Home / Keluarga / Pendidikan Keluarga / Panggilan Taat adalah Cinta-Nya

Panggilan Taat adalah Cinta-Nya

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Alangkah sejuk hatinya yang menatap. Kehadiran memesona terbingkai dengan keindahan bertabur dengan kejelitaan. Demikianlah. Menjawab atas seruannya, kusebut-sebut panggilan cinta untuk bertaat. Maka, tak adalah akal jika tak tersentuh atas panggilannya. Tak adalah rasa jika kemudian tak tergerak. Bahkan, bisa-bisa tak adalah lagi nyawa jika tak tersentak. Mendengarnya  apalagi mengiyakan segala seruannya, duhai ummi tercinta!

Ummi. Sosok inilah cinta yang berwujud bidadari dikirimkan terkhusus tuk mendidik, mencinta, dan memberi atas segala apa yang diingin dan dimau oleh kita selaku anaknya. Inilah bagian kisah kasih yang menggambarkan raut wajah sayang, serta air mata cinta. Darinya, ummi tercinta!

Perasaannya kadangkala ingin, namun tak sampai. Perasaannya juga kadang tak sabar, namun berkorban tuk manisnya perjumpaan. Ia ingin dan tak sabar tuk bertemu, namun kemauan tak terbalaskan tuk iyakan inginnya. Hingga kemudian, ditahanlah keinginannya berbungkuskan kerinduan, bahkan tak jarang dengan kekesalan. Kerinduan karena anaknya tak mengiyakan atas panggilannya, serta kekesalan bahwa anaknya lebih menyibukkan kegiatannya daripada dirinya. Na’udzubillah.

Benarlah, memang. Kadangkala panggilannya tak terindahkan dalam dada-dada kita. Adalah kita lebih mementingkan apa yang kiranya menjadi penting tuk terlebih dahulu didahulukan. Padahal, bukankah kelelahan dan kesibukan berkegiatan tak akan berarti jika tak ada keridhaan darinya? Duhai saudaraku, Allah telah pesankan  jauh-jauh dalam surat cintanya: Ridha-Ku adalah pada Ridhanya.

Sungguh, betapanya lelah jika kelelahan tak lagi melahirkan keberkahan langkah. Beginilah jika langkah hanya melangkah, namun tak didapati keridhaan atasnya. Mungkin orang tua diam, namun batinnya tak mendiam. Mungkin orang tua juga mengiyakan atas segala bentuk izin kita, namun sebenarnya ia benar-benar butuh atas keberadaan diri. Lantas, karena ini ia pun berdoa entah apa yang ingin diangkat bersama doanya. Semoga, semoga baik adanya… :)

Pernah, ya pernah menjadi saksi kepedulian terpenting berletak pada keluarga. Bukan hanya aku. Bisa jadi yang lain. Dan, memang hal ini berlaku lah tuk sesiapa pun dia dan keluarganya. Bagaimana pun kondisinya. Bisa, meski bisa jadi kita tak senang dengan kondisi keluarga kita. Bisa jadi pula kita tak sealiran lantas kepedulian kita berpindah atau lah goyah. Dan, bisa jadi pula kita tak nyaman, lalu penting lah orang lain dibandingkan dengan kita. Padahal, bukan kah sebenarnya Allah berpesan bahwa ia adalah cinta utama yang disebut-sebut dalam kitab suci (al Quran); tuk berbakti dan bertaat segala kondisi (read: kecuali maksiat). Maha benar Allah utuskan tuk lindungi keluarga kita dulu bukan orang lain dulu. Karena ialah ladang bersosial tuk kali pertamanya. Wallaahu a’lam bishawab.

Alhasil, kerugian berterusan berlayar membersamai diri! Karena seringnya kita memelihara perkataan:

  • Sebentar, Bu!
  • Ini penting, Bu!
  • Ini masalah organisasi keIslaman, Bu!
  • dan alasan-alasan apalah itu.

Atau malah berkebalikan. Syukurlah, jika demikian! Kita malahan bertindak patuh dan menjawab segala titahnya dengan siap dan sigap. Karena memang dalam perintahnya menunjuk dan mengangkat kita pada kemuliaan di hadapan-Nya, Allah Azza wa Jalla. Berbakti dan taat. Duh, gembiranya!

Duhai saudaraku, bukankah cinta telah teratur dalam tingkatannya? Karena-Nya, bagaimana pun cinta orang tua adalah bagian utamanya tuk dicintai sepenuh hati. Maka, panggilannya, dalam kondisi bagaimana pun adanya, mari siap dan sigap tuk menerima. Sesulit apapun inginnya, sepele apapun keinginannya. Diam, dengar, dan dilakukan. Oh, indahnya!

Salam takzim, sepenuh cinta tuk Ummi!

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Rendra Mochtar Habibie
Mahasiswa jurusan Sastra Indonesia, UNS (Surakarta) yang berjuang tuk membaikkan dunia dengan kata-kata sederhana. Saat ini juga sedang beraktivitas pada kelembagaan LDK JN UKMI, SASERU Study Club, dan menjadi fasilitator (pelayan masyarakat) di Rumah Bersyukur (@rumahbersyukur) untuk Indonesia.

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Geliat Cinta Pejuang