Home / Narasi Islam / Resensi Buku / Dua Kodi Kartika

Dua Kodi Kartika

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Cover buku "Dua Kodi Kartika".
Cover buku “Dua Kodi Kartika”.

Judul: Dua Kodi Kartika
Penulis: Rendy Saputra
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan: 1, 2015
Tebal: xiii + 281 halaman
ISBN: 978-602-03-1444-0

Berawal Dari Dua Kodi

dakwatuna.com – Eksistensi seseorang dalam berbisnis saat ini terlihat semakin terbuka ruang hidupnya. Keberdayaan masyarakat berpotensi dapat terus berkembang dengan membuat sejarah dan tidak didasari oleh gaya hidup yang hedonis dengan menjalankan bisnis tanpa keraguan sedikit pun. Melalui pembelajaran yang tertuang dalam buku ini, sumber daya manusia yang ada dapat terus termotivasi untuk terus mau bekerja keras mengarungi kehidupan.

Salah satu hal penting di dalam buku ini yaitu ketika menjalani usaha yang seperti didasari dengan metode bin-in solution. Saling pengertian antara satu dengan yang lain hingga menjadikan berjalannya sebuah usaha dengan baik. Keteguhan hati yang tergabung antara kekuatan dan kesabaran menjadikan berkembangnya usaha tersebut. Bak seorang lawan dengan teman yang sulit menjadi satu. Bila sudah berujung pada kesalahan, tak boleh lepas dari tanggung jawab. Buku ini mengingatkan kita bahwa belajar itu penting terlebih bila ingin mencapai kesuksesan, namun tidak dilalui dengan cara yang instan.

Karya CEO ( Chief Executive Officer ) Keke Group ini, termasuk di dalamnya ada Yayasan Keke Berdaya, Berdaya Tour dan Komunitas Muda Mulia, menyumbang pengalaman dan pengetahuan makna dari kehidupan, terutama dari pemilik perusahaan tersebut. Dua Kodi Kartika, buku yang mengisahkan perjuangan seorang perempuan dalam berbisnis. Bisnis yang dirintis oleh Ika Kartika atau Bunda beserta sang suami ini, dirangkum secara simultan dan multidisplin.

Pertama, buku ini mengisi puluhan kisah yang terangkum dalam perjalanan awal seorang Ika Kartika hingga memiliki brand yang dinamakan Keke Busana. Bermula dengan ketertarikan Bunda merangkul Rendy Saputra menjadi CEO, hingga diminta untuk mengembangkan bisnis tersebut. Perspektif penjualan yang digerakkan, fokus kepada menjual produk, tidak didasarkan kepada popularitas semata. Bagaimana membuat sosok figuritas menjadi minoritas atau tidak dipentingkan.

Kedua, buku ini mengungkap perjalanan sepasang suami istri yang menjalani hidunya sebagai pekerja di perusahaan dan memilih berbisnis sebagai pilihan terakhirnya. Bunda, memulai bisnis sejak era reformasi. Karena adanya persaingan dan peristiwa yang terjadi pada saat itu, ia akhirnya menemukan kebijakan untuk membantu teman sang suami yang memiliki usaha konveksi. Memesan pakaian dengan jumlah dua kodi atau empat puluh buah. Dari dua kodi itulah, terus berkembang hingga memiliki agen yang jumlahnya ratusan dan ribuan outlet di seluruh Indonesia.

Ketiga, yang tidak kalah penting, dalam buku ini juga diceritakan kisah-kisah spiritual yang dilakukan Bunda selama hidupnya. Tidak ingin menggunakan hartanya hanya untuk tujuan dunia saja. Namun juga untuk meluruskan niat hidup, menjadikan pekerjaan sebagai pengabdian dan ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa (hlm 272). Selama perusahaan bisa memberdayakan manusia, di situlah asas saling kebermanfaatan bergerak dengan sistematis. Dijelaskan pula dalam buku ini bahwa dengan bisnis tersebut, masyarakat yang belum terjamah oleh pekerjaan, bisa diberdayakan dengan baik.

Gerakan seorang perempuan yang tertuang dalam buku ini, seakan merupakan cermin gerakan dari banyak gerakan perempuan. Aksi yang diterapkan oleh Bunda memunculkan sinergi antar sesama manusia. Bagaimana satu kesatuan bisa saling bermanfaat dalam konteks yang sama. Kekuatan dahsyat yang keluar dari dalam diri Bunda membuat mental dan daya tahan teruji dengan baik. Bermula dari inisiatif sang penulis untuk menulis buku ini, semoga kita dihindarkan dari berbisnis dengan cara “sesat” dan menambah sumber daya manusia yang mumpuni.

 

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Lahir bulan Januari 1990 di Jakarta. Ketertarikan dengan dunia tulis-menulis berawal dari kebiasaan menulis berita, membaca buku dan kuliah di jurusan jurnalistik. Menyelesaikan pendidikan di SMA Negeri 72 Jakarta. Kemudian, memasuki dunia perkuliahan S1 di Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Sehari-harinya aktif di Komunitas sosial di Jakarta, organisasi kampus, dan menulis. Menyukai dunia cerpen dimulai dari organisasi Forum Lingkar Pena Ciputat, yang setiap akhir pekan diadakan pelatihan menulis dengan mentor berpengalaman. Sudah menulis dan menghasilkan karya melalui perlombaan cerpen yang diadakan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK Award) UIN Syahid Jakarta dengan judul Hukum Telah Mati, dan perlombaan Essay yang diadakan dari organisasi Islam di Universitas Negeri Jakarta dengan judul Konsistensi Pribadi Qurani Di Bulan Ramadhan. Agama Islam, hobi membaca, memasak, tenis meja dan menonton film. Alamat di Kelurahan Pondok Bambu, Jakarta Timur.

Lihat Juga

Financing Current Assets (Pendanaan Aktiva Lancar)