18:07 - Kamis, 28 Agustus 2014

Genosida, Konflik Antar Etnis di Myanmar Meluas Menjadi Pembantaian Besar-besaran

Rubrik: Asia | Kontributor: dakwatuna.com - 26/05/13 | 23:39 | 17 Rajab 1434 H

Pembantaian Muslim Myanmar (inet)

Pembantaian Muslim Myanmar (inet)

dakwatuna.com – Jakarta. Konflik antar etnis yang terjadi antara suku Muslim Rohingya atau Arakan yang mendiami wilayah Rakhine, yang terus terjadi di wilayah Myanmar (Burma) diperkirakan telah meluas menjadi Genosida (pembantaian besar-besaran) tidak hanya pada salah satu etnis muslim saja.

Baru-baru ini, pusat lembaga advokasi hukum dan hak asasi manusia (HAM), PAHAM yang berada di bawah Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI), dan memfokuskan sebagai pusat informasi  dan advokasi Rohingya Arakan (PIARA) mengungkapkan, jumlah umat muslim di Myanmar turun sangat drastis dengan adanya konflik Rohingya yang terjadi di sana.

Direktur PAHAM, Heri Aryanto mengungkapkan, konflik yang terjadi di sana sudah menyebar, yang menjadi sasaran serangan warga Myanmar dan kelompok radikal Budhis di sana tidak lagi hanya orang Rohingya akan tetapi sudah menyebar ke semua komunitas muslim Burma yang mana mereka semua memiliki akar keturunan asli Myanmar, namun beragama Islam.

Heri mengungkapkan temuannya ini dalam tulisan buku perjalanannya dan tim PIARA PAHAM pada akhir April 2013 lalu, dimana kondisi konflik di Rohingya itu sudah hampir menyerupai seperti kekerasan Hitler. “Ini operasi sistematis dari kelompok yang menamakan 969 yang melibatkan pemerintah Myanmar,” ujar Heri, Sabtu (24/5).

Di wilayah Rakhine sudah ada gerakan masif yang bernama Rohingya Elimination Group (Kelompok yang bertugas mengeliminasi etnis Rohingya) itu linier tugasnya dengan kelompok 969. “Kelompok 969 ini diketuai seorang, Wiratu Bihiksu Mandala,” tuturnya. Dan saat ini konflik ini telah menyebar ke etnis muslim lain selain Rohingya, dan sudah menyebar ke wilayah Meikhtila dan Yangoon.

Kelompok 696 ini, papar dia, dibentuk untuk mengkounter kelompok Islam yang terus berkembang di sana. Di sana dikenal dengan kelompok 786 yang diistilahkan dengan simbol ‘Bismillah’ dalam huruf abjad myanmar.  Beberapa aktivis HAM yang ke lokasi, kata dia, memang sudah menyimpulkan bahwa konflik Rohingya ini sudah bukan lagi antar etnis, akan tetapi sudah menyebar ke penyerangan terhadap agama yakni Islam.

Ia mengatakan, Muslim di Myanmar secara data, yang terdiri dari etnis Rohingya dan Muslim Burma setidaknya ada 5 juta jiwa. Akan tetapi di beberapa wilayah konflik jumlah ini turun drastis hanya tinggal beberapa ribu orang saja. “Saat ini diperkirakan tinggal 125 ribu saja,” katanya.

Dimana sebagian besar mereka sudah terkosentrasi hanya dipinggir pantai dan tempat pengungsian, “jadi hanya menunggu waktu untuk diusir atau dimusnahkan oleh kelompok warga non-Rohingya.”

Secara jujur Heri menyampaikan, warga Myanmar yang non-muslim mereka takut Islam terus menyebar dan mengalahkan Budha sebagai mayoritas. Mereka tidak mau Myanmar terjadi seperti di Indonesia, dimana dahulu agama mereka jaya dan berganti dengan Islam.

Karena ada fenomena baru sebelum meletusnya konflik Rohingya ini, dimana muslim hampir menguasai sisi ekonomi di Myanmar. Dan beberapa wanita Budha di Rohingya telah menikah dengan Muslim Myanmar dan berpindah agama. (usb/aa/rol)

Redaktur: Samin

Topik: ,

Keyword: , , , , , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (3 orang menilai, rata-rata: 9,67 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
53 queries in 1,347 seconds.