Home / Narasi Islam / Sosial / Menakar Kesalahan

Menakar Kesalahan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Dalam suatu pelatihan ketika ada instruksi untuk menuliskan kekurangan dan kelebihan yang peserta miliki, maka bisa ditebak hampir setiap peserta lebih banyak menuliskan kekurangan dari kelebihannya. Dalam kehidupan sehari-hari hal serupa juga mudah kita temukan. Orang cenderung lebih mudah untuk melihat kesalahan atau menyalahkan ketimbang menilai ada sisi baik yang sebenarnya tidak diketahuinya. Ketidakmampuan untuk menakar ini ternyata lama kelamaan akan membuat suatu frame berfikir yang tidak baik, sehingga hampir-hampir menurunkan penilaian pada batas yang seharusnya masih bisa ditoleransi. Beberapa hal berikut mungkin menjadi beberapa faktor yang menyebabkan orang sering salah dalam menakar tingkat kesalahan orang lain.

1. Ketidakmampuan dalam memaklumi kemanusiaan

Manusia adalah makhluk sempurna yang Allah bekali dengan akal dan nafsu. Meskipun demikian adalah suatu keniscayaan bahwa manusia juga akan terjatuh pada perilaku dosa karena ketidakmampuannya dalam mengelola hawa nafsu. Ketidakmampuan seseorang dalam memaklumi kemanusiaan ini, ternyata membuat sebagian orang salah dalam menilai, walaupun bukan suatu pembenaran juga kalau manusia boleh melakukan kesalahan. Kesalahan dalam menilai ini maksudnya adalah, terkadang ada seseorang dipandang sebagai orang yang tidak pernah melakukan kesalahan atau minimal pernah melakukan kesalahan tapi tidak pernah terlihat sehingga ketika suatu saat orang tersebut tergelincir dengan melakukan kesalahan maka akan menjadi suatu kesalahan yang sangat besar yang tidak terampuni dan melupakan kebaikan-kebaikan masa lalunya yang jauh lebih banyak.

2. Pengharapan yang terlalu besar

Faktor kedua ini terjadi ketika tidak ada lagi orang yang dapat kita percayai, untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. Namun pada kondisi tersebut muncul seseorang atau sekelompok orang dengan nuansa baru untuk melakukan suatu perubahan dan perbaikan. Tapi apa yang terjadi ketika orang atau kelompok tersebut belum menunjukkan perubahan yang signifikan seperti yang diharapkan, walaupun pada kenyataannya mereka sudah memulainya dan telah banyak melakukan perbaikan. Kita cenderung akan menilai rendah dan malah menganggap sama dengan kelompok terdahulunya, terlebih ketika orang ini tergelincir dalam kesalahan yang sebenarnya relatif sedikit jika dibandingkan dengan yang lain.

3. Berprasangka Buruk (Suudzan)

Faktor ini mungkin sudah cukup jelas bagi kita. Ada sebagian dari kita langsung memberikan penilaian langsung pada seseorang tanpa mengetahui latar belakang masalahnya terlebih dahulu, sehingga menutup peluang bagi kita untuk menilai dengan sudut pandang lain. Terkadang masalah yang terjadi pada seseorang ada keterangan lain yang kita tidak mengetahuinya, tapi penilaian telah kita berikan apalagi kalau penilaian itu adalah penilaian yang merendahkan. Bagi mereka yang sombong mungkin ketika penilaian itu telah terucap, sulit bagi mereka untuk menariknya kembali apabila ada kenyataan lain yang berbeda dengan prasangka awalnya yang terlanjur menyalahkan.

4. Tidak adil dalam menakar

Kita sering memberikan penilaian yang tidak adil pada seseorang. Dalam melakukan penilaian kita menerapkan standar ganda terhadap tingkat suatu kesalahan. Misalnya ketika orang lain yang melakukan kesalahan maka dengan mudahnya kita menilai dengan penilaian yang sangat rendah, namun jarang sekali kita menilainya ketika yang melakukannya adalah kita. Atau kita juga sering menilai rendah orang lain dengan kesalahan yang diperbuatnya tanpa mencoba menanyakannya kepada diri sendiri, bagaimana kalau kita yang melakukannya. Ada lagi ketidakadilan yang sering juga dilakukan dalam penilaian seseorang, misalnya saat kita sudah memiliki frame berfikir yang buruk terhadap orang lain maka apapun yang orang lain lakukan akan selalu ada sentimen negatif yang hadir dalam diri kita. Misalnya, ada sekelompok orang yang tidak sependapat dengan cara berfikir dan cenderung untuk bertentangan, maka akan muncul dalam benak kalau orang ini selalu bertentangan dengan kita dan pada akhirnya apapun yang datang dari orang tersebut membuat kita enggan untuk menerimanya, padahal bisa jadi ada kebaikan-kebaikan di dalamnya.

5. Salah dalam memaknai sebuah pernyataan

Kita mungkin pernah melihat, mendengar, ataupun membaca tulisan atau jargon suatu kelompok. Tanpa berfikir panjang langsung menilai mereka seperti apa yang mereka sebutkan, walaupun ini tidak salah. Yang jadi masalah adalah ketika ada sekelompok orang yang memiliki jargon atau moto misalnya cinta dan bersahabat, dalam benak kita mereka adalah orang yang penuh cinta dan persahabatan sehingga ketika ada beberapa anggota tersebut yang belum memiliki semangat yang sesuai dengan jargonnya maka muncul dalam penilaian kita yang merendahkan dan menyalahkan kelompok tersebut, padahal bukan kelompoknya yang bermasalah tapi orangnya. Sebenarnya jargon itu bukanlah menggambarkan orang atau kelompok secara keseluruhan sesuai dengan jargonnya karena bisa jadi ada beberapa orang yang belum menjiwainya. Minimal bagi pemahaman kita, jargon ini adalah sebuah bentuk semangat bagi mereka menuju ke arah seperti yang mereka tuliskan atau mereka nyatakan.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Alumni fisika universitas andalas. saat ini bekerja di bidang metrologi dan aktif dalam berbagai kegiatan kepemudaan

Lihat Juga

pancasila

Reaktualisasi Pengamalan Sila Pertama Pancasila dalam Kehidupan Sosial