jadi calon engineer handal. Suka mencoret-coreti dinding, bisa jadi calon arsitektur handal. Kita tidak harus kaku bahwa cerdas bergantung dari nilai pelajaran matematika, Bahasa Inggris, IPA, dan sebagainya. Mampu menggambar, memanjat, bermain sepak bola, karate, menyanyi, bermain peran dan masih banyak lagi, adalah kecerdasan yang bisa berbeda dari setiap anak yang Tuhan telah anugerahkan. Tidak harus sama. Tidak harus dinilai dengan tolak ukur yang sama dan dari sudut pandang yang sama.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Perempuan berdarah bugis yang memiliki nama asli Jayanti ini memiliki impian untuk membangun sekolah Islam tak berbayar bagi anak-anak kurang mampu di daerah asalnya, kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan. Alumnus Unismuh Makassar serta Sekolah Guru Indonesia ini sedang menjalankan tugas sebagai pengelola School of Master Teacher Makassar, salah satu program pendidikan keguruan yang diinisiasi oleh Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa serta mengelola Kolong Ilmu, salah satu program dari Klinik Pendidikan Nusantara, sebuah Komunitas Volunteer yang berupa rumah baca, rumah belajar dan rumah kreatifitas bagi anak-anak pelosok Nusantara yang saat ini tersebar di tujuh titik di Indonesia.

Lihat Juga

Program Polisi Pi Ajar Sekolah, Pengabdian Polisi Jadi Guru SD dan TK