Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Membaca Fenomena: Telat Menikah Yang Dipaksakan

Membaca Fenomena: Telat Menikah Yang Dipaksakan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

menikahdakwatuna.com – Saya bercerita dengan salah seorang kerabat yang telah menghatamkan hafalan al-Qur’annya dan saat ini sedang muroja’ah(proses mengulang hafalan) agar hafalannya menjadi lebih kuat.

Sayapernah mendengar bahwakerabat saya ini ingin segera melangsungkan pernikahan dengan seorang akhwat yang dikaguminya. Ia mencoba melamar akhwat tersebut. Disela-sela obrolan sayabertanya padanya, “Oh ya?Kapan nich undangannya?”

Sambil tersenyum dan menarik nafas  dia menjawab, ”Dipending.”

Maksudnya?”Sayamencoba bertanya ulang, sambil mengkerutkan dahi karena sedikit heran dengan jawabannya.

“Dipending selama-lamanya.” Begitu jawabnya.

“Hmmmmm…Apakah orangtua si akhwat menolakkarena materi?” Tanya saya menebak.

“Bukan,” jawabnya singkat.

“Lalu,karena apa? Kejar saya penasaran.

“Karena diamasih mempunyai kakak perempuan yang belum menikah,” jawabnyaserayamembesarkan hati.

“Oh ya? Berapa umur akhwat tersebut?” Tanya saya sekenanya.

“29 tahun.”

“Hmmmmm, Allahul Musta’an…”

***

Dari obrolan singkat bersama kerabat saya tadi, akhirnya saya mencoba berbagi dengan rekan-rekan saya di media sosial perihal fenomena telat menikah yang sering terjadi. Berharap ada masukan dan saran guna menjadikan sebuah solusi untuk menjawab setiap permasalahan yang sering terjadi di masyarakat. Agar kita semua bisa mengambil pelajaran yang bermanfaat.

Tanggapan pun beragam. Mulai dari mereka yang terheran-heran sampai ada yang menyayangkan kejadian tersebut. Anggaplah kejadian ini mewakili dari sekian banyak fenomena telat menikah seseorang yang sedang galau.

-Rekan saya bernama Febiansyah, seorang Mahasiswa di Universitas Su Moon Korea Selatan pun tak banyak berkomentar, ia hanya menanggapi fenomena ini dengan tulisan, ”Hmmmmmmm”

-Salah seorang rekan saya yang lain, Sukmahadi, yang sedang menuntut ilmu agama Islam di Universitas Sidi Muhammad Bin Abdullah negeri Seribu BentengMaroko pun berkomentar, “Sungguh miris, ternyata di era modern seperti sekarang ini masih ada yang percaya hal seperti itu. Seharusnya kalau menurut tuntunan syariat Islam, kalau memang sudah mampu dzahir dan batin maka wajib hukumnya untuk menikah.

-Komentar lain ditambahkan oleh rekan saya bernama Ardan, mahasiswa di Universitas Ummul Quro Mekah Arab Saudi, “Yang laki-lakimenggantung jadinya. Sedangkan yang akhwat semakin terluka. Sedangkan orang tua sang akhwat? sepertinya butuh ditarbiyah (pendidikan) lagi kali ustadz.”

Masih dari rekan saya, Ardan, Orangtuanya keras, saya pernah menemukan kasus yang sama persis seperti ini juga.Bahkan lelaki yang datang melamar akhwat itu sampai tidak mau ditemui oleh wali dari akhwat itu. Alasannya sama, karena kakak dari akhwat itu (perempuan juga) belum menikah.Hingga akhirnya berakhir dengan “Kerusakan” juga. Takun fitnatun fil ardhy wa fasaadun kabiir (terjadi fitnah/ujian di dunia dan kerusakan yang besar).”

-Rekan saya yang bernama Najmuddin yang sama-sama lulusan Universitas Al-Azhar Mesir pun tak mau ketinggalan untuk memberikan tanggapan perihal fenomena telak menikah yang terkesan dipaksakan ini, Itulah diantara Fenomena yang sudah menjamur di tradisi kita.Perombakan tradisi-tradisi semacam itu amat tidak mudah dan tidak bisa sekaligus. Karenanya harus difahamkan sedikit demi sedikit.Melalui ceramah, artikel dan lain sebagainnyaagar suatu saat fenomena sosial ini bisa berubah menjadi sebuah solusi.”

Topik ini pun semakin menggelitik dan menarik saya memperbincangkannya lebih jauh di lingkup intelektual. Ketika itu, saya coba mengutarakan masalah yang sering terjadi seputar fenomena sosial ini kepada rekan-rekan dosen di Fakultas Dakwah Universitas Islam Bandung (UNISBA). Komentar pun beragam, diantaranya:

–          “Ajaran Islam sebenarnya tidak mengenal istilah urut dalam pernikahan. Yang ada adalah jika memang sudah siap menikah, umur terus bertambah, mental sudah siap maka tidak ada alasan lain yang bisa menghalangi proses percepatan menikah.”

–          “Islam tidak mengenal istilah ‘pamali’, jadi jika ada seorang adik yang melangkahi kakaknya yang belum menikah itu sah-sah saja secara agama. Adapun tradisi yang berkembang di masyarakat sebenarnya harus diubah secara persuasif menimbang mudharat (efek negatif) yang terjadi karena menunda pernikahan karena alasan yang dipaksakan.”

Kesimpulan dari diskusi singkat saya dengan para dosen Fakultas Dakwah UNISBA:

–          “Orangtua dituntut lebih bijak dan melihat aspek lain ketimbang bertahan dengan tradisi yang pasti akan merugikan banyak pihak. Karena kita tidak tahu. Bisa jadi, dengan dipercepatnya proses pernikahan sang adik, sang kakak yang sekian lama melajang menjadi termotivasi untuk segera menyusu.”

–          “Dan sangat mudah bagi Allah Ta’ala dibukakan jalan dan didekatkan jodohnya paska pernikahan sang adik. Adapun menunda-nunda pernikahan dengan alasan tradisi yang membelenggu diri hanya akan menambah masalah dan beban pikiran para orangtua dan putra-putri mereka khususnya.”

–          “Bagaimanapun juga, orangtua yang kurang bijak harus bertanggung jawab atas keterlambatan anak-anaknya menikah.Padahal jika dirujuk kepada anak-anak mereka, keinginan untuk menikah sangatlahbesar dan  itu terjadi pada kakak perempuan atau adiknya.”

Oleh karenanya, Islam datang membawa solusi dalam menyikapi fenomena sosial yang sering terjadi di sekitar kita, bentuk solusi itu adalah:

  1. Dengan segera menikahkan kakaknya terlebih dahulu jika memang sudah mendapatkan jodohnya.
  2. Kalaupun belum ada, sebaiknya sang kakak dan orangtua legowo atau mempersilahkan sang adik untuk menikah dengan seseorang yang datang lebih dulu melamar demi menghindari fitnah dan kerusakan yang akan terjadi.
  3. Bisa saja keinginan menikah sang adik ditangguhkan lantaran mempertahankan tradisi. Tapi harus memenuhi syarat agar dia bersabar terkait penundaan menikah dengan lebih menjaga diri dari perbuatan tercela. Akan tetapi, syarat ini pun sebenarnya sangatlah berat karena pada fitrahnya manusia memiliki dorongan seksual yang tinggi jika sudah memasuki usia dewasa.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (21 votes, average: 9,05 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Guntara Nugraha Adiana Poetra, Lc. MA.
Dosen Fakultas Dakwah Universitas Islam Bandung (UNISBA) & PIMRED di www.infoisco.com (kajian dunia Islam progresif)
  • Leenk Tulleenk

    di jaman skrg tlt menikah bahkan tdk sama sekali menikah pun sdh bnyak trjadi sprti sdh jd hl yg biasa.pdhl manusia itu tdk cukup dgn sndang pangan sj.trus kmn meraka mnyalurkn hasrat biologis nya.entahlah??

  • Irna

    memang..tradisi (pamali) itu masi melekat di kehidupan masyarakat tanpa melihat sisi kemaslahatan yang lainnya

  • Tanggung Jawab kita semua untuk memberikan Pemahaman yg benar dengan sebaik-baiknya terutama ke keluarga kita sendiri . ..

  • Rosi Prakas Pangayoman

    sama seperti yang saya alami sekarang, nasib saya dan calon saya digantung oleh calon mertua saya..kakak perempuan calon istri saya tidak mau di langkahi dengan alasan yang tidak jelas, sedangkan calon ibu mertua saya sudah ridho..mohon solusinya..terima kasih

    • Guntara Nugraha Adiana Poetra

      Kasus yg anda alami sebenarnya mewakili dari
      bnyk kasus di masyarakat. sy melihat dalam masalah ini tidak melulu si
      kakak calon isteri menjadi sumber hubungan yang menggantung antara anda dan calon isteri

      Paling tidak ada 2 fenomena :

      1. terhalang dari sikap sang kakak calon isteri atau suami
      2. terhalang dari sikap calon mertua.

      Solusinya Untuk masalah yg pertama : disini perlu lobi2 khusus dari
      sang adik (calon isteri atau suami) kepada yg bersangkutan. sekali lagi
      tidak ada di dunia ini yg ingin melihat saudaranya berada dalam
      kesulitan kecuali orang2 yg hatinya di pertanyakan.

      Pandai2 melobi sehingga hati kakaknya luluh, ajaklah bicara secara perlahan,
      kalau perlu ajak ke rumah makan, ajak juga keluarga yang lain dan
      bicarakan masalah ini sambil bercanda dan tertawa. pecahkanlah kebuntuan
      anda selama ini dengan kehangatan. toh manusia adalah makhluk berakal
      yang dengannya bisa menjadi solusi.

      Kalau si kakak sudah luluh, dengan sendirinya dia lah yang akan melobi kepada orangtuanya, dan merelakan untuk dilangkahi oleh adiknya, hal ini memang tidak mudah akan tetapi kalau anda belum mencoba langkah ini, ini akan menjadi lebih
      tidak mudah. usaha saja dulu, setelah itu tawakal….. daripada kita
      terus berpacaran, lebih baik menyegarakan kebaikan dengan menikah. insya
      Allah disana ada kebahagiaan yg Allah janjikan bagi mereka yg benar2
      ingin menjaga kehormatannya

      ============

      Untuk
      masalah yg kedua : terkadang memang saat si kakak belum bisa memberi
      sikap, adapun saat si kakak di depan sang adik terlihat merelakan untuk
      di langkahi dgn perkataannya, sekali lagi ini bukan serta merta
      menunjukkan si kakak benar2 ingin dilangkahi, terkadang itu bukanlah
      perkataan yg keluar dari hati, sebenarnya dia agak sedikit kurang rela
      untuk di langkahi, apalagi jika usia sang kakak sudah lanjut ( memasuki
      kepala 3)

      Dalam hal ini…sikap si kakak pun NORMATIF dan bisa
      dirasakan oleh kedua orangtuanya….makanya orangtua lah yg sebenarnya
      keberatan saat kakaknya dilangkahi, apalagi kalau si kakak itu
      perempuan, masalahnya akan beda jika si kakak itu adalah laki2

      Usahakan tidak ada
      yg disakiti, sentuh mereka dengan lobi2 kita yg baik. kalaupun memang
      si kakak rela, biasanya kata2 merelakan tidak akan terlontar di depan
      orang banyak, di depan kita dan saudara2 kita, akan tetapi cukup dengan
      perkataannya kepada orangtuanya (empat mata atau dengan percakapan
      pribadi)…..setelah itu orangtuanya lah yg akan menyampaikan sikap
      kakaknya kepada adiknya…kalau dia bersedia dilangkahi jika sang adik
      memang sudah sangat siap untuk menikah, apalagi calonnya sudah lama
      menunggu.

      Oleh karenanya sikap orangtua tentu sangat
      berhubungan dengan sikap kakak kita, maka pandai2 lah melobi tanpa harus
      menyalahkan keadaan apalagi orang lain. kalaupun ada yg perlu disalahkan maka salahkan
      diri kita sendiri yg kurang pandai bersosialisasi. Bukankah ajaran Islam
      lebih mengedapankan dialog daripada ego

      Semoga berhasil kawan.

  • niken

    saya jg mengalami hal ini,nasib saya dan calon digantung oleh kaka perempuan saya selama 2thn,pada akhirnya saya mengalah demi kaka saya, dan alhamdulilah saat ini saya sudah mendpat keputusan kalau kaka saya akan segra menikah akhir tahun 2014 ini,dan disusul saya insyaAllah 2bulan ke depan, mohon doanya semoga dilancarkan

    • Guntara Nugraha Adiana Poetra

      Ya. Mudah2an lancar

Lihat Juga

Erdogan, di Antara Beratnya Perjuangan dan Pedihnya Fitnah