Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Kisah Kasih Sepanjang Galah

Kisah Kasih Sepanjang Galah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Jika kau patuh pada kekasihmu

Lebih patuhlah pada ibumu

– Rhoma Irama –

Ilustrasi (zawaj)

dakwatuna.com Pepatah mengatakan, “Kasih Anak Sepanjang Galah, Kasih Ibu Sepanjang Masa”. Kasih sayang anak kepada orang tua sepanjang galah yang bisa diukur, sedang kasih sayang orang tua tak pernah ada habisnya.

Islam memberikan tuntunan yang jelas tentang berbakti kepada orang tua, terutama ibu, ibu, ibu kemudian ayah. Untuk note kali ini, saya kutipkan beberapa hadits dan riwayat berkaitan dengan hal tersebut.

Berbakti kepada orang tua termasuk amal yang paling dicintai Allah,

Dalam hadits lain disebutkan, Abdullah Ibnu Mas’ud RA berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah SAW: “Amal perbuatan apakah yang paling disukai Allah?” Rasulullah SAWmenjawab: “Shalat pada waktunya”. Aku bertanya kembali “Kemudian apa lagi? :”Berbaktilah pada kedua orang tua”. Aku bertanya lagi:”Kemudian apa lagi?” Rasulullah SAWmenjawab: “Berjihadlah di jalan Allah”. (HR. Imam Bukhari)

Cara berbakti banyak ragamnya, di antaranya dengan mengasihi dan merawat mereka ketika masih hidup, mendoakan ketika telah meninggal. Bisa juga dengan menyambungkan silaturahim dengan keluarga dan sahabatnya.

Pahala berbakti tidak terputus dengan matinya kedua Orangtua. Dalam suatu hadits dikatakan, “Tatkala kami sedang duduk di hadapan Rasulullah saw. Tiba-tiba datanglah seorang lelaki dari kalangan Bani Salamah. Lelaki itu bertanya:”Wahai Rasulullah, apakah baktiku terhadap kedua orang tuaku masih tetap ada (pahalanya), jika kulakukan sesuatu sebagai baktiku terhadap mereka berdua sesudah mereka tiada?”. Rasulullah menjawab:”Ya, masih ada, yaitu mendoakan dan memohonkan ampunan untuk mereka, menunaikan pesan-pesannya, dan mengadakan silaturahim kepada orang-orang yang selalu dihubungi oleh kedua orang tuanya, serta memuliakan kawan-kawan dekat mereka. (HR. Abu Daud, Ibnu Majah)

Dan kisah lainnya yang menceritakan, bahwa pada suatu hari khalifah ‘Umar RA kedatangan seorang lelaki. Lelaki itu berkata kepada sang khalifah: “Sesungguhnya aku mengurusi ibuku sebagaimana ia mengurusiku semasa aku masih kecil. Apakah dengan demikian berarti saya telah menunaikan kewajibanku terhadapnya?”. Khalifah ‘Umar RA menjawab: “Tidak”. Lelaki itu kembali bertanya: “Mengapa demikian”. Khalifah ‘Umar RA menjawab: “Sesungguhnya ibumu mengurusi dirimu dengan harapan agar engkau hidup, sedangkan engkau mengurusi dia dan engkau mengharapkan kematiannya.

Demikianlah Islam memuliakan kedudukan orangtua di hadapan anaknya. ‘Abdullah Ibnu Umar telah menceritakan suatu riwayat bahwasanya Rasulullah SAW pernah bersabda: “Keridhaan Rabb terletak pada keridhaan kedua orangtua, dan kemurkaan Rabb terletak pada kemurkaan kedua orangtua”. (HR. Turmudzi).

Mari belajar untuk terus berbakti kepada orang tua.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 9,60 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

E Hamdani
Seorang lelaki dusun, eks pedagang kerupuk singkong keliling yang bercita-cita menjadi jurnalis. Pernah magang menjadi wartawan Harian Solopos, tetapi ternyata menjadi wartawan bukanlah jiwanya. Maka hobi menulisnya disalurkan dengan menulis artikel lepas di beberapa media dan menulis buku.

Lihat Juga

Cinta Sebagai Energi Kemenangan