Home / Pemuda / Mimbar Kampus / Untukmu Jiwa yang Kurindukan

Untukmu Jiwa yang Kurindukan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Salam cinta untukmu Saudaraku. Bacalah ini dengan hatimu.

Saudaraku, mungkin saat ini engkau mulai merasa bosan dengan syuro-syuro kita, atau dengan agenda yang itu-itu saja atau bahkan mungkin engkau mulai enggan menatap saudaramu.

Atau, engkau telah merasa risih dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan agenda-agenda dakwah kita. Saat ini engkau boleh bilang, “Aku tak suka syuro. Aku tak suka berjalan dengan kalian. Aku tak suka. Aku tak suka. Aku tak suka.” Kau terus berkata seperti itu hingga dengan berbagai alasan engkau tak mau bertemu saudaramu lagi. Bahkan hingga lisanmu pun tak pernah merasa lelah mengatakan, “Aku tak suka. Aku ingin pergi dan aku… aku… aku…”

Mesti begitu saudaraku, aku merasa yakin. Yakin dan sangat yakin bahwa suatu saat nanti, saat kau tak bersama kami lagi, saat kita lanjut usia nanti, saat itulah engkau akan merindukan apa yang tak kau sukai saat ini. Saat itulah, engkau akan bercerita panjang lebar dengan keluargamu, anak-anakmu, cucumu, atau kerabatmu.

Saat itu juga engkau akan bicara bahwa kau pernah bersama kami. Bahwa kau pernah menjadi bagian dari “keluarga” dakwah ini. Kau bercerita kepada mereka sambil air matamu terus mengalir membasahi wajahmu. Karena saat itu engkau merasa menyesal karena terlalu cepat kau meninggalkan amanah dakwah yang telah kau terima. Atau karena kau terlalu sering bertingkah dan kerap membantah dengan apa yang telah kau terima.

Sebelum semua penyesalan itu terjadi, aku ingin sampaikan padamu, “Saudaraku, lihatlah saudaramu. Saudara kita yang ada di tanah Palestina, Suriah, dan negeri-negeri yang sedang terluka lainnya. Mereka berjuang dengan darah-nyawa mereka. Sementara engkau? Sementara aku? Apa yang sudah kita lakukan?

Untuk syuro saja kita malas. Untuk bicara dengan saudara yang lain pun kita mulai enggan. Kita terlalu sering mengeluh. Kita terlalu sering berpikir: amanahmu adalah amanahmu dan amanahku adalah amanahku. Kita lupa bahwa kerja dakwah ini tidak bisa kita lakukan maksimal jika kita tak bisa berjama’ah dan bekerja secara total”.

Melalui tulisan ini saudaraku, aku ingin mengungkapkan kerinduanku padamu yang tak mampu lagi aku membendungnya. Kerinduan seperti seorang kekasih yang merindukan kekasihnya.

Saudaraku, kau boleh bilang ini lebay, ini berlebihan, ini terlalu, atau ini-ini yang lain. Tapi tetap aku harus ungkapkan ini, agar kau tahu bahwa Aku, Dia, Kami, Mereka, memang sangat merindukan kehadiranmu, sangat merindukan jiwa yang tak lagi mengeluh, jiwa yang tak lagi berkata : amanahmu adalah amanahmu dan amanahku adalah amanahku. Tetapi jiwa yang justru berkata : amanahmu adalah amanahku juga dan amanahku adalah amanahmu juga. Dan kita akan bekerja bersama. Ya, berjama’ah.”

Aku tulis ini sebagai salah satu wujud cintaku. Cinta seorang saudara kepada saudaranya.Tidak sempurna iman seseorang sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. (HR. Bukhari-Muslim)

Aku ungkapkan ini agar engkau pun merasakan hal yang sama. Agar engkau pun akan mengingatkan aku ketika lupa dan bersalah.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 9,83 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

A Hilman
Mahasiswa FKIP UMSU, Ketua Kaderisasi PK KAMMI UMSU. Munsyid.

Lihat Juga

Kajian Core Competence Dakwah Kampus