07:04 - Jumat, 31 Oktober 2014
Phisca Aditya Rosyady

Solusi Menghadapi Degradasi Moral Versi “Serat Kalatidha”

Rubrik: Sosial | Oleh: Phisca Aditya Rosyady - 12/04/13 | 14:30 | 02 Jumada al-Thanni 1434 H

Ilustrasi (inet)

Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com - “Dan janganlah kamu mendekati zina, zina itu sungguh perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk.” (Al Israa’: 32)

Penggalan bait Serat Kolotidho:

amenangi jaman édan,
éwuhaya ing pambudi,
mélu ngédan nora tahan,
yén tan mélu anglakoni,
boya keduman mélik,
kaliren wekasanipun.
Ndilalah kersaning Gusti,
begja-begjaning kang lali,
luwih begja kang éling lan waspada.
 
Maknanya jika kita transliterasi ke dalam Bahasa Indonesia

“”Mengalami zaman serba gila, sulit rumit dalam bertindak, ikut gila tak sampai hati, jika tak ikut larut tak bakal dapat rezeki, kelaparanlah akhirnya, namun sudah takdir Allah, semujur-mujurnya yang lupa, lebih bahagia bagi yang ingat (pada Tuhan) dan tetap waspada””

Dewasa ini, moral generasi muda seakan-akan mengalami proses antiklimaksnya, menurun, menurun, dan menurun. Yap, banyak sekali fakta-fakta yang mendukung statement di atas, salah satunya adalah “51 dari 100 remaja perempuan tidak lagi perawan. Itulah hasil survey Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) di Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi (Jabotabek).  Rentang usia remaja yang pernah melakukan hubungan seks di luar nikah antara 13-18 tahun. “Berdasar data yang kami himpun dari seratus remaja, 51 di antaranya sudah tak lagi perawan,” ujar Kepala BKKBN, Sugiri Syarief, ketika ditemui dalam peringatan Hari AIDS Sedunia di lapangan parkir IRTI Monas, Minggu (28/11). ”

(kutipan dari http://sultra.bkkbn.go.id) Ada lagi kasus suap menyuap, korupsi merajalela dan masih banyak lagi borok yang menjangkiti bangsa ini.

Fakta di atas hanyalah secuil fakta dibalik kompleksitas bobroknya moral anak bangsa saat ini. Seakan-akan setiap waktu, setiap tempat pasti ada saja hal yang membuat miris. Kita sebagai pihak yang alhamdulillah boleh dikatakan belum “terkontaminasi” pasti akan mengalami dilema, menurut serat kalatidha di atas juga tersirat dilematisasi yang dihadapi manusia saat ini, di saat kehidupan yang teratur itu seakan-akan sudah jauh dari kenyataan. Semua serba bobrok, semua serba salah, dan semua serba membingungkan. “Melu edan ora tahan” (ikut gila tidak tahan, karena hati nurani pasti tetap mengajak kearah kebaikan). Sedangkan untuk opsi yang kedua adalah “yén tan mélu anglakoni, boya keduman mélik,” (jika tidak ikut gila maka seakan-akan mereka tidak akan mendapat jatah rezeki dan sebagainya). Seakan-akan manusia dihadapkan pada kondisi yang serba salah, ikut salah, tidak ikut juga tetap salah. Haha, memang hidup ini selalu dihadapkan pada beberapa opsional, seolah-olah kita mengerjakan ujian, ada soal pilihan ganda, di sana kita tentu perlu berpikir dua kali bahkan seribu kali untuk menentukan jawaban yang paling benar di antara beberapa alternatif yang disajikan. Hal ini juga sama dengan kehidupan kita, kita selalu dihadapkan dengan berbagai pilihan, seolah olah semuanya baik. Akan tetapi dalam benak kita tentu jika kita berfikir dan merasa lebih dalam tentu akan memunculkan sebuah opsi yang paling benar.

Selain itu dalam serat kalatidha juga disebutkan sebuah solusi yang tentu solutif untuk mengatasi kebingungan kita dan dilema kita untuk terus progresif maju menghadapi kehidupan yang semakin lama semakin membingungkan. Dalam serat kalatidha disebutkan “begja-begjaning kang lali, luwih begja kang éling lan waspada” yang intinya ada sebuah formula sederhana agar kita bisa menjadi orang yang beruntung dan sukses menghadapi rintangan dan dilema kehidupan yang ada, yaitu dengan selalu ingat dan waspada, ingat kepada sang Pencipta, sang Pengatur segalanya, Rabbul `Alamien. Karena dengan ingat kepada-Nya lah kita akan terus menerus beribadah dan berusaha untuk selalu menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi setiap larangan-Nya. Kemudian tentu kita juga harus tetap waspada, dalam kehidupan ini banyak sekali godaan yang akan menggoda dan menjerumuskan kita, tetapi jikalau kita selalu waspada maka semua godaan itu atas izin Allah akan mudah kita tangkis. Maka marilah kita selalu berpegang teguh pada 2 kunci ini, yaitu Ingat dan Waspada, untuk menatap dan mengarungi dilema kehidupan dan degradasi moral yang semakin lama semakin seru ini, Rawe-rawe rantas, malang-malang putung.

Phisca Aditya Rosyady

Tentang Phisca Aditya Rosyady

Mahasiswa Elektronika dan Instrumentasi (Elins) UGM. Lahir di Yogyakarta, Agustus 1991. Anak kedua dari tiga bersaudara. Mempunyai hobi di dunia jurnalistik dan instrumentasi. Beberapa kali menjuari lomba blog dan karya… [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Topik:

Keyword: , , , , , , , , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (Belum ada nilai)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • okabasi doma

    Pertanyaan saya, apa yg dinamakan serat kalathida buatan/karangan siapa dan merujuk ke kitab apa? kalau tidak merujuk/mengacu dan bersandar pada nash Al Quran dan Hadis, maka saya dapat katakan kitab ini kitab bumi.

Iklan negatif? Laporkan!
112 queries in 1,900 seconds.