Home / Pemuda / Puisi dan Syair / Jati Dirimu, Yang Kurindukan

Jati Dirimu, Yang Kurindukan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com

Apa kabar sahabatku?
Bagaimana kabar imanmu?
Tidakkah kau lihat keadaan sekitar?

Ketika rembulan cenderung redup, sang mawar kian berjatuhan, pasir-pasir pantai terdampar di daratan, ranting-ranting dan dedaunan segar berguguran, gdanyaedung-gedung tinggi kian menampakkan puingnya, burung-burung yang kicauannya indah pun kini tak sedikit pun mengeluarkan gemericik alunan na

Ada apa sebenarnya?
Apa yang terjadi??

Kuingin kembali melihat tajamnya duri sang mawar dan kuingin kembali melihat kerasnya tantangan untuk melihat keindahan edelweiss.

Sahabat, ke manakah intan berkilauan itu?
Ke mana sang edelweiss yang sangat terjaga?
Begitu mudahkah mereka sekarang didapatkan?

Tak ada lagikah istilah pendakian gunung yang terjal, melewati badai, angin yang mematikan, udara yang membekukan tubuh, mempertaruhkan jiwa, demi sang edelweiss yang bertengger manis di atap gunung?

Tak ada lagikah istilah penyelaman laut menantang karang-karang ganas demi mendapatkan sebuah cangkang yang di dalamnya bersembunyi sang mutiara?
Keadaan seperti apa ini duhai sahabat?

Sebegitu parahkah peradaban yang terbentuk sekarang?
Sebegitu cepatkah penyebaran kondusif pesta kemaksiatan?

Aku kecewa sahabat, diriku putus asa, batinku menangis
Bukan karena menatapi kondisi yang ada
Bukan pula untuk meratapi kekuasaan kebatilan yang sekarang berjalan sombong di atas lemahnya kebajikan?

Ku menangis karena sedikit bergesernya komitmenmu
Karena dirimu yang terlalu cerdas dan supel mengikuti sistem digitalisasi dunia
Dunia yang semakin membuncahkan keahliannya
Kemahiran dalam menutup mata batin kita
Membuat derasnya arus teknologinya seakan-akan makanan lezat yang sangat sayang untuk dilewatkan
Nikmatnya keindahan dan kebahagiaan semu

Aku rindu perangaimu dahulu
Pakaian taqwamu yang lebar membungkus indahnya dirimu
Aku rindu dengan kedewasaan pikiranmu
Dengan segala kerendahan hatimu dalam beramal
Dan tegasnya sikapmu dalam mengeksekusi

Sepenggal cuplikan nasihat dariku:
“Walau awan semakin pekat
Walau air semakin keruh
Walau karang semakin terjal
Walau udara semakin membekukan
Dan walau badai semakin mematikan”

Jangan biarkan konteks jati diri ini
Diwarnai oleh segerombolan kebatilan
Yang hanya membawa kebahagiaan semu dunia
Namun mendatangkan mudharat akhirat

Doaku selalu membersamaimu duhai sahabatku
Mari kita berjalan beriringan kembali
Dengan satu hentakan langkah yang mantap
Yang membuat iri para penghuni langit dan bumi

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 9,83 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Student of Universitas Bakrie, Accounting Study Program. Aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). Aktivis LDK (Lembaga Dakwah Kampus) Basmala Universitas Bakrie. Member of Muamalah Community. Seorang hamba yang tidak sempurna namun selalu berusaha menjadi sempurna di mata Tuhan.

Lihat Juga

Berdiri Bersamamu