12:34 - Jumat, 31 Oktober 2014

Seringkali

Rubrik: Essay | Oleh: Risky Sulistiarini Idris - 17/01/13 | 15:30 | 04 Rabbi al-Awwal 1434 H

Ilustrasi. (inet)

Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com - “Seringkali orang-orang menabrakkan antara dua hal rencana Allah, yaitu Umur dan Jodoh” (Bandung, 02 Juni 2012)

Begitulah, tulisan itu saya tuliskan pada update status twitter yang saya miliki. Hal ini saya tuliskan saat mendengar keluh seorang kakak yang berumur 30 tahun yang saat itu terdengar sangat lirih.

Saya kemudian kembali teringat akan percakapan dengan seorang sahabat terkasih (semoga kita selalu dalam langkah dakwah ini ukhti….) bahwa terlalu banyak orang memikirkan 2 dari 3 rahasia terbesar Allah yaitu Rezeki dan Jodoh, lalu Umur?!?!! Naudzubillahiminzalik. Begitulah kemudian yang membuat kami menyerahkan segala keputusan akan pasangan hidup kepadaNya. Bukankah keputusan terbaikNya adalah takdir terindah kita?!??

Tapi ternyata, tidak semua orang dapat berpikiran seperti ini karena tak jarang kegelisahan juga melingkupi saya. Saya yang dengan segala kepahaman yang coba saya cari dan kesabaran yang coba saya jalankan.

Banyak hal yang ternyata dapat membuat hati ini pun menjadi gundah. Desakan keluarga, pertanyaan orang-orang dekat, status teman-teman seumuran yang sudah mulai menikah bahkan telah memiliki anak. Tapi, pernahkah kita berfikir bahwa kesendirian hati saat menghadapi masalah yang sebenarnya dapat kita bagi kepada seorang dekat menjadi hal yang paling membuat gundah hati dan menanyakan kapan waktu itu tiba (Ah, mungkin ini perasaan saya pribadi saja…)

Menikah, merupakan satu dari banyak rahasia yang hanya Allah-lah yang mengetahuinya. Siapa orangnya, kapan waktunya, bagaimananya proses didekatkannya dan bagaimana kemudian perjalanannya benar-benar menjadi segala rahasianya yang sebagai makhlukNya.

Tentang siapa orangnya, mari kita review kembali film fenomenal yang merupakan buah karya seorang yang tertarbiyah yang dengan ke’beranian’nya memilih jalur syiar yang belum biasa kita tempuh, yang dengan buah karya indahnya tersusun suatu gambaran betapa seorang Khoirul azzam dalam masa pencariannya akan calon istrinya dan calon ibu untuk anak-anaknya mengalami beberapa kali kegagalan dan akhirnya bertemu dengan jodohnya yang merupakan mantan istri dari sahabatnya sendiri. Dan seorang Anna Altafunnisa mendapatkan jodoh seorang pria yang merupakan teman kuliah yang memang pernah ia kagumi. Dan masih banyak lagi gambaran akan pasangan lain yang jika diuraikan mereka hanya akan berkata “saya juga terkejut kalau dia yang menjadi suami saya…. :)”

Tentang kapan waktunya, sungguh hanya Allah yang Maha mengetahui akan waktu itu. Harinya, bulannya, tahunya hingga detik diucapkannya Mitsaqan Galizan yang maha berat itu. Saat di mana seorang pria mengambil alih segala yang berhubungan dengan perwalian seorang wanita dan saat di mana seorang wanita menyerahkan diri dan segala kehidupannya untuk menjalankan suatu babak baru dalam mencari keridhaan suami. Adalah seorang sahabat saya yang sudah merencanakan pernikahannya sejak beberapa tahun yang lalu, namun karena suatu hal, pernikahan itu batal dilaksanakan dan akhirnya hingga 2 tahun berselang sahabat saya pun belum juga menikah. Ada juga seorang sahabat karib yang dalam suatu bulan pernikahan yang digadang-gadang akan dilaksanakan seusai dia menyelesaikan pendidikannya malah dilaksanakan pada saat tahun ke-3 pendidikan sarjananya. Dan yang lebih menggembirakan adalah saudara seperjuangan yang dengan segala keluarbiasaannya menjaga diri, dikhitbah oleh seorang pria shalih yang merupakan pelaku dakwah di kampus tetangga yang proses ta’aruf hingga persiapan pernikahan hanya berlangsung 2 pekan saja :). Lalu, masihkah kita berani merancang waktu itu tanpa menyerahkan sepenuhnya kepada Sang pemilik dari segala rencana kita ;)

Tentang bagaimana prosesnya, Sungguh…semua yang kita jemput dengan ridhaNya akan menghasilkan apa-apa yang kemudian akan mengundang ridhaNya. Hal ini merupakan suatu yang sangat sensitive untuk dibahas walau sudah merupakan rahasia umum dan semua kita kembalikan kepada masing-masing individu untuk memilih jalan atau prosesnya sambil terus diingatkan dan berikan teladan bagaimana proses yang maha indah itu akan menghasilkan pernikahan yang indah pula. Ada seorang teman kampus semasa kuliah S1 dulu, betapa terkejutnya orang-orang saat dia yang hanif itu mengantarkan undangan pernikahan tanpa ada yang terlihat dekat dengannya dalam kurun waktu tertentu. Banyak yang ingin tahu bagaimana dan siapa calon suami hingga berkembang isu yang tidak enak bahwa calon suaminya merupakan orang yang telah lama menjalin hubungan dengannya (semoga Allah selalu menjaga pernikahanmu mbak…) yang setelah dijelaskan ternyata calonnya adalah orang yang dijodohkan oleh kakaknya yang merupakan wali sah-nya yang berinisiatif mencarikan calon suami sebagai kewajibannya sebagai wali untuk adiknya. Sehingga kemudian, di paragraph ini saya hanya bisa menuturkan apa yang pernah di tuturkan oleh seorang ustadz di suatu lajnah Munakahat bahwa jodohmu akan tetap dia, bagaimanapun cara kau menjemputnya…jadi, jika menjemputnya dengan keridhaan Allah, bukankah semuanya menjadi lebih indah?!?! (Jazakallah ustadz :))

Dan terkait bagaimana perjalanannya kemudian, marilah kita melihat kisah tentang para ummu mukmin, wanita-wanita istimewa yang membersamai perjalanan hidup Rasulullah saw, salah satunya adalah Aisyah binti Abu bakar yang merupakan istri yang paling dicintai Rasulullah. Yang dengan kecerdasannya beliau mampu menjadi penghafal segala perilaku sehari-hari dan nasihat Rasulullah terhadap para sahabat dan sahabiyah dan menjadi pendamping Rasulullah dalam setiap kegiatan dakwah hingga perangnya. Yang dengan sikap manjanya, Rasulullah menjadi seorang kekasih, suami sekaligus ayah yang membuat rumahtangga mereka bahagia walau dengan pembagian waktu sekalipun, dan dengan umur yang dimilikinya pun ia menjadi istri yang menghempaskan nampan di hadapan tamu karena kecemburuannya. Yah, begitulah…hingga kemudian, walaupun berulang kali dikatakan yang paling dicintai hingga mengundang ummul mukmin lain meminta Fatimah menanyakan kenapa Rasulullah begitu mencintainya namun Rasulullah pun tetap saja menikah lagi.

Yah, mungkin terlalu jauh jika saya meng-analogikan ‘perjalan kemudian’ dengan rumah tangga Rasulullah SAW…namun memang begitulah…betapa ‘perjalanan kemudian’ itu akan menjadi sebaik-baik perjalanan saat kita meneladani apa yang telah dijalankan oleh rumahtangga Rasulullah (terlepas dari pembahasan poligami yang mungkin saya sendiri tak akan mampu)

Duhai saudaraku, dengan kisah di atas, masihkah kita ingin menabrakkan antar 2 dari 3 rahasia Allah terhadap kita?!?

Dan duhai hatiku…masihkah kau resah saat pelipur akan perjalanan hidupmu juga telah dan sedang dijalani oleh yang lainnya, Menanti.

Mungkin itu.

Spesial untuk kakak yang seperti sudah lama dikenal dan siapa pun yang sedang menanti :)

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Topik: ,

Keyword: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (15 orang menilai, rata-rata: 9,53 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
101 queries in 2,390 seconds.