Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Di Jalan Dakwah Aku Pacaran

Di Jalan Dakwah Aku Pacaran

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

 

Ilustrasi (kawanimut)
Ilustrasi (kawanimut)

dakwatuna.com – Di Jalan Dakwah Aku Menikah, sebuah karya Ustadz Cahyadi Takariawan yang menjelaskan secara gamblang tentang pernikahan yang “benar-benar” menjadikan Islam dan dakwah sebagai dasarnya. Namun kali ini bukan itu yang hendak saya bahas, sedikit berbeda: “Di Jalan Dakwah Aku Pacaran”.

Witing tresno jalaran soko kulino

Ungkapan pepatah jawa ini yang secara garis besar dapat diartikan “cinta tumbuh dari tingginya intensitas pertemuan” berlaku umum, baik bagi masyarakat umum maupun mereka yang mendapat label “aktivis dakwah”. Semuanya sama karena pada dasarnya adalah fitrah manusia yang saling menyukai antara lawan jenis.

Pertemuan yang begitu intens di setiap rapat, syura, pembahasan teknis, hingga hubungan dua arah via telepon, SMS, chatting, dsb yang pada akhirnya membuat dua orang, pria dan wanita, merasakan kedekatan yang berbeda. Hingga akhirnya chatting, telepon, SMS, diperpanjang durasinya padahal kebutuhan syar’i sudahlah selesai dibahas. Atau, karena memang masih panjang pembahasan maka menyempatkan waktu untuk bertemu, lama sekali, berdua saja. Seolah terlupa ada pihak ketiga yang senantiasa membisikkan was-was di hati manusia serta seolah terlupa bahwa Allah ‘Azza wa Jalla memandang mereka dengan jelas dan sempurna.

“Kami menjaga hati”, ucap mereka.

Bagaimana mungkin hati terjaga sedangkan raganya tidak? Mata itu intens menatap “dia” yang ada di hadapannya, pikiran itu melayang berangan seandainya “dia” senantiasa berada di sampingnya. Maka entah bagaimana segala macam alasan dan pembenaran dibuat untuk melegalkan segalanya.

Bukankah masih jelas tulisan nasihat dari ‘alim kita, (alm) Ust. Rahmat Abdullah:

Di mana kau letakkan dirimu?
Saat kecil, engkau begitu takut gelap, suara dan segala yang asing. Begitu kerap engkau
bergetar dan takut.
Sesudah pengalaman dan ilmu makin bertambah, engkau pun berani tampil di depan
seorang kaisar tanpa rasa gentar. Semua sudah jadi biasa, tanpa rasa.
Telah berapa hari engkau hidup dalam lumpur yang membunuh hatimu sehingga
getarannya tak terasa lagi saat maksiat menggodamu dan engkau menikmatinya?

Ya, lumpur-lumpur dosa yang dilakukan telah membuat hati menjadi beku. Pembenaran yang dicari-cari membuat kebenaran menghindarkan diri, serta maksiat yang dilakukan setiap hari seolah menjadi kebutuhan manusiawi.

Tak ada lagi tembok malu yang menjadi pengangkat kemuliaan, tak ada lagi jiwa yang takut sepenuhnya kepada Illahi Rabbi, serta tak ada lagi pemuda yang kritis dan bergelora karena semangatnya padam termakan kelalaian akhlaqnya. Tak lagi ia berani berkata ini dan itu karena pikirannya kini hanya tentang “si merah jambu”. Tak lagi terlihat dahsyatnya gerak kontribusinya karena jiwa yang alpa menghambat raganya, serta izzah yang biasa terpancar dari matanya redup seketika.

Teringat tulisan Ibnu Qayyim al-Jauzi di dalam buku Miftaahu Daaris-Sa’aadah:

Pada hakikatnya, hati yang selamat adalah hati yang berserah diri kepada Tuhannya, yang menyembah-Nya penuh dengan rasa malu, penuh harap, dan penuh hasrat. Dengan demikian, ia lebur dalam cinta kepada Allah SWT, dan bersih dari segala sesuatu selain Dia. Ia lebur dalam rasa takut kepada-Nya, dan tidak ada rasa takut kepada yang lain. Ia lebur dalam pengharapan kepada-Nya, dan tidak mengharapkan selain Dia. Ia menerima segala perintah-Nya dan perintah Rasul-Nya dengan penuh keimanan dan ketaatan. Ia berserah diri kepada qadha dan qadhar-Nya, sehingga ia tidak berprasangka buruk, menentang, dan marah terhadap segala ketetapan-Nya. Ia berserah diri kepada Tuhannya dengan penuh kepatuhan, kerendahan, kehinaan, dan kehambaannya.

Lalu bagaimana bisa hati itu tetap terjaga jika ia mencintai yang belum layak dicintai, melakukan apa yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya dengan berjuta pembenaran, serta mendahului qadha dan qadar Allah seolah tak percaya akan keputusan terbaik-Nya kelak.

Betapa memang kita jauh dari kualitas mulia, saat pemuda Gaza menjaga kesucian mereka dan juga berjihad di jalan Allah Ta’ala, pemuda muslim di Indonesia, yang mendapat (atau tidak) label “kader dakwah”, masih sibuk dengan urusan hati merah jambu.

Betapa jauh!

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (14 votes, average: 8,71 out of 10)
Loading...Loading...
Muhammad al-Fatih
Lahir di Bogor Tahun 1989. Dan saat ini tinggal di Taiwan Taiwan sebagai mahasiswa Master di NTUST Taiwan.

Lihat Juga

Leila Mourad bersama Syaikh Mahmoud Abul Ouyun. (Islam Story)

Artis Yahudi Masuk Islam Setelah Mendengar Adzan Subuh

  • http://www.facebook.com/aqila.rainasakhi Eka Dewi

    pengalaman pribadi ni pak pres kayanya :P

  • theo

    great article, soal istilah Witing tresno jalaran soko kulino, ini sudah ada lagunya kan :D

    GPS Tracker