Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Ciri dan Buah Keikhlasan

Ciri dan Buah Keikhlasan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Ilustrasi
Ilustrasi

dakwatuna.com – Keikhlasan merupakan pembicaraan yang tidak memiliki akhir. Karena sifatnya yang private, ikhlas menjadi kata tak berwujud. Hubungannya juga hanya bersifat dua arah. Antara makhluk dan tuhan. Sehingga tak heran dalam pembahasan kitab hadits-hadits terkemuka pun, niat selalu ditaruh di bab awal. Karena niat yang ikhlas adalah intan permata yang menyinari amalan harian manusia.

Tingkat keikhlasan seseorang dapat diukur melalui tiga hal sederhana.

1. Semakin ikhlas seseorang, jika semakin menyukai amal yang bersifat tersembunyi

2. Semakin ikhlas seseorang, jika semakin ringan dalam beramal dan tidak mengungkit-ungkit amalannya

3. Semakin ikhlas seseorang, jika semakin sibuk mencari keridhaan Allah dan tidak terlalu mempedulikan penilaian manusia

Alangkah indahnya insan yang selalu terbalut dalam keikhlasan. Hari-harinya penuh dengan taburan bunga yang bermekaran. Suasana harinya selalu cerah, bagai berjalan di taman-taman surga. Bahkan, kerjanya telah terkonversikan menjadi permainan menyenangkan. Dan buah terbaik dari semakin ikhlasnya manusia menjalani hari, ialah hubungan dengan Allah yang semakin mesra.

“Ya Allah, ampunilah segala dosaku yang kecil dan yang besar, yang telah lewat dan yang akan datang, yang kulakukan secara terang-terangan dan yang tersembunyi.” (HR.Muslim)

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ridwan Akbar
Mahasiswa Hubungan Internasional, FISIP UIN Jakarta.

Lihat Juga

Ilustrasi - Jamaah shalat di sebuah masjid di Pattani, Thailand. (senejet.net)

Khutbah Idul Fitri 1437 H: Agar Kemesraan Tak Segera Berlalu