Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Catatan Kehidupan

Catatan Kehidupan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

renungan-hidupdakwatuna.com – Akhir suatu malam menandakan fajar akan muncul. Suara-suara panggilan untuk menyeru kepada ilahi, menenggelamkan suara-suara jangkrik dan suara ayam. Dipembaringanku yang sepi ini yang senantiasa ditemani bantal dan guling yang telah lapuk dan usang oleh waktu, dinding-dinding yang bertelinga seolah berbisik mengalunkan suara-suara yang tak aku mengerti, aku yang terjaga dalam tidurku meski kelopaknya terasa berat untuk terbuka. Seketika mungkin kusingkap selimut ini mengakhiri lelap dan kemalasanku, seraya bergegas kulangkahkan kaki membasuh diri dengan wudhu. Subhanallah meski dingin menusuk tulang segera kutunaikan tahajudku, mencoba bermunajat kepada-Nya, setiap rakaatnya kesenduan menikam itu tertuang dalam do’a panjang yang berujung dengan pergulatan air mata, tak dapat kubendung lagi, tak kuasa diri menahannya, senantiasa memanjatkan syukur atas segala nikmat-Nya, karena-Nyalah mulut ini tak pernah bisu bercerita, kaki ini tak pernah berhenti melangkah, menatap dan berjalan kedepan, yah jalan ini masih panjang dan jangan lagi menoleh kebelakang karena setiap catatan yang tertulis akan jadi saksi hidup dalam perjalananan hidup ini. Berada dikampung Tambleg telah mengajarkan banyak hal dalam hidup ini, meski hidup dengan kesederhanaan dan kebersahajaan yang tak terbatas, merasakan pahit dan getirnya kehidupan tak pernah membuat kami lupa dan luput dari kata bersyukur, Keindahan dan pesona Tambleg Telah membuatku sadar bahwa tak ada manusia yang mati rasa dengan lantunan lagu-lagunya yang kondusif, Tambleg juga mengajarkanku bagaimana kita berkomunikasi dengan kehidupan ini,bicara banyak kepadaku bahwa jika kita bekerja untuk kehidupan maka kehidupan pula akan memberikan apresiasi, kehidupan akan menjawab dengan responnya, yah begitulah maka setiap orang punya bingkainya sendiri untuk berbicara bahwa bukan kemiskinan itu yang akan menjadi musuh kita namun ketika orang lain tak lagi menginginkan kita, tak lagi ingin mendengarkan setiap candaan kita, tak lagi menghargai setiap usaha kita, dan yakinlah bahwa apa yang berasal dari hati akan kembali kehati pula dan apa yang berasal dari mulut akan kembali ke telinga pula.

Semakin panjang usia kita, semakin panjang pula catatan pengalaman hidup kita. Bagi mereka yang mau memetik pelajaran dari pengalamannya, maka pengalaman jadi kekayaan yang unik baginya. Usia membawanya pada kebajikan. Sedangkan bagi mereka yang acuh, pengalaman tak lebih dari goresan di atas pasir pantai. Usia tak menjamin apa-apa selain ketuaan baginya. Meski kita sama-sama dinaungi oleh langit yang sama; meski kita sama-sama diterangi oleh cahya matahari yang sama; meski kita sama-sama digelapi oleh malam yang sama, namun kita tak pernah sama dalam mencerap semua itu. Kita melihat cakrawala dari ketinggian yang berbeda. Kita melangkah di jalan setapak dengan bobot yang berbeda. Kita mengisi ruang dan waktu ini dengan besar tubuh yang berbeda pula. Maka, meski kita lahir di bumi yang satu, namun kita hidup di dunia yang berbeda-beda. Kita mempunyai sidik dunia pikiran yang tak sama bagi setiap orang. Keunikan itu takkan banyak berarti bila tak menjadi kekayaan bagi kita. Dan, kekayaan itu tak banyak bermakna bila tak membuat diri kita semakin bijak.

About these ads

Redaktur: Fauziah Nabila

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 9,60 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Nur insani As Shabir
Guru Model SGI Dompet Dhuafa.

Lihat Juga

Sumber Kehidupanku