Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Menyusun Hidup

Menyusun Hidup

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.comSudah lama tak singgah ke ruangan ini karena banyak ruangan lain yang perlu disinggahi atau mungkin karena tak punya cara untuk menyusun kata-kata. Barangkali saja sedang berusaha menyusun hidup, yang terdiri dari dua suku kata, susun dan hidup.

Kabut masih saja menyelimuti dingin di pagi menjelang sepenggal matahari naik, jalan-jalan belum penuh dengan susunan pengguna kendaraan bermesin di pinggir jalan tertata rapi susunan batu bata pembuat rumah. Susunan yang jika kembali kita telaah, satu saja yang tersingkirkan maka ia akan runtuh, berusaha mengatur satu persatu batu.

Seorang bapak tua sepagi ini telah memulai menyusun hidupnya. Menyusun hidup untuk istri, anak, dan keluarga lainnya, menyusun bahan-bahan pembuat batu untuk kemudian kembali disusun jika batu telah selesai dicetak, kemudian menyusun waktu untuk menyusun kegiatan berikutnya. Kuperhatikan, susunan batu yang rapi untuk menyusun banyak kediaman hidup masyarakat, tak ada batu maka tak tersusun rumah hidup kita.

Pernahkah kita sesekali menyusun hidup kita dengan mengitari sekeliling dinding rumah kita? Saya yakin jawabannya pasti sudah, namun pernahkah kita mengelilingi rumah sambil berpikir bahwa ada susunan batu di dinding tersebut sehingga kita bisa dengan tenang juga menyusun hidup kita seperti susunan partikel yang ada di alam. Semuanya tersusun tak ada yang berdiri sendiri.

Tak jauh di perjalanan selintas kulihat susunan kerupuk yang telah dibungkus dengan plastik, terletak bersusun di atas motor pemilik penjual kerupuk untuk di jual ke pemilik warung harian. Kerupuk yang disusun di bangku bagian belakang sepeda motor, rapi dan susunan itu juga mengikuti susunan irama hidup manusia.

Sepagi ini ia telah menyusun hidupnya untuk keluarga dengan menyusun waktu, warung di sepanjang jalan belum banyak yang buka sehingga ia hanya meletakkan dua susunan kerupuk di meja depan pintu masuk warung. Menyusun soal keberkahan pagi, tetap saja ia sebuah susunan, susunan hidup kita seperti susunan kerupuk di dalam plastik, apabila tak baik susunannya maka akan pecah dan nilai jualnya akan menurun.Yah susunan hidup kita sedang dipertanyakan, apakah ia sudah baik, buruk atau malah kita tak berani menyusun hidup sendiri karena takut tak berhasil menyusunnya?

Berjalan sedikit lagi, kita temukan ibu-ibu tua sedang berjalan di pematang sawah, kembali ia menyusun hidup dengan cara mengatur besar kecilnya air yang masuk ke sawah yang sudah ditanami padi, tetap saja sebuah proses penyusunan, waktu pagi yang berlimpah berkah, serta susunan materi yang hendak dicapai untuk mengisi kampung tengah (perut) anak-anaknya. Menyusun hari-hari dengan kecintaan sekalipun kaki dan tangan telah penuh lumpur sawah tetapi masih saja ada susunan bahagia dan bangga dari mereka. Susunan keikhlasan yang tak pernah berujung kedengkian atas kemewahan para pemimpin negeri ini. Hanya ada susunan jerih payah untuk berbuat yang terbaik di pagi ini, pagi selanjutnya serta hari-hari berikut saat waktu masih diberikan untuk menyusun hidup mereka.

Tetap saja akan banyak kita temukan di alam ini berbagai susunan untuk mengumpulkan susunan kehidupan. Seorang kakek tua dengan rambut sudah menyeluruh putih, duduk di depan rumah tepi jalan raya sambil menghadap ke matahari pagi, berpanas yang mengandung sinar ultraviolet, tetap saja ia sedang menyusun hidupnya dengan sebuah arti kesehatan, agar tetap sehat menyusun hari-harinya. Selempang sarung di pundak serta tak lupa sambil memijit bagian kaki yang sakit dengan sesekali menatap ke jalanan, tetap saja ia berusaha menyusun senyumnya walau gigi satu persatu sudah mulai meninggalkan posisinya, walau kulit sudah mulai tak bersinar sehingga perlu disinari dengan sinar matahari pagi, tetap saja ini sebuah susunan hidup karena senyum adalah ibadah, karena sehat adalah nikmat serta menjaga kesehatan adalah menyusn hidup untuk tetap bisa beribadah pada Sang Pencipta.

Sangat banyak susunan yang akan kita temukan di jalan, di mana saja menyoal susunan hidup, apa saja itu, darat, laut, udara, tetaplah ia sebuah susunan. Susunan partikel alam, pepohonan, gas serta semuanya yang bisa kita lihat dan tak terlihat, telah menyatu ia dalam bentuk susunan. Dan apabila kita bisa renungi akan sangat banyak yang bisa kita ambil hikmahnya.

Sangat banyak sekali, karena aku bukanlah orang yang mampu menyusun kata-kata agar mampu engkau terjemahkan namun kita akan sama-sama belajar menyusun hidup ini dengan ribuan hikmah yang sangat banyak dapat kita temukan. Selamat berlayar dalam susunan hidup yang bervariasi termasuk aku yang juga sedang belajar berjalan menyusun hidupku. Semoga saja kita tak berhenti di satu susunan karena susunan yang tinggi akan lebih banyak goncangan sehingga perlu pondasi yang kuat di awal, menjaga susunan untuk terisi penuh sangatlah sulit karena satu saja susunan yang terangkat, ia akan kembali roboh atau jikpun tak roboh, tetap saja susunannya akan tak kuat sehingga suatu waktu ia juga akan lemah. Maka mari kita susun hidup ini dengan susunan yang penuh arti karena hidup hanyalah sekali untuk menyusun kehidupan yang lebih berarti esoknya.

About these ads

Redaktur: Deddy S

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Nia Assyifa
Pegawai Negeri Sipil. "Menjadi karanglah meski tak mudah, sebab ia akan menahan sinar matahari yang garan, ia akan kukuh halangi deru ombak yang kuat menerpa tanpa kenal lelah, melawan bayu yang keras menghembus dan menerpa yang dingin yang mencoba membekukan, ia akan kokohkan diri agar tidak mudah hancur dan terbawa arus, ia akan tegak berdiri, belajar untuk terus berjalan..nmenapaki arti hidup sesungguhnya"

Lihat Juga

Ilustrasi (123rf.com / Tjui Tjioe)

Sumber Kehidupanku