13:28 - Kamis, 02 Oktober 2014

Dai yang Mujahid, Asy-Syahid Muhammad Farghali (bagian ke-3)

Rubrik: Sejarah Islam | Oleh: Tim Kajian Manhaj Tarbiyah - 13/06/12 | 08:30 | 23 Rajab 1433 H

Syaikh Muhammad Farghali (kispa.org)

Kepahlawanannya

dakwatuna.com - Salah satu karya kepahlawanan Syaikh Farghali di Palestina adalah, ketika ia keluar bersama delapan orang Ikhwan Mujahidin ke belakang garis perbatasan Yahudi. Mereka lalu menyelusup memasuki ke wilayah jajahan Yahudi sebelum fajar menjelang. Syeikh Muhammad Farghali naik ke tempat paling tinggi lalu mengumandangkan adzan subuh. Mendengar kumandang adzan tersebut, pasukan Yahudi mengira bahwa Ikhwanul Muslimin telah menguasai wilayah mereka sejak malam hari, sehingga mereka segera lari tunggang-langgang meninggalkan benteng pertahanan mereka.

Pagi keesokan harinya, Mujahidin Ikhwan lalu menyerahkan wilayah jajahan tersebut kepada pasukan Mesir tanpa harus menggunakan senjata atau tetesan darah. Seperti itulah keberanian Syaikh Muhammad Farghali. Ditambah lagi dengan ketakutan Yahudi terhadap pasukan Ikhwanul Muslimin.

Pada tahun 1951, pemerintahan Mesir menghapuskan perjanjian dengan Inggris yang disepakati pada tahun 1936. Namun Inggris memandang rendah pembatalan perjanjian itu. Syaikh Farghali bersama Ikhwan kembali memasuki medan perang dengan penuh semangat, ketulusan dan keberanian melawan musuh di atas pesisir Terusan Suez, hingga membuat Perdana Menteri Inggris ketika itu, Winston Churchill mengeluarkan statemen dan pernyataannya yang terkenal di London. Ia berkata, “Ada satu elemen baru yang sekarang turut terlibat dalam peperangan.”

Peperangan hebat terus berkecamuk antara relawan Mesir dengan pasukan imperialis Inggris di atas Terusan Suez, kamp-kamp at-Tal al-Kabir, di barak-barak pasukan Inggris, di Port Sa’id, Ismailiyah, dan Suez. Di sinilah darah para syuhada mengalir dan ruh mereka kembali ke haribaan Tuhannya.

Realitas ini membuat Inggris semakin yakin bahwa mereka takkan mungkin berdiam semakin lama di hadapan unsur baru yang terdiri dari relawan Ikhwanul Muslimin. Keberanian dan kepahlawanan yang tampak pada diri Syeikh Muhammad Farghali sungguh menciptakan rasa takut dalam diri pasukan Inggris. Sehingga mereka mengeluarkan sayembara dengan hadiah sangat besar bagi siapa pun yang dapat menangkap Syeikh Farghali, hidup atau mati. Tapi usaha mereka sia-sia belaka.

Dai yang sarat pengalaman ini, Syaikh Muhammad Farghali adalah ketua Ikhwanul Muslimin di Distrik Ismailiyah, dan didukung oleh tangan kanannya yang senantiasa membantunya, mujahid pemberani Yusuf Thal’at. Kedua orang inilah yang menjadi sumber ketakutan bagi kekuatan pasukan imperialis Inggris di Terusan Suez.

Abdul Nasser Berusaha Menciptakan Fitnah Perpecahan.

Hal ini dinyatakan oleh ustadz Kamil Syarif di dalam bukunya ‘al-Muqowamah as-Sirriyah fii Qanaat Suez’ (Perlawanan Rahasia di Terusan Suez), “Pertama kali saya mengenal Syaikh Muhammad Farghali pada hari dimana ia menemani Imam Syahid Hasan al-Banna dalam perjalanannya di wilayah pertempuran di Palestina. Saat itulah hubungan kami menjadi erat, apalagi ketika kami bekerja bersama-sama dalam perang Palestina, dan pengetahuanku yang kian dalam tentang dirinya membuatku semakin kagum padanya.”

Sisi kebaikan yang dimilikinya membuat Anda harus menghormati dan menghargainya, yang juga menjadi kunci kepribadiannya adalah kebersihan diri dari dosa-dosa kecil, dari berbagai permusuhan, dan kebersihan diri dari segala sesuatu yang mengandung aib. Dia memiliki perhatian sangat besar pada reputasi dakwah dan sistemnya, serta memiliki kecemburuan besar terhadap kewibawaan dan kehormatan dakwah.

Saya masih ingat, ketika saya bersama Syaikh Muhammad Farghali mewakili Ikhwan mengikuti pertemuan di kantor Mayor Abdul Nasser yang ketika itu menjabat sebagai menteri Luar Negeri dalam kabinet Muhammad Najib. Pertemuan itu juga dihadiri sejumlah Perwira Revolusi, antara lain adalah: Abdul Hakim Amir, Shalah Salim, dan Husain Kamaluddin. Para perwira revolusi itu rupanya ingin mengadu domba antara Syaikh Farghali dengan Mursyid ‘Aam, Hasan al-Hudhaebi dengan menyebutkan jihad Syaikh Farghali di Palestina, Terusan Suez dan Nil, ketimbang pribadi al-Hudhaebi.

Mendengar puja-puji yang ditujukan kepadanya, Syaikh Farghali segera memutuskan pembicaraan mereka dan berkata penuh amarah, “Kalian harus mengetahui bahwa orang yang kalian bicarakan itu adalah pemimpin kita, dan pimpinan jamaah ini sekaligus. Karena itu saya menganggap bahwa pembicaraan kalian ini adalah penghinaan terhadap jamaah seluruhnya, dan kepada diriku secara khusus. Kalau cara kalian seperti ini, niscaya kalian takkan sampai pada tujuan yang dikehendaki sedikit pun.” Kalimat itu sudah cukup untuk meyakinkan mereka bahwa mereka berada di hadapan sosok laki-laki yang pendirian teguh, dan pribadi yang kuat. Mereka akhirnya beralih pada pembicaraan yang lain.

Syaikh Muhammad Farghali bukan dari jenis tokoh agama yang hanya bergantung pada formalitas sambil mencari kedudukan dan jabatan. Tapi dia adalah mujahid sejati. Cukup bagi kita saat ia rela meninggalkan pekerjaan dan keluarganya menuju Palestina bersama mujahidin Ikhwan. Dan ketika perang Suez berkecamuk, sekali lagi ia rela tinggalkan keluarganya dan bergabung dengan para mujahidin.

Kamil Syarif melanjutkan tulisannya dalam buku yang sama, “Ketika Inggris mulai memprovokasi penduduk Terusan Suez dan melakukan kezhaliman terhadap manusia, demonstrasi massa pun terjadi di seluruh distrik. Sehingga digelar sebuah kongres besar di Ismailiyah dipimpin oleh Syaikh Muhammad Farghali yang memutuskan untuk melakukan perlawanan dan penyerangan terhadap pasukan Inggris dengan kekuatan yang mereka miliki. Menggebah mereka di tempat persembunyian dan di tangsi-tangsi militer mereka.”

Syaikh Farghali dalam kapasitasnya sebagai ketua kongres, lalu membawa keputusan tersebut ke kantor sekretariat Umum Ikhwanul Muslimin di Kairo. Sekaligus memaklumatkan kepada seluruh pegawai yang bekerja di Terusan Suez agar melakukan pemogokan umum. Juga kepada para pedagang yang selama ini mensuplai bahan makanan dan perbekalan untuk pasukan Inggris agar menghentikan pengiriman barang. Semuanya bersatu bersama mujahidin Ikhwanul Muslimin untuk melawan dan memerangi Inggris.

Dalam peperangan tersebut, pasukan Mujahidin Ikhwan berhasil menewaskan prajurit Inggris dan melukai mereka dalam jumlah besar, selain menghancurkan tangsi-tangsi militer, jembatan-jembatan, tank, dan kendaraan lapis baja. Serangan tersebut membuat pasukan Inggris ketakutan dan mengumumkan keadaan darurat, serta melarang para prajuritnya keluar dari kediaman mereka setelah matahari tenggelam. Wibawa mereka segera runtuh di hadapan rakyat Mesir. Sehingga anak-anak kecil pun melempari mereka dengan bebatuan. Sebagian dari pasukan militer Mesir mulai bersemangat dan bergabung bersama Ikhwan dengan melatih para pemuda cara menggunakan peralatan perang dan mengajari mereka strategi peperangan.

Secara pribadi, saya juga berkesempatan menghadiri beberapa kali pertemuan yang di antaranya berlangsung di rumah Syaikh Muhammad Farghali, dan dihadiri sejumlah perwira Mesir dan pemimpin Ikhwanul Muslimin. Sementara Syaikh Farghali dan Yusuf Thal’at bersama beberapa orang kawan mereka dianggap oleh Inggris sebagai orang yang paling berbahaya. Kedua orang ini diawasi gerak-geriknya oleh intelijen dan mata-mata bayaran Inggris.

– Bersambung…

(hdn)

Tentang Tim Kajian Manhaj Tarbiyah

Lembaga Kajian Manhaj Tarbiyah (LKMT) adalah wadah para aktivis dan pemerhati pendidikan Islam yang memiliki perhatian besar terhadap proses tarbiyah islamiyah di Indonesia. Para penggagas lembaga ini meyakini bahwa ajaran… [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Hendra

Topik:

Keyword: , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (2 orang menilai, rata-rata: 10,00 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
71 queries in 2,211 seconds.