08:46 - Sabtu, 01 November 2014
Bahrudin Yuliyanto

Tentang Totalitas Itu!!

Rubrik: Suara Rohis-OSIS | Oleh: Bahrudin Yuliyanto - 07/12/12 | 10:30 | 23 Muharram 1434 H

Ilustrasi (donialsiraj.wordpress.com)

dakwatuna.com – Ikhwah, kalau Antum ga pengen bilang dakwah di sekolah Antum lagi down, ya jangan ngomong doang, terjun dong kalau perlu menenggelamkan diri kembali ditempat ini, tempat yang juga menjadi asbab Antum bisa menjadi lebih baik seperti sekarang!!

Kalimat di atas mungkin terdengar terlalu keras, tapi itu adalah realita. Saya tidak sedang mengatakan bahwa di semua tempat mengalami hal yang serupa, yaitu kemerosotan kualitas maupun kuantitas dakwah level sekolah, bahkan di beberapa tempat geliat dakwah sekolah itu begitu menggelora, namun di beberapa tempat yang lain hal itu menjadi semacam masalah yang kurang direspon sebagai qadhaya dakwah yang harus diselesaikan dengan segera, karena ibarat tumor, kalau tidak segera diangkat, maka akan cepat menjalar ke seluruh tubuh.

Sebenarnya, dakwah sekolah sedang mendapat angin segar dengan 2 hal, yaitu munculnya pemberitaan Rohis di sebuah media nasional untuk mengkounter serangan Rohis  sebagai sarang teroris dengan eksistensi kebaikan yang menolak tuduhan itu dengan elegan, serta isu lemahnya institusi sekolah dengan berbagai kurikulum pendidikannya yang gagal mengatasi kenakalan remaja yang terwujud dengan maraknya kembali tawuran pelajar di mana-mana.

Maka sebagai aktivis dakwah harus melihat peluang besar tersebut dengan sesegera mungkin menawarkan “produk dagangannya” ke berbagai pihak agar momen tadi tidak hilang begitu saja. Hanya saja kadang kita belum mengemas “produk” kita tersebut dengan semenarik mungkin, agar “target pasar” kita mau membeli “produk” yang kita tawarkan tersebut, begitu pula dengan mempersiapkan manajemen yang solid serta sistem yang teratur, agar “produk” kita tersebut terjaga kesinambungannya dan bahkan semakin hari semakin berkualitas.

Kembali ke potongan kalimat di awal, sayangnya di tengah menggeliatnya kembali kebanyakan aktivis dakwah mengelola para pelajar sebagai bagian dari anashir dakwah, masih saja ada yang (lebih) senang menjadi penonton ketimbang turun sebagai pemain, masih saja ada yang (tak) merasa telah menjadi pecundang bukan pemenang.

Ketika rekan2 dakwahnya sedang berusaha membangun kembali bangunan dakwah dengan segenap kemampuan dan doa yang bisa mereka lakukan, para penonton itu hanya menyibukkan diri dengan sorakan dan ejekan yang justru menjadi benalu yang bisa melemahkan saudaranya yang lain.

Ada yang merasa sudah terlalu “tua” untuk terlibat dalam dakwah sekolah, karena merasa sudah memiliki bentangan jarak usia sekarang dengan masa kelulusannya “dulu” walaupun masih berstatus ‘single’. Padahal tidak sedikit aktivis dakwah sekolah yang masih aktif adalah mereka mereka yang sudah memiliki “gelar” Abi dan umi dari sekian anak, yang tidak membuat mereka kehilangan ‘sense of belonging’ dengan dakwah sekolah.

Atau, ada pula yang merasa sudah terlalu sibuk dengan aktivitas duniawinya sehingga merasa pantas untuk keluar dari arena dakwah, padahal di sekitarnya tidak sedikit yang disibukkan dengan berbagai aktivitas duniawi juga aktivitas dakwah, namun masih memiliki porsi yang tidak sedikit untuk berkecimpung dalam dakwah sekolah.

Maka bagi mereka yang merasa seperti itu resapilah kalimat ini: “Memang seperti itulah dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu… Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yang kau cintai…”
Kalimat dari Alm. Ustadz Rahmat Abdullah Allahuyarhamhu, seorang syaikhut tarbiyah yang seakan sebuah isyarat bagi siapapun yang merasa berada dalam lingkaran dakwah untuk beramal secara totalitas tidak setengah-setengah, jangan pernah merasa tua dalam dakwah sekolah, justru bersyukurlah karena kita dimudahkan oleh objek dakwah yang memang dari segi usia masih belia dan jauh lebih muda dari kita, jangan pula merasa tidak mampu lagi berkontribusi dalam dakwah sekolah, karena bentuk kontribusi itu bisa bermacam-macam, tidak melulu harus menghadirkan diri secara visual, namun bisa juga dalam bentuk kontribusi pemikiran, pendanaan, hingga doa yang tak terputus untuk kemajuan dakwah, oleh karenanya kita meminimalisir alasan untuk tidak beramal secara totalitas dalam dakwah, karena setiap individu memiliki peran berbeda, maka jalanilah peran-peran itu dengan sebaik-baiknya, jadilah pemenang di setiap bidang dakwah yang diamanahkan kepada kita. Sehingga semoga dengan izin Allah, ketotalitasan kita dalam dakwah sekolah menjadi salah satu asbab semakin meningkatnya kualitas dan kuantitas aktivis dakwah yang lahir dari rahim dakwah sekolah yang berimplikasi semakin tegaknya Islam di muka bumi ini.
(Introspeksi diri yang masih banyak kekurangan dan Insya Allah terus berusaha totalitas dalam dakwah)
Wallahu a’lam bishshowwab…
Bahrudin Yuliyanto

Tentang Bahrudin Yuliyanto

Nama : Bahrudin Yuliyanto Alamat : Harapan Jaya Bekasi Amanah Organisasi : 1. Ketua Forum Silaturahim Alumni Rohis se Cakung (2007 s/d sekarang) 2. Ketua Dept. Syi'ar Iqro Club Jak-Tim… [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Topik:

Keyword: , , , , , , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (11 orang menilai, rata-rata: 9,82 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
84 queries in 1,750 seconds.