17:06 - Jumat, 19 Desember 2014

Kupinang Dakwah Jadi Pendampingku

Rubrik: Cerpen | Oleh: El-Khaery - 15/01/13 | 10:30 | 02 Rabbi al-Awwal 1434 H

Ilustrasi (wordpress.com/bintangumilang)

Ilustrasi (wordpress.com/bintangumilang)

dakwatuna.com – Senja itu, kala langit Kota Jakarta yang memancarkan sinar keemasan dengan cahaya matahari yang sayup-sayup tenggelam, melukiskan begitu indah dan agungnya kekuasaan Allah berupa alam semesta ini. Meskipun terik yang begitu menyengat kulit di kala siang, ditambah warna langit yang kehilangan birunya sehingga tampak seolah-olah diselimuti kafan, semua itu terasa terobati saat Kita dapat sejenak mentadaburi ayat kauniyah-Nya yang wujud di alam senja.

Namun kesempatan tersebut tidak dapat diperoleh seluruh warga metropolitan karena pada umumnya senja adalah waktu-waktu sibuk. Bagaimana tidak? Secara bersamaan lebih dari separo warga Jakarta pulang dari tempat kerjanya. Ada pula yang baru pulang dari kesibukan shopping di berbagai tempat perbelanjaan ataupun baru selesai refreshing. Hampir seluruh warga tersebut menggunakan kendaraan pribadi, baik roda dua maupun roda empat yang notabene hanya dikendarai satu orang. Bayangkan saja jika terdapat satu juta orang masing-masing membawa satu juta kendaraan yang seluruhnya turun ke jalanan. Dapat dibayangkan, jalanan pun akan dibanjiri kendaraan meskipun telah dilakukan beberapa kali pelebaran jalan. Belum lagi suara klakson yang bersahutan yang memekakkan telinga dan emisi yang keluar dari tiap kendaraan yang menyesakkan dada, menjadikan lengkap hiruk pikuk Jakarta di kala senja. Oleh karena itu, merupakan kesempatan langka jika kita mampu dengan mata telanjang menikmati langit Jakarta di sore hari.

Dari balik jendela kontrakan yang berjarak 1 kilometer dari jalan raya, tepatnya di jendela kamar yang terletak di lantai dua yang menghadap ke arah Barat, Saya menatap tajam ke arah langit. Namun tatapan tersebut adalah tatapan kosong. Meskipun rasa takjub sempat tersirat, namun gejolak hati lebih mendominasi jiwa saat itu. Dan meskipun kedamaian tampak jelas di depan mata, namun masih terdapat rasa gundah yang menggelayuti sukma. Ingin tahu apa yang sedang terjadi padaku?

***

Sebelumnya Saya ingin memperkenalkan diri terlebih dahulu. Sesuai kata pepatah, tak kenal maka ta’aruf (perkenalan). Jangan sampai ada yang mengira bahwa Saya adalah pengangguran ataupun pecandu karena sering nongkrong.

Nama lengkap Saya Muhammad Nur Hasan. Orang tua memanggil Saya dengan sebutan Hasan, demikian pula ketika di kampus. Tetapi, sapaan akrab Saya dari teman-teman sebaya saat kecil adalah Mamat. Saya terlahir di sebuah daerah terpencil di Lembah Tinombala, tepatnya Desa Kayu Agung. Tinombala adalah salah satu wilayah pegunungan di provinsi Sulawesi Tengah yang merupakan TKP dari peristiwa tragis jatuhnya pesawat pada tahun 1960-an yang seluruh penumpang dan awak kapalnya tewas mengenaskan. Wilayah ini mulai dibuka pada awal 1970-an sebagai daerah transmigrasi. Jadi jangan heran kalau Saya adalah keturunan Jawa karena mayoritas penduduk transmigrasi saat itu adalah orang Jawa.

Saya terlahir alami dari kandungan ibu pada 31 Desember 1989 pada pukul 23.50. Tanpa bantuan bidan, Saya dapat keluar ke dunia ini dengan selamat dan sehat. Orang bilang saat lahir dulu Saya putih dan gendut meskipun orang tua Saya berkulit sawo matang, tapi setiap menatap cermin Saya bertanya dalam hati, “Kok berbeda dengan sekarang?” Selain itu, hampir seluruh dunia merayakan hari kelahiran Saya secara tidak sengaja (perayaan Tahun Baru) meskipun Saya sendiri tidak pernah merayakannya.

Puja Kembala (putra Jawa kelahiran Tinombala) adalah akronim yang mungkin pas untuk Saya. Meskipun kelahiran Sulawesi, namun hingga saat ini Saya tidak mengerti bahasa Lauje (salah satu bahasa daerah setempat) ataupun Kaili (bahasa mayoritas di wilayah Sulawesi Tengah). Ironisnya Saya juga pun tidak mampu berucap bahasa Jawa kromo (halus) seperti normalnya orang Jawa meskipun keturunan Jawa tulen.

Wajar, dalam keseharian semasa kecil selalu menggunakan bahasa Jawa ngoko (pasaran) dengan kombinasi bahasa nasional untuk berkomunikasi dengan sebaya maupun orang tua. Saya lebih percaya diri jika menggunakan bahasa Indonesia jika berbicara dengan orang yang lebih tua meskipun terkadang Saya tidak menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan sesuatu dalam bahasa Indonesia. Akibatnya tidak jarang Saya menciptakan mufrodat (kosa kata) baru yang tidak ada di kamus Jawa, Sulawesi maupun bahasa Indonesia. Entah spesies apa Saya ini?

Sebelum masuk sekolah dasar Saya sempat mengikuti TK di Desa Kotaraya, desa yang berbatasan langsung dengan desa asalku. Untuk sekolah dasar Saya jalani di SDN 1 Kayu Agung. Sedangkan jenjang berikutnya Saya melanjutkan di SMPN 1 Kotaraya. Berikutnya, Saya berhijrah ke ibukota provinsi untuk masuk ke sekolah favorit yaitu MAN 2 (Model) Palu.

Setelah lulus SMA, Allah menghendaki Saya untuk melanjutkan di salah satu sekolah kedinasan program D-IV di Kota Metropolitan Jakarta, yaitu Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS). Saya merupakan angkatan L yang berarti sekolah ini telah meluluskan sebanyak lima puluh angkatan. Banyak yang mengatakan ini adalah angkatan emas, tapi menurut Saya bukanlah label yang menunjukkan kebanggaan, tapi kualitas diri dan keimanan. Namun, Saya tetap merasa bangga dapat bergabung dalam keluarga besar kampus ini.

Sepertinya sudah cukup banyak ta’aruf-nya, kalau terlalu banyak Saya khawatir akan panjang antrian orang yang ingin berkenalan dengan Saya. Jiah, belum-belum sudah sum’ah (memperdengarkan kebaikan diri sendiri kepada orang lain dengan niat ingin dipuji). Astaghfirullah, Saya sungguh tidak bermaksud demikian, Ya Allah.

***

Back to topic!

Ternyata indahnya senja tak seindah hatiku saat itu. Sembari menatap langit, Saya berfikir dalam hati bahwa sekarang telah berkepala dua, maksudnya usianya di atas 20 tahun atau nyaris 23 tahun. Selama 3 tahun yang lalu, atau awal memasuki perkuliahan di kampus, sesungguhnya Saya mulai menahan rasa. Sekian waktu berlalu ternyata rasa itu bukan mulai hilang namun semakin menjadi. Iya, Saya telah terkena salah satu panah Syaitan yang masuk ke dalam satu bagian terlemah dalam jiwaku. Saya telah jatuh cinta.

Sedikit Saya bernostalgia masa lalu. Pertama, Saya akan memulainya dari kisah masa SMP.

***

Sebenarnya, saat di bangku SMP Saya pun pernah menyimpan cinta dalam hati (cidaha) kepada salah seorang kawan yang dari sekolah dasar selalu bersama. Namun apa yang terjadi? Karena tidak ada kesiapan diri untuk menjalin hubungan ternyata Si Dia dilamar oleh orang lain pasca SMP. Tentu tidak ada yang dapat Saya lakukan saat itu. Wajah culun layaknya bayi yang baru mulai berjalan sudah mulai berani bermain api. Saya meyakinkan diri, “Hah, ini hanya cinta monyet. Ga lama lagi juga bakal hilang bayangannya.”

***

Selanjutnya apa yang terjadi di masa SMA?

Ternyata di jenjang SMA juga demikian, akibat terlalu sering bersama, benih-benih merah jambu mulai tumbuh. Kuncup yang semula menutup kini kian merekah. Warnanya yang cerah sungguh sangat menggoda kumbang untuk mendekat. Begitu memang pandangan lelaki yang normal, mudah tergoda lawan jenis. Inilah kelemahan pria. Oleh karena itu, tidak salah jika Rasulullah pernah bersabda dalam riwayat Muslim bahwa fitnah terbesar bagi Bani Adam adalah wanita.

Berdasarkan pengalaman sebelumnya, Saya pun segera menjalin hubungan dengan karib tersebut. Tetapi, lagi-lagi Saya tidak berani untuk melegalkan hubungan tersebut. Dulu Saya belum menyadari bahwa menjalin hubungan lawan jenis tanpa ikatan sah adalah berbahaya. Dan Islam sangat menghindari berbagai hal yang dapat membahayakan umatnya.

Seperti kasus saat di SMP, seolah-olah sejarah terulang kembali. Selepas pengumuman kelulusan SMA, Saya pun diterima melanjutkan kuliah di Jakarta. Hubungan tersebut masih berlanjut melalui long distance relationship (LDR). Namun, tidak begitu lama, hubungan tersebut mulai terganggu. Sesuai watak wanita yang selalu menginginkan kepastian (maksudnya kepastian untuk segera menikah), apalagi Saya dalam kondisi terikat kontrak dengan kampus untuk ‘berpuasa’ hingga lulus, hal tersebut semakin merenggangkan hubungan tersebut. Hingga puncaknya, Allah menghendaki hubungan tersebut berakhir melalui khitbah seseorang kepada dirinya. Luar biasa guncangan hati pada saat itu. Guncangan tersebut hanya dapat dirasakan bagi yang pernah mengalaminya. Tapi Saya berharap tidak ada pembaca yang penasaran bagaimana rasanya. Jangan sampai mencoba memulai merajut hubungan kecuali melalui ikatan yang sah.

***

Berlanjut ke kisah di bangku kuliah.

Semacam trauma masa lalu yang masih meninggalkan sisa-sisa yang tertanam dengan kuat dalam benak ini. Pengalaman di SMA memberikan pelajaran bahwa sekolah agama bukan jaminan untuk dapat selamat dari berbagai fitnah. Segalanya berawal dari hidayah, yang tidak dapat diperoleh hanya dengan kebetulan tetapi berdasarkan kesadaran dan kesungguhan. Dapat diberikan kepada siapa pun, kapanpun serta di manapun Khaliq menginginkannya. Selain itu, banyaknya hafalan dan pengetahuan seseorang terhadap ilmu agama (karena Saya berasal dari sekolah agama) juga bukanlah jaminan seseorang terbebas dari jerat Syaitan, karena bisa jadi segala materi yang dihafal dan dipelajari itu hanya sebatas konsumsi akal, tidak sampai masuk ke dalam hati.

Setelah peristiwa tersebut berakhir, Saya mulai sadar dan berusaha menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Salah satu penyebab seseorang disibukkan dengan pikiran seperti itu adalah karena kurangnya kesibukan sehingga waktu luang yang ada selalu digunakan untuk memikirkan Si Dia yang belum tentu orang yang dipikirkan tersebut memikirkan hal yang sama. Sungguh mubazir (percuma) waktu yang dihabiskan untuk perkara seperti itu.

Tahun kedua di kampus, Saya jalani dengan berusaha untuk hidup normal. Namun layaknya paku yang menancap dalam sebuah papan kayu, suatu kemaksiatan yang telah dilakukan itu selalu meninggalkan bekas yang sangat sulit untuk dihilangkan meskipun paku tersebut telah berhasil dicabut. Meskipun telah lepas dari jerat hubungan yang tidak dihalalkan, namun bekas-bekas kemaksiatan tersebut masih meninggalkan sisa yang tidak dapat hilang.

Perasaan tertarik itu mulai muncul kembali kepada seorang wanita sekelas. Memang benar rasa cinta itu adalah anugerah dari Maha Kuasa yang tidak dapat diciptakan dan dihilangkan dengan kemampuan pribadi, melainkan segalanya atas Kehendak Allah. Tanpa sengaja pun perasaan itu dapat muncul melalui pandangan sekilas. Sehingga benar kata pepatah Jawa, “witing trisno jalaran soko kulino”. Kurang lebih maknanya adalah rasa cinta itu dapat tumbuh dari kebiasaan bersua. Namun, sesungguhnya Kita mampu untuk mengendalikan rasa tersebut dan mengarahkannya terhadap perkara yang di ridhai, dengan seizin-Nya.

Wanita tersebut memiliki keistimewaan karena kemampuannya untuk menjaga kehormatannya. Dan Saya yakin, sebenarnya banyak pria yang cidaha dengannya. Namun, karena kepandaiannya tersebut, Allah menjaganya dari berbagai hal buruk melalui keseganan para lelaki untuk menggoda wanita tersebut. Meskipun lelaki tersebut dikenal playboy cap jengkol.

Memang tidak dapat sepenuhnya kesalahan itu ditimpakan kepada lelaki akibat tabiatnya yang menyukai hawa. Tindak tanduk hawa pun selayaknya perlu dijaga. Perintah untuk berhijab adalah solusi untuk menjaga kehormatan seorang hawa, bukan dianggap hanya warisan bangsa Arab semata.

Saya tidak ingin masuk ketiga kalinya dalam lubang yang sama. Saya berusaha sekuat diri untuk menjaga hati dan lisan sehingga tidak terucap hal-hal yang seharusnya tidak perlu diucapkan. Sekaligus sebagai wujud penghormatan kepada muslimah yang menjaga hijabnya.

Saya semakin aktif di berbagai kegiatan keagamaan, sosial dan dakwah di kampus tercinta ini. Bahkan tidak jarang Saya diberi kepercayaan untuk menjadi ketua panitia pelaksana dari berbagai kegiatan penting di kampus. Sehingga Saya mulai merasa bahwa seperti ini sesungguhnya hal yang seharusnya dilakukan oleh pemuda. Bukan diam termenung di dalam kamar, bingung ingin berbuat apa. Akibatnya hal sia-sia bahkan kemaksiatan yang dilakukan.

Melalui dakwah Saya menyadari hal-hal yang diperintahkan dan dilarang. Melalui dakwah Saya diperkenalkan dengan berbagai saudara muslim di segala penjuru dunia. Melalui dakwah cita-cita kebangkitan Islam itu dapat terwujud. Jika kita mengerti dan sadar karena hasil dakwah dari orang lain, mengapa Kita sendiri enggan untuk berdakwah kepada orang lain. Padahal sesungguhnya Kita sudah menerima dan menguasai berbagai macam pengetahuan yang sebelumnya belum pernah Kita ketahui.

Cukuplah satu ayat yang Kita kuasai, melahirkan konsekuensi untuk segera disampaikan kepada orang lain. Perhatikan hadits Nabi “balighu ‘anni walaw ayat” yang bermakna Rasul memerintahkan Kita untuk segera menyampaikan apa yang Kita kuasai dalam perkara agama yang bersumber dari Rasul, meskipun hanya satu ayat. Selain itu, Allah memberi balasan bagi orang yang menyampaikan kebaikan dengan imbalan yang lebih baik dari unta merah. Dalam riwayat yang lain lebih baik dari dunia dan seisinya.

***

Kisah mellow selanjutnya…

Perasaan terpendam tersebut kini telah berusia 3 tahun. Saya berpikir inilah saatnya Saya menyatakan diri untuk meminangnya.

“Saya telah menyelesaikan studi di STIS. Tunggu apalagi?” batinku.

Dengan segenap bekal ilmu pengetahuan dari berbagai kajian dan kitab fiqih akhirnya Saya memutuskan untuk segera meminang wanita tersebut. Orangtua pun sudah diberitahu mengenai niat tersebut. Dan setelah sekian lama berdiskusi akhirnya mereka menyetujui keputusan yang Saya pilih. Dengan riang gembira Saya cium kening kedua orangtua kandungku tersebut.

Namun, tanpa disadari Saya membuat satu kesalahan. Saya belum memberitahu kepada wanita tersebut mengenai niatku. Niat hati ingin membuat kejutan, justru Saya terkejut terlebih dahulu ketika segala persiapan sudah tersedia. Meskipun hanya sisa berangkat ke rumah orang tua Si Wanita, setelah mendengar kabar yang mengejutkan bahwa ternyata Dia dalam pinangan orang lain membuatku dengan segera memutuskan untuk membatalkan keberangkatan ke rumah orang tua wanita tersebut. Padahal tiket pesawat dari Sulawesi ke Sumatera Selatan (asal wanita tersebut) telah berada di tangan.

Hal ini membuat heboh keluarga besar di Sulawesi. Benar-benar pengalaman yang sangat menyedihkan. Ternyata 2 kali pengalaman di SMP dan SMA tidak cukup buat Saya, sehingga harus terulang kembali pasca kuliah di mana Saya telah mempersiapkan segalanya.

Hal yang menyesakkan lainnya adalah ternyata yang meminang wanita tersebut tidak lain teman akrab sendiri yang selama 2 tahun selalu sekelas. Selain itu, dia juga aktif di kegiatan-kegiatan dakwah. “Mungkin dia lebih pantas untuk wanita tersebut” batinku.

Hal inilah yang membuat Saya termenung pada senja ini. Sehingga tiba-tiba terlintas di benakku bahwa sepertinya Allah hendak mengujiku. Dia menginginkan agar Saya mampu menarik benang merah dari skenario kehidupan tersebut. Hingga Saya berpikir,

“Saya selama ini sesungguhnya belum ikhlas dalam berbuat kebaikan. Ketika Saya semangat untuk melakukan kegiatan sosial, itu akibat Si Dia terlibat dalam kegiatan yang sama. Di saat mengikuti rapat gabungan, Saya merasa bergairah karena ingin dilihat olehnya. Kegiatan-kegiatan dakwah pun tidak sepenuhnya ikhlas karena Allah Ta’ala. Astaghfirullah, apa yang telah Saya lakukan? Bagaimana nasib amalan Saya selama ini? Ya Allah, ampunilah dosa Hamba-Mu yang bodoh ini”

Tanpa terasa air mata pun mulai bercucuran membasahi wajah. Butiran air mata ini menjadikan sendu senja hari ini.

Tak lama kemudian, seruan Azan Maghrib pun berkumandang.

Allahu Akbar, Allahu Akbar

Entah kenapa, Azan kali ini serasa berbeda sebagaimana azan yang lain. Waktu istimewa ini di mana Allah mengangkat ke langit segala amalan manusia selama sehari, juga setelah azan berkumandang merupakan salah satu waktu istijabah diterimanya doa seorang Hamba, Saya pun tidak ingin melewatkan kesempatan ini. Sebelum beranjak ke masjid Saya pun berdoa,

“Ya Allah, Ya Rahman. Ternyata Engkau menginginkan hamba-Mu yang hina ini untuk memutuskan bahwa Saya harus bersegera kembali ke jalan kebaikan. Saya harus kembali ke jalan dakwah ini dengan keikhlasan dan sungguh-sungguh. Saksikanlah Ya Allah, Yang Maha Mendengar. Kupinang dakwah menjadi pendampingku hingga Aku menghadap-Mu. Apapun yang terjadi padaku, jadikanlah segalanya sanggup memperkuat jalanku. Berikanlah kekuatan kepada hamba-Mu yang lemah ini, Ya Qowiy. Aamiin.”

Saya sangat paham dengan yang Saya ucapkan. Saat memutuskan memilih dakwah sebagai kekasih karena dia tak pernah berkhianat. Saat menjadikan dakwah sebagai pendamping, dia akan selalu setia menemani kita di kala sepi, menyemangati kita di kala lemah, mengingatkan Kita di kala lalai, dan selalu menuntun dan mengarahkan Kita di kala bingung dan tersesat. Sangat berbeda dengan tabiat manusia dengan segala kelemahannya. Dia adalah ambisi sekaligus sarana, dia juga yang mampu membukakan segala pintu rahmat dari Allah. Tak ada alasan untuk memilih dakwah kecuali bagi orang yang belum paham.

Langit pun mulai meredup tanda siang akan berganti malam. Layaknya menutup lembaran cerita kelam masa lalu menuju secercah cahaya baru. Semoga keputusan ini menjadi jalan terang bagi kehidupanku yang masih tersisa ini.

***

Demikianlah nasib dakwah, selalu menjadi prioritas terakhir dalam segala hal. Makanan, pakaian, rumah, uang, kendaraan, harta kekayaan, wanita yang cantik, jabatan, serta kekuasaan sering Kita lebih Kita dahulukan dan khawatirkan. Jarang sekali Kita berpikir “Bagaimana keadaan dakwah Islam saat Saya selesai studi di kampus/sekolah nanti? Sudah tepatkah hal yang Saya lakukan selama ini? Apakah Kita sudah berhasil meletakkan pondasi kokoh ataukah Kita telah meninggalkan celah untuk meruntuhkannya?” Ini adalah pertanyaan yang sangat langka muncul di benak Kita.

Justru yang acapkali muncul malah “Dengan siapa Saya akan bersanding selepas lulus nanti? Dapatkah Saya bersama dengan Si Dia? Di mana Saya akan bekerja? Berapa gaji yang akan Saya peroleh? Mungkinkah Saya dapat mencukupi keluarga, orang tua, membeli rumah mewah, mobil, dan hidup kaya?”

Padahal seharusnya Kita menyadari pentingnya berdakwah. Tapi, apakah ini hanya sebatas konsumsi akal dan lisan saja? Ataukah benar-benar masuk ke dalam hati?

Tentang El-Khaery

Mahasiswa kampus kedinasan Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS) Jakarta Timur angkatan 2008 yang berasal dari Sulawesi Tengah. Belum lama ini, mahasiswa yang sering disapa Khoir ini mulai tertarik dunia tulis-menulis… [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Topik:

Keyword: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (3 orang menilai, rata-rata: 10,00 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • Ismi dini

    STIS dekat dengan pom bensin di sebelahnya persis.. sebrangnya ada bengkel2 dan tempat motor2.. benar kah?

Iklan negatif? Laporkan!
76 queries in 3,005 seconds.