Home / Reza Arga Putra

Reza Arga Putra

Lahir bulan Januari 1990 di Jakarta. Ketertarikan dengan dunia tulis-menulis berawal dari kebiasaan menulis berita, membaca buku dan kuliah di jurusan jurnalistik. Menyelesaikan pendidikan di SMA Negeri 72 Jakarta. Kemudian, memasuki dunia perkuliahan S1 di Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Sehari-harinya aktif di Komunitas sosial di Jakarta, organisasi kampus, dan menulis. Menyukai dunia cerpen dimulai dari organisasi Forum Lingkar Pena Ciputat, yang setiap akhir pekan diadakan pelatihan menulis dengan mentor berpengalaman. Sudah menulis dan menghasilkan karya melalui perlombaan cerpen yang diadakan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK Award) UIN Syahid Jakarta dengan judul “Hukum Telah Mati”, dan perlombaan Essay yang diadakan dari organisasi Islam di Universitas Negeri Jakarta dengan judul “Konsistensi Pribadi Qur’ani Di Bulan Ramadhan”. Agama Islam, hobi membaca, memasak, tenis meja dan menonton film. Alamat di Kelurahan Pondok Bambu, Jakarta Timur.

Pecinta Musik, Itu Saja

Bila kita bisa menanam petikan berikut ini di dalam hati, sejatinya dengan perlahan aliran musik apapun, bisa ditinggalkan. “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (Qs ar-Ra’d: 28). Karena itu, laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda, kaya ataupun miskin, tak dibenarkan menjadikan musik sebagai hobi atau makanan sehari-hari.

Baca selengkapnya »

Dua Kodi Kartika

Gerakan seorang perempuan yang tertuang dalam buku ini, seakan merupakan cermin gerakan dari banyak gerakan perempuan. Aksi yang diterapkan oleh Bunda memunculkan sinergi antar sesama manusia. Bagaimana satu kesatuan bisa saling bermanfaat dalam konteks yang sama. Kekuatan dahsyat yang keluar dari dalam diri Bunda membuat mental dan daya tahan teruji dengan baik. Bermula dari inisiatif sang penulis untuk menulis buku ini, semoga kita dihindarkan dari berbisnis dengan cara “sesat” dan menambah sumber daya manusia yang mumpuni.

Baca selengkapnya »

Konsistensi Pribadi Qurani di Bulan Ramadhan

Dengan mendengarkannya saja, bisa mendapat pahala. Terlebih ditambah dengan membacanya, di dalam maupun di luar shalat. Tak dapat dipungkiri, kesibukan sehari-hari dijadikan alasan sulitnya untuk membaca al-Quran. Ketika seseorang sudah sulit menemukan nama al-Quran dalam hati, sebaiknya ia bertanya dengan diri sendiri, “Di manakah letak imannya saat itu?”

Baca selengkapnya »