Topic
Home / Narasi Islam / Sosial / Solusi Menghadapi Degradasi Moral Versi “Serat Kalatidha”

Solusi Menghadapi Degradasi Moral Versi “Serat Kalatidha”

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – “Dan janganlah kamu mendekati zina, zina itu sungguh perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk.” (Al Israa’: 32)

Penggalan bait Serat Kolotidho:

amenangi jaman édan,
éwuhaya ing pambudi,
mélu ngédan nora tahan,
yén tan mélu anglakoni,
boya keduman mélik,
kaliren wekasanipun.
Ndilalah kersaning Gusti,
begja-begjaning kang lali,
luwih begja kang éling lan waspada.
 
Maknanya jika kita transliterasi ke dalam Bahasa Indonesia

“”Mengalami zaman serba gila, sulit rumit dalam bertindak, ikut gila tak sampai hati, jika tak ikut larut tak bakal dapat rezeki, kelaparanlah akhirnya, namun sudah takdir Allah, semujur-mujurnya yang lupa, lebih bahagia bagi yang ingat (pada Tuhan) dan tetap waspada””

Dewasa ini, moral generasi muda seakan-akan mengalami proses antiklimaksnya, menurun, menurun, dan menurun. Yap, banyak sekali fakta-fakta yang mendukung statement di atas, salah satunya adalah “51 dari 100 remaja perempuan tidak lagi perawan. Itulah hasil survey Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) di Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi (Jabotabek).  Rentang usia remaja yang pernah melakukan hubungan seks di luar nikah antara 13-18 tahun. “Berdasar data yang kami himpun dari seratus remaja, 51 di antaranya sudah tak lagi perawan,” ujar Kepala BKKBN, Sugiri Syarief, ketika ditemui dalam peringatan Hari AIDS Sedunia di lapangan parkir IRTI Monas, Minggu (28/11). ”

(kutipan dari http://sultra.bkkbn.go.id) Ada lagi kasus suap menyuap, korupsi merajalela dan masih banyak lagi borok yang menjangkiti bangsa ini.

Fakta di atas hanyalah secuil fakta dibalik kompleksitas bobroknya moral anak bangsa saat ini. Seakan-akan setiap waktu, setiap tempat pasti ada saja hal yang membuat miris. Kita sebagai pihak yang alhamdulillah boleh dikatakan belum “terkontaminasi” pasti akan mengalami dilema, menurut serat kalatidha di atas juga tersirat dilematisasi yang dihadapi manusia saat ini, di saat kehidupan yang teratur itu seakan-akan sudah jauh dari kenyataan. Semua serba bobrok, semua serba salah, dan semua serba membingungkan. “Melu edan ora tahan” (ikut gila tidak tahan, karena hati nurani pasti tetap mengajak kearah kebaikan). Sedangkan untuk opsi yang kedua adalah “yén tan mélu anglakoni, boya keduman mélik,” (jika tidak ikut gila maka seakan-akan mereka tidak akan mendapat jatah rezeki dan sebagainya). Seakan-akan manusia dihadapkan pada kondisi yang serba salah, ikut salah, tidak ikut juga tetap salah. Haha, memang hidup ini selalu dihadapkan pada beberapa opsional, seolah-olah kita mengerjakan ujian, ada soal pilihan ganda, di sana kita tentu perlu berpikir dua kali bahkan seribu kali untuk menentukan jawaban yang paling benar di antara beberapa alternatif yang disajikan. Hal ini juga sama dengan kehidupan kita, kita selalu dihadapkan dengan berbagai pilihan, seolah olah semuanya baik. Akan tetapi dalam benak kita tentu jika kita berfikir dan merasa lebih dalam tentu akan memunculkan sebuah opsi yang paling benar.

Selain itu dalam serat kalatidha juga disebutkan sebuah solusi yang tentu solutif untuk mengatasi kebingungan kita dan dilema kita untuk terus progresif maju menghadapi kehidupan yang semakin lama semakin membingungkan. Dalam serat kalatidha disebutkan “begja-begjaning kang lali, luwih begja kang éling lan waspada” yang intinya ada sebuah formula sederhana agar kita bisa menjadi orang yang beruntung dan sukses menghadapi rintangan dan dilema kehidupan yang ada, yaitu dengan selalu ingat dan waspada, ingat kepada sang Pencipta, sang Pengatur segalanya, Rabbul `Alamien. Karena dengan ingat kepada-Nya lah kita akan terus menerus beribadah dan berusaha untuk selalu menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi setiap larangan-Nya. Kemudian tentu kita juga harus tetap waspada, dalam kehidupan ini banyak sekali godaan yang akan menggoda dan menjerumuskan kita, tetapi jikalau kita selalu waspada maka semua godaan itu atas izin Allah akan mudah kita tangkis. Maka marilah kita selalu berpegang teguh pada 2 kunci ini, yaitu Ingat dan Waspada, untuk menatap dan mengarungi dilema kehidupan dan degradasi moral yang semakin lama semakin seru ini, Rawe-rawe rantas, malang-malang putung.

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Phisca Aditya Rosyady
Ketua Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah Korea Selatan Periode 2017-2018. Ketua Indonesian Muslim Student Society in Korea Periode 2016-2017. Lulusan master di Computer Science and Engineering Seoul National University, pernah menjadi Researcher Assistant di Sungkyunkwan University, Korea. Suka traveling, menulis, coding, dan blogging. Memiliki semboyan, beraksilah niscaya Allah akan mereaksikan ikhtiarmu!

Lihat Juga

Zakat Sebagai Solusi Masa Depan BPJS Kesehatan

Figure
Organization