Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Aku Akan Mencintaimu Jika Sesuai Sunnah

Aku Akan Mencintaimu Jika Sesuai Sunnah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Ilustrasi (kawanimut)
Ilustrasi (kawanimut)

dakwatuna.com – CINTA, merupakan kata misterius yang tidak pernah selesai pembahasannya, mulai dari tingkat anak-anak sampai nenek-nenek pasti tahu terhadap makhluk lima huruf ini. Ada sebagian orang yang berpendapat CINTA itu anugerah, ada juga sebagian yang berpendapat cinta itu musibah dan masih banyak VERSI lain yang berpendapat soal cinta, tapi ahhhh ini tidak terlalu penting. Yang terpenting dalam pembahasan kita kali ini, adakah cinta itu yang sesuai dengan tuntunan RASUL…?

Jika kita mau meneliti kembali terhadap fenomena dewasa ini dengan apa yang telah di alami oleh kaum remaja mereka begitu berantosias dalam mempraktekkan cinta. Mereka mengartikan cinta hanya dengan sekelumit cara yang diperkenalkan oleh hawa nafsu, yaitu sebuah cinta yang diperkenalkan melalui ke elokan bentuk tubuh, ataupun cinta yang diperkenalkan melalui gemilangnya harta, dan begitu pun cinta yang diperkenalkan lewat cemerlangnya tahta. Persepsi-persepsi singkat ini yang kemudian mereka praktekkan dalam perilaku nyata, ternyata bukan sebuah cara yang baik dalam menuai hakikat cinta yang sebenarnya. Perhatikan saja, dengan mudah mereka menganggap ini cinta, dikit dikit cinta akibatnya bisa tidak karuan, sudah berapa ratus bahkan ribuan anak yang hamil di bawah umur, itupun yang ketahuan. Lain lagi yang Aborsi, bunuh diri, minggat dan semacamnya. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang saling tikam dengan menggunakan ALASAN cinta atau persisnya CINTA SEGITIGA versi mereka.

Kemudian jika demikian adanya, apakah itu sah jika disebut cinta?

Ada sebuah istilah singkat yang cukup menarik, “Jika cinta bawa aku ke surga, bukan ke neraka”. Ya, CINTA yang bernilai ibadah adalah cinta yang sesungguhnya yaitu sebuah cinta yang mengantarkan kita ke surga.

“Cinta itu bukan sembarang sentuh, sembarang cium, sembarang peluk, sembarang nangis, sembarang hadiah, sembarang ngambek, sembarang lebay. cinta itu hanya adalah ketika halal “kau manja, kemudian kucubit hidungmu” atau “ketika KAU MENANGIS lalu kemudian kuhapus air matamu”, atau ketika “kau lagi sedih, dan aku memelukmu” yang semua itu mengantarkan kita ke surga.. Karena semuanya akan berarti ketika bernilai IBADAH”.

Rasulullah SAW bersabda “Tidak dikatakan sempurna iman seseorang sampai dia mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri”. (HR. Muslim)

CINTA versi nabi begitu indah, cinta itu tidak dibatasi oleh jenis apapun, cinta yang tidak pernah dilandasi oleh alasan apapun. Cinta yang murni dan hanya disadari oleh rasa persaudaraan, bukan karena SIAPA dia ATAU karena APA. Cinta tersusun atas panduan murni dari perkataan Nabi al Mu’minu lil mu’min kal bunyan yasyuddu ba’duhum ba’da.

Ketika sebagian orang menganggapnya cinta itu adalah kesenangan, sang Nabi menyampaikan CINTA ITU kebahagiaan yang hanya bisa dicapai dengan perjuangan dan usaha yang keras, begitu pun ketika sebagian orang menganggap cinta itu adalah PERMAINAN Nabi pun berpesan CINTA itu amanah, yang hanya dipelihara oleh orang yang beriman dan patuh pada Tuhannya, dia bercinta berdasarkan syariah, dia bercinta dengan santun, dia bermesraan dengan sopan.

Ketika sebagian orang berpelukan, bersentuhan, bermesraan dengan ALASAN cinta, melelang tubuh sedemikian murahnya. Bermesraan tidak hanya ditempat yang sepi, Nabi memberi isyarat “Itu tidak boleh, sampai dirimu menjadi halal baginya”. Jika belum halal, itu tidak SAH apabila disebut cinta, karena jika cinta buahnya adalah surga.

Cinta yang benar akan mendatangkan kebahagiaan dan cinta yang palsu buahnya adalah kepuasan. Dan kebahagiaan itu tidak akan pernah ditemukan melalui cara berpacaran.

Akhi-ukhti… fenomena cinta yang banyak ditafsirkan dengan hakikat yang salah, maka akan melahirkan praktek yang salah. Cinta yang di ukir karena SIAPA dan karena APA adalah ibarat tumpukan jerami di musim panas, dia akan menjadi kering dan mudah terombang-ambing, sementara jika musim hujan tiba jerami itu akan terlihat busuk dan menyebar bau. Apakah seperti itu cinta yang kau ukir…?

Tak semua perbuatanmu berdasarkan cinta, pahamilah cinta agar sekali-kali kamu memiliki alasan dengannya, ingatlah jarak antara Nafsu dan CINTA ibarat dua jemari dalam satu tangan, begitu mudah dia merapat dan bahkan bisa menyatu. Jangan terlalu mudah menjadikan cinta sebagai ALASAN karena sekali lagi, jika buahnya adalah api dia bukan cinta. :)

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 8,83 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Moh Khotibul Umam
Santri Hidayatullah lulusan MA Darul Ulum Banyuanyar Pamekasan.

Lihat Juga

imror-rembang-ds-1-view-1

Tanah 7 X 12, Bisa Tidak Dibuat Rumah 1 Lantai dengan 3 Kamar Tidur?

Organization